SEJARAH PAROKI ST. YOSEPH PURWOKERTO

GEREJA PERDANA (1964 – 1972)

Tanggal 14 April 1964 pada Hari Raya Paskah, Mgr. W. Schoemaker, MSC mengeluarkan kebijakannya bahwa umat Katholik wilayah Purwokerto Timur akan dijadikan paroki yang persiapan, perencanaan dan pembangunan gereja serta pewartaan Injil, pengajaran agama, pembinaan dan pendampingan hidup beriman dan menggeraja umat dipercayakan kepada Rm. Theodorus J. Padmowidjojo, MSC. Beliau seorang imam yang cerdas, sederhana, kebapaan, tetapi tegas dan berwibawa, berjiwa gembala dengan semangat hati seorang MSC, mudah bergaul sehingga kehadiran dan sapaan beliau dikenal dan diterima banyak orang. Ia seorang Misionaris Hati Kudus pribumi yang pertama dan yang sangat menghayati bahkan mendarah daging pada dirinya kata-kata Yesus ini “Discite a me, quia mitissum et humilis corde” (Belajarlah dari saya yang lemah-lembut dan rendah hati)(Matt 11:29). Dan motto beliau adalah “Ama nesciri et pro nihilo reputari”(Hendaknya suka tidak dikenal, lagi dianggap tak berharga). Mungkin inilah misi terdalam yang beliau tanamkan pada umat gembalaannya sebagai arah dasar, landasan dan kekuatan hidup beriman umat Katolik Purwokerto-Timur

Sejak kebijakan Uskup Purwokerto itu dikeluarkan dan diumumkan kepada umat Katolik Purwokerto Timur, Rm Th J Padmowidjojo mulai mengambil langkah nyata memikirkan pembelian tanah dan segera membangun gereja. Untuk itu dibutuhkan dana yang tidak sedikit karena Uskup Purwokerto minta agar umat Katolik Purwokerto Timur membangun secara mandiri. Rm Padmo minta kesediaan umat untuk mencari dana dan bahan-bahan untuk pembangunan gereja. Beliau didukung oleh awam yang ada saat itu, yang memiliki semangat yang berkobar-kobar dan dengan sungguh-sungguh mau bekerjasama membantu Rm Padmo untuk mewujudkan adanya gedung gereja yaitu Bpk A Choeng Yoek Kie, Sie Tjin Hui dan L. Lie Lian Ik, yang kemudian disusul Bapak Hok Djien, Liem Soey Tjwan, Tjoa Keng Hien, Go Tiauw Tjoe, E Liem Kwa Liang dan Johny Linggadjati. Mereka merupakan awam pioner penuh ketulusan hati dan merupakan tim work yang tak kenal lelah bekerja keras bersama-sama.

Sementara belum adanya gedung gereja, padahal umat semakin bertambah dan semangat menggerejanya terus bertumbuh, kebaktian pada hari Minggu dan hari-hari biasa sudah dibutuhkan tempat perayaan misa kudus. Dan secara darurat keluarga Bpk. P Lie Lian Ik merelakan rumahnya untuk tempat kebaktian dan baru kemudian ke Gedung Balai Pertemuan Pradjurit dan Umum (BPPU) lalu ke serambi SD. St. Yoseph.

Sejalan dengan itu pula pertambahan umat dari bulan ke bulan semakin meningkat dan pengajaran katekumen dilakukan di rumah Bpk A. Choeng Yoe Kie, sementara itu pelajaran agama untuk anak-anak SD juga dilakukan di SD. St. Yoseph, dan bahkan banyak orang dewasa minta ikut pelajaran agama Katolik mengikuti anak-anak mereka.

Natal tahun 1968 pembangunan gereja dinyatakan selesai dan umat menggunakannya untuk perayaan misa malam Natal. Pada tanggal 26 Januari 1969 Mgr. W. Schoemaker, MSC mentahbiskan gereja Purwokerto Timur dengan member nama Pelindung St. Yoseph. Sejak saat itu resmi umat Katolik Purwokerto Timur disebut Paroki St. Yoseph dengan alamat Jln. Kenanga No. 24 Purwokerto-Timur.

Dalam perkembangan perdana paroki St. Yoseph, Rm. Padmowidjojo MSC dibantu oleh berturut-turut Rm. Y Suwatan, MSC, sekarang Uskup Keuskupan Manado, Rm. Y. Hendro Wiyono, MSC dan Rm. M. Adi Sutarno MSC sampai dengan pengalihan paroki kepada para imam Tarekat Maria Oblat Immaculata (OMI).

PENGGEMBALAAN IMAM-IMAM OMI (1972-1992)

Sejak tahun 1992 sekitar Paskah, penggembalaan umat paroki St. Yoseph dilayani oleh para imam tarekat OMI. Berkat kerja samanya yang baik dengan para Bruder FIC, suster OP dan Awam paroki serta tokoh-tokoh umat, kegiatan paroki berkembang pesat meliputi Purwokerto Timur, Sokaraja, Banyumas dan Krumput yang pada saat itu merupakan wilayah pastoral Paroki St. Yoseph. Karya-karya OMI yang begitu cepat merebak meliputi bidang sosial karitatif bagi masyarakat sekitar dengan bantuan makanan bergizi, dana fakir miskin, pelayanan kesehatan Adidharma, kerja sama dengan suster OP, sebut saja Sr. M. Elisabeth OP, perhatian dan pendampingan kaum muda remaja (Mudika) dengan adanya grup band Mudika pimpinan Sdr. Robertus dari Stasi St. Lukas Sokaraja, pembinaan kaum muda di bidang seni drama dan paduan suara bekerja sama dengan bruder FIC, Br Gabriel Subianto dan Br. Yosep, latihan-latihan ketrampilan kerjasama dengan Wanita Katholik paroki pimpinan ibu A Choeng, pembentukan kring-kring (Lingkungan) untuk peningkatan pelayanan pastoral, perhatian yang lebih intensif ke stasi-stasi Sokaraja, Banyumas dan Krumput dengan kunjungan pengajaran agama dan katekese.

Dalam perjalanan kemudian, kegiatan di lingkungan gereja maupun sosial kemasyarakatan, selain para awam tersebut di atas, juga diperkuat oleh awam aktivis lainnya dari lingkungan ABRI dan instansi antara lain, Bapak dan Ibu Hardjono, Harsono, P. Hensada, Simamora,Ir. J.Djanuar , Ir. Suryadi, yang sekaligus menjembatani hubungan eksternal paroki dengan pemerintah, instansi dan masyarakat luas. Dengan terbentuknya Dewan Pastoral Paroki sejak tahun 1974, juga telah memungkinkan paroki berperan aktif dan lebih dinamis dalam beberapa bidang pelayanan pastoral.

Setelah meletakkan dasar-dasar umum di tingkat komunitas basis, perkembangan selanjutnya adalah membangun gereja baru yang lebih terbuka yang diprakarsai Rm. Pat Mac Anally OMI (1982-1990), yang disusul pembangunan gedung pertemuan sebagai gedung multi guna.Selain perhatian pada gereja paroki, gereja Stasi Sokaraja dan Stasi Banyumas juga mendapat perhatian para imam OMI sesuai kebutuhan. Demikian pula pembangunan kawasan Kaliori dengan adanya tempat ziarah dan jalan salib, rumah retret Maria Immaculata, mouseleum tempat makam para imam keuskupan serta pemakaman umum umat Katolik. Demikian pula area peternakan ulat sutera dan pabriknya sebagai penunjang pembiayaan kawasan Kaliori. Berdirinya sekolah SMA Yos Sokaraja dan Balai Pengobatan Yos Sudarso di Sokaraja dan Teluk juga menandakan karya gemilang yang patut dikenang. Kesemuanya merupakan hasil semangat kerjasama dan kebersamaan serta komitmen antara imam OMI, biarawan-biarawati dan terutama kaum awam paroki.

Selain daripada itu di era penggembalaan para imam OMI berkembang pula gerakan-gerakan rohani di kalangan umat yaitu Marriage Encounter untuk pasutri, Roses, Antioch dan Choice untuk kaum muda remaja serta PD Kharismatik.

PENGGEMBALAAN PASKA OMI

 Selepas masa penggembalaan para imam OMI, paroki St. Yoseph berturut-turut dilayani oleh para imam MSC, Diosesan, MSC-Diosesan ditambah para frater yang menjalani Tahun Orientasi Pastoral. Prakarsa dan sumbangan kaum awam masih tetap berlanjut untuk melengkapi sarana dan prasarana sekitar pusat paroki sesuai kebutuhan untuk peribadatan maupun pembinaan dan pendampingan iman umat.

Beberapa program pemberdayaan kemampuan pastoral umat antara lain dilakukannya Kursus Pelayan Umat (KPU), penambahan jumlah prodiakon untuk menjangkau kebutuhan pelayanan di lingkungan-lingkungan dan Stasi, pembagian wilayah dan pemekaran lingkungan-lingkungan. Demikian pula pembekalan-pembekalan kemampuan pastoral diadakan aneka seminar dengan mendatangkan pembicara-pembicara dari luar paroki. Dalam membangkitkan semangat hidup doa telah diperkenalkan pula offisi pagi oleh P. Canisius Rumondor, MSC, kemudian doa dalam suasana hening dengan Adorasi Sakramen Mahakudus atau Hora Sancta Satu Jam bersama Yesus serta Legio Maria.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s