RENUNGAN

Lain di Bibir, Lain di Hati?

Hari Minggu Prapaskah I (6 Maret 2022)

Ul. 26:4-10; Mzm. 91:1-2,10-11,12-13,14-15; Rm. 10:8-13; Luk. 4:1-13.

DITERBITKAN OLEH TIM KERJA KITAB SUCI – DPP. SANTO YOSEP PURWOKERTO

“Firman itu dekat padamu, yakni di dalam mulut dan di dalam hatimu!“ (Rm. 10:8).

Bapak-Ibu, Saudara-saudari yang terkasih.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma (Bacaan Kedua) mengatakan : “Firman itu dekat padamu, yakni di dalam mulut dan di dalam hatimu!“ (Rm. 10:8). Menjadi refleksi bagi kita semua, apakah sudah sinkronkah mulut (bibir) dan hati kita? Apakah tindakan kita sudah melalui banyak pertimbangan/sesuai keinginan hati?  Seperti syair lagu : lain di bibir, lain di hati.

Pendalaman Iman kita kenal sebagai bagian dari masa prapaskah. APP 2022 tahun ini diperkenalkan istilah baru ‘percakapan rohani’, di mana kita diajak untuk berjalan bersama dalam mewujudkan keselamatan umat manusia. Kita yang tengah berziarah di dunia ini sekaligus juga mempunyai misi untuk menghadirkan Kristus dalam keseharian kita, sesuai talenta / rahmat yang diberikan Allah sendiri. Masa prapaskah, bagi saya adalah masa menyendiri secara rohani. Masa di mana selama 40 hari merenungkan diri, seperti Yesus yang menyendiri di padang gurun mengawali misi keselamatan Allah bagi dunia. Yesus menyendiri bukan sengaja menawarkan diri untuk dicobai Iblis. Yesus ke padang gurun mau menunjukkan ke pada kita, bahwa inilah bagian peziarahan kehidupan umat manusia. Misi Yesus adalah Misi Allah Bapa.

Ibu-Bapak, Saudara-i yang terkasih di dalam Kristus.

Selama masa menyendiri ini (masa prapaskah), adalah kesempatan bagi saya dan juga bagi kita semua untuk mensinkronkan apa yang ada dalam hati dan apa yang keluar dari mulut kita. Hati tempat kita menghadirkan dan bertemu dengan Yesus, sedang mulut tempat kita membawa diri dan bergaul dengan sesama. Akan menjadi sulit bila ke dua tempat ini (bibir/mulut dan hati), kita pisah-pisahkan. Santo Paulus mengatakan : “Sebab jika kamu mengaku dalam hati bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulutnya orang mengaku dan diselamatkan” (Rm. 10:8-9). Tapi ternyata dalam hidup sehari-hari, kadang bahkan sering kita bertindak tidak sesuai hati/kata hati. Kepuasan diri, kesenangan pribadi menjadikan kita lupa akan arah tujuan akhir hidup kita. Kita seakan berjalan sendiri dalam kebersamaan. Dalam keluarga, terlalu dominan : masa depan anak-anak harus sesuai keinginan orang tua; istri kerja sendirian dalam menghidupi keluarga; suami lebih mementingkan karier. Dalam bermasyarakat kurang peduli, suka ngegosip, suka iri melihat kemapaman tetangga, tidak pernah terlibat dalam kegiatan RT. Dalam hidup menggereja terlalu mengejar penghargaan, cari muka dengan romo, sok alim, dll dstnya.

Ibu-Bapak, Saudara-i yang terkasih di dalam Kristus.

Marilah kita melangkah bersama, berjalan bersama dalam masa prapaskah ini, saling memahami dan menyadari serta mengakui kerapuhan, kelemahan mulai dari diri sendiri dan menggandengkan tangan bersama orang sekitar kita. Kerendahan hati, keikhlasan budi dan kehendak yang kuat untuk menghadirkan Allah dalam hati; Menyadari penuh dengan kesadaran iman, percaya kepada kehendak-Nya. Membuka hati akan kekurangan dan kesalahan orang lain, adalah wujud nyata sebagai umat Allah yang berziarah dan misioner.

Santo Paulus menyerukan : “Sebab barang siapa berseru kepada nama Tuhan, ia akan diselamatkan” (Rm. 10:13). Dalam hidup pelayanan di manapun, kapanpun dan bagaimanapun semestinya sikap demikian yang kita ciptakan, yaitu sikap menyelaraskan kemauan hati dan kehendak bibir/mulut. Sikap munafik dan pura-pura adalah sikap yang iblis ciptakan. Yesus telah memberikan teladan-Nya  saat dicobai di padang gurun. Kita pun, dalam masa menyendiri atau masa retret agung ini, kiranya tidak mencobai diri sendiri untuk mempertentangkan kata hati dengan suara mulut. Sama di hati, sama di mulut. Dengan demikian kita sendiri mengembalikan arah tujuan hidup kita ke jalan yang lurus dan benar, jalan menuju keselamatan yang telah Yesus sendiri janjikan.

“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kis 4:12).

Selamat menapaki retret agung ini dengan hati dan bibir (mulut) hanya untuk kemuliaan Allah Bapa. Semoga demikian. Berkah Dalem.

Yulius Yerry Wenur

Lingk. Santo Agustinus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.