MEMAHAMI PASTORAL BERBASIS DATA UNTUK MELAYANI UMAT LEBIH BAIK

Penulis: Hipolitus K. Kewuel

Pengantar

Tuntutan kerja professional dalam institusi-institusi dunia profan saat ini, dalam banyak hal telah lama menjadi kebutuhan dasar dalam tata kelola hidup menggereja. Hal ini dibuktikan dengan adanya struktur organisasi gereja yang secara detail telah mengatur segala ihwal kehidupan menggereja mulai dari tingkat dunia, regional, sampai tingkat gereja lokal bahkan keluarga sebagai sel terkecil hidup menggereja. Dengan ini, organisasi gereja katolik menjadi organisasi raksasa yang tidak bisa ditandingi oleh organisasi jenis mana pun. Gereja memiliki struktur organisasi yang kuat dan koordinasi kerja yang sangat rapi dan terkendali. Kebijakan apa pun yang dikeluarkan pemimpin tertinggi gereja katolik di Roma, seketika itu juga dengan mudah terkoordinasi sampai ke organisasi gereja tingkat paling bawah, apalagi saat ini didukung oleh sistem informasi dan komunikasi yang sangat canggih.

Kekuatan organisasi semacam ini sangat mewarnai pola kerja gereja. Apa yang harus dikerjakan oleh umat di tingkat gereja lokal, tidak boleh keluar dari apa yang dikatakan oleh gereja pusat di Roma. Dengan ini, tanpa sadar, mayoritas umat terkondisi untuk berada pada posisi pelaksana dalam program-program gereja. Umat terus dihimbau untuk terlibat dalam program-program yang sudah jadi tanpa banyak mempertimbangkan situasi dan kondisi mereka. Seolah-olah berlaku prinsip bahwa menjadi katolik berarti siap menjadi pelaksana atas apa yang disabdakan gereja melalui petugas-petugasnya. Kondisi ini, belakangan ini dirasakan kurang relevan lagi. Mulai ada perubahan paradigma bahwa umat bukan semata-mata pelaksana, tetapi juga partner yang harus dilibatkan dalam rancang bangun program-program pastoral gereja. Pastoral berbasis data adalah salah satu contoh perubahan paradigma itu.

Apa Maksud Pastoral Berbasis Data?

Pastoral berbasis data yang digalakkan dewasa ini sama sekali tidak berarti bahwa pastoral yang dikerjakan gereja selama ini tidak berbasis data. Pastoral gereja katolik selama ini justru sangat lekat mempraktekkan pastoral ala Yesus yang senantiasa berbasis data karena selalu berupaya menjawab kebutuhan-kebutuhan konkret umat. Berbagai mujizat yang dibuat Yesus selalu ada konteksnya dan selalu ada kebutuhan konkret yang dijawab. Yesus membuat mujizat pertamanya dalam pesta perkawinan di Kana berangkat dari situasi konkret tuan pesta yang kekurangan anggur. Yesus menggandakan lima roti dan dua ikan untuk memberi makan lima ribu orang berangkat dari kenyataan bahwa orang banyak yang mengikutinya itu sudah sejak pagi tidak mendapat makan dan mereka lapar. Yesus menyembuhkan orang sakit, buta, dan lumpuh semata-mata demi menjawab harapan orang-orang malang itu yang merindukan kesembuhan. Demikian seterusnya, kalau kita mau meneruskan menyebut semua aktivitas dan pelayanan Yesus, semuanya tertuju pada pemenuhan kebutuhan konkret umat yang dilayaninya. Dengan cara ini, Yesus sungguh menjalankan segala tugas pastoralnya atas dasar data, atas dasar bahwa apa yang dilakukannya harus menjawab kebutuhan orang yang dilayaninya.

Teladan pastoral Yesus ini, kemudian seperti mengalir secara alamiah dalam sejarah gereja. Kita percaya bahwa Roh Tuhanlah yang bekerja dalam diri para petugas pastoral gereja sehingga apa yang mereka kerjakan betul-betul menjawab kehausan rohani umat. Atas dasar itu, para petugas gereja telah menyusun berbagai program pastoral demi menjawab kebutuhan iman umat. Program-program pastoral keluarga disusun dan dijalankan supaya keluarga-keluarga kristiani bertumbuh dalam semangat keluarga kudus. Program-program pastoral kaum muda disusun dan dijalankan supaya kaum muda katolik bertumbuh dalam iman yang semakin teguh kepada Yesus. Program-program pastoral katekese umat disusun dan dilaksanakan supaya semua umat dibiasakan menimba kekuatan dari Yesus sendiri sebagai sumber segala sumber hidup. Program-program pastoral anak usia dini disusun dan dilaksanakan supaya anak-anak Tuhan yang masih polos itu bertumbuh dalam sukacita dan pengenalan yang benar kepada pribadi Yesus sebagai idola hidup mereka. Demikian seterusnya, kalau kita teruskan menyebut berbagai program pastoral gereja, kita menjadi tahu bahwa gereja melalui para petugasnya telah melakukan banyak hal pelayanan untuk menjawab dan merawat berbagai kebutuhan iman umat.

Dari dua gambaran pelayanan di atas –pelayanan Yesus dan pelayanan pastoral gereja– menjadi jelas bahwa di antara keduanya ada titik persamaan dan titik perbedaan yang kalau dicermati, menjadi jelas mengapa saat ini dibutuhkan gerakan pastoral berbasis data. Persamaannya jelas bahwa keduanya sama-sama berupaya menjawab kebutuhan umat yang dilayani demi semakin berjayanya kerajaan Allah di muka bumi. Perbedaannya, karya-karya keselamatan yang dilakukan oleh Yesus lebih menyentuh pada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmani umat sebagai tanda kehadiran Allah yang nyata di dunia. Yesus dalam hal ini, membuat kombinasi yang sangat serasi antara kebutuhan rohani dan jasmani. Kebutuhan rohani dan pewartaan keselamatan direalisasi lewat kebutuhan konkret yang nampak dan memang dibutuhkan. Dari sana, kebutuhan rohani umat ditantang dan Yesus membiarkan umat yang dilayaninya menentukan sendiri  apa yang terbaik bagi dirinya dalam hal iman. Dalam karya pastoral gereja, umat dilayani kehidupan rohaninya langsung dengan program-program rohani. Dalam hal ini, dari para petugas pastoral gereja dituntut kepekaan ‘lebih’ dalam membaca kebutuhan rohani umat yang dilayani. Kebutuhan rohani umat adalah kebutuhan yang tidak kasat mata sehingga perlu konfirmasi supaya tidak salah alamat atau salah sasaran. Dalam konteks ini, saya kira gerakan pastoral berbasis data mendapat relevansinya dan memang dalam dunia saat ini dibutuhkan. Umat tumbuh dalam dunia yang terus berkembang sehingga kebutuhan-kebutuhannya pun terus berubah termasuk kebutuhan rohaninya. Konfirmasi pada umat sebelum menyusun program pastoral, kini menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Bahkan mungkin sudah saatnya, pengambilan dan pengolahan data umat menjadi bagian tak terpisahkan dari penyusunan program pastoral gereja saat ini.

Bagaimana Memproses Pastoral Berbasis Data?

Kalau disepakati bahwa data umat penting dalam proses penyusunan program pastoral gereja, maka perlu disepakati juga bahwa penyusunan program pastoral gereja perlu dipahami sebagai sebuah rangkaian proses yang harus dikerjakan satu sesudah yang lain. Tahapan kegiatan dimaksud dapat digambarkan sebagai berikut;

Pertama, tahap pengumpulan data. Pada tahap ini, pertama-tama para petugas pastoral gereja perlu berdiskusi tentang data-data apa saja yang dibutuhkan untuk karya pastoral di wilayah gereja lokal mereka. Selanjutnya, perlu ditentukan pula teknik pengumpulan data termasuk instrumen-instrumen apa saja yang harus digunakan untuk mendapatkan data yang valid dan maksimal. Dalam hal ini, para petugas pastoral masing-masing gereja lokal perlu membuka diri untuk kerja sama dengan pihak-pihak lain yang berkompeten terutama berkaitan dengan teknik pengumpulan data dan penyusunan instrument-instrumen terkait.

Kedua, tahap pengolahan data. Setelah data terkumpul, perlu dilibatkan para professional untuk melakukan coding data melalui sistem komputerisasi sampai data tersebut tampil dalam bentuk data kuantitatif. Data kuantitatif ini kemudian menjadi dasar bagi tim pastoral paroki untuk melakukan analisis kualitatif.

Ketiga, tahap analisis data. Pada tahap ini, dibutuhkan keterlibatan para pakar keilmuan tertentu untuk memberikan sumbangan pemikiran berkaitan dengan data-data yang ada. Apa arti data-data itu dan bagaimana data-data itu diterjemahkan untuk selanjutnya menjadi pegangan bagi tim pastoral di dalam menyusun program-program pastoral mereka.

Keempat, tahap penyusunan program. Pada tahap ini, Tim pastoral paroki berdasarkan hasil analisis tim keilmuan, dapat mendiskusikan program-program pastoral hingga menentukan bentuk-bentuk kegiatan yang akan dilaksanakan.

Kelima, tahap pelaksanaan program. Artinya, program yang sudah disusun dengan baik berdasarkan data yang akurat harus dijalankan dengan baik dan konsisten juga untuk menjawab kebutuhan konkret umat.

Keenam, Tahap evaluasi. Setiap pelaksanaan program apa pun, pada saatnya harus pernah dievaluasi untuk melihat kekuatan dan kelemahannya, sekaligus sebagai dasar untuk menyusun program-program kerja pada periode-periode lebih lanjut. Tahap evaluasi bahkan bisa menjadi moment penting untuk perubahan pola pikir dan pola kerja dalam organisasi apa pun, termasuk organisasi gereja.

Implementasi Pastoral Berbasis Data

Mengikuti proses dan tata kerja sebagaimana sudah disebutkan di atas, pastoral berbasis data selalu memulai prosesnya dengan mengumpulkan data. Biar lebih konkret, saya ambil contoh Paroki Ratu Rosari Kesatrian Malang yang telah melakukan pengumpulan data dimaksud dengan cukup detail. Dari hasil pendataan itu, Paroki Kesatrian Malang telah mengelompokkan data umatnya ke dalam beberapa kategori berdasarkan usia, status perkawinan, agama, pendidikan, pekerjaan, status tempat tinggal (status rumah), status domisili, hubungan keluarga, status keterlibatan dalam kegiatan gereja, dan status keikutsertaan dalam organisasi katolik. Masing-masing kategori telah dirinci secara detail sehingga telah menghasilkan data kuantitatif yang mudah dibaca.

Sampai di sini, Paroki Kesatrian Malang telah melewati dua tahap penting, yakni pengumpulan dan pengolahan data. Untuk sampai pada penyusunan program pastoral berbasis data, paroki ini masih harus melewati satu tahap yang cukup menentukan, yakni tahap analisis kualitatif atas data kuantitatif yang sudah ada. Salah satu contoh yang bisa ditampilkan di sini adalah data umat berdasarkan usia sebagaimana tergambar dalam tabel di bawah ini.

Tabel Artikel Memahami Pastoral Berbasis Data

Dari data ini terbaca bahwa jumlah umat Paroki Kesatrian adalah 3460 jiwa. Jumlah persebaran berdasarkan usia adalah sebagai berikut; umat dewasa berjumlah 1541 jiwa, umat usia mahasiswa dan kaum muda pekerja berjumlah 798 jiwa, umat usia kaum muda dan remaja berjumlah 391 jiwa, dan umat anak usia dini berjumlah 405 jiwa. Dengan data usia ini dapat ditentukan prioritas jenis pastoral yang harus dikerjakan di Paroki Kesatrian Malang, yakni pastoral orang dewasa, pastoral kelompok kategorial, pastoral umat lansia, pastoral kaum muda dan remaja, serta pastoral bina iman anak.

Masing-masing kategori umat berdasarkan usia ini perlu didalami karakter dan kebutuhan konkret mereka agar gereja dapat melayani mereka dengan tepat sasaran dan tepat guna. Caranya, para petugas pastoral gereja harus membuka diri untuk mendengarkan masukan dari para profesional keilmuan tertentu guna merumuskan karakter dan kebutuhan khas masing-masing kelompok usia itu. Para profesional itu di antaranya, teolog, ahli pastoral, psikolog, ahli kitab suci, ahli moral, ahli hukum gereja, ahli komunikasi, dan beberapa ahli lain yang dipandang perlu. Dari hasil diskusi dan dengar pendapat dengan para profesional itu, tugas para petugas pastoral gereja adalah mendeskripsikan kharakter masing-masing kelompok usia itu serta mendalami secara konkret kebutuhan-kebutuhan riil mereka. Dari situlah para petugas pastoral gereja mendapat pondasi untuk memikirkan program-program pastoral yang kemudian diturunkan kepada jenis-jenis kegiatan yang akan dijalankan dalam dinamika hidup menggereja di paroki.

Ini berarti perlu disepakati dan menjadi jelas terlebih dahulu, siapa yang menjadi ujung tombak penanggungjawab program. Menurut logika kerja organisasi, para penanggungjawab program itu adalah seksi-seksi dalam kepengurusan dewan pastoral paroki dalam kerjasama dengan para pengurus lingkungan. Merekalah yang harus memikirkan dan menyusun program pastoral di bidangnya masing-masing berdasarkan hasil analisis data yang telah dikerjakan dalam kerjasama dengan para profesional. Dengan demikian, seksi-seksi di paroki-paroki tidak hanya bekerja secara konvensional berdasarkan proyek atau kegiatan rutin gereja, melainkan juga ditantang untuk mulai bekerja berdasarkan program yang disusun untuk menjawab kebutuhan konkret umat. Ada pun sebuah format kerja sederhana berdasarkan contoh data di atas dapat ditawarkan sebagai berikut:

Tabel Artikel Memahami Pastoral Berbasis Data-1.jpg

Penutup

Menjalankan program pastoral berbasis data mengandaikan bahwa para petugas gereja sepakat untuk bekerja dalam sebuah paket program sebagai rangkaian kegiatan terpadu mulai dari pengumpulan data, pengolahan data, analisis data, penyusunan program pastoral, pelaksanaan program pastoral, dan evaluasi. Rangkaian program ini tertuju untuk menjawab kebutuhan umat. Program pastoral berbasis data memang harus berupa program-program kerja yang secara konkret menjawab kebutuhan umat, tetapi juga dapat berupa rekomendasi-rekomendasi demi pengembangan pelayanan umat. Misalnya, rekomendasi tentang sarana penunjang serta model-model pastoral yang secara terpadu dapat dikembangkan secara bersama antara beberapa paroki atau bahkan dalam koordinasi keuskupan.

Program ini juga mengandaikan bahwa umat dan terutama para petugas pastoral, memiliki kerendahan hati untuk sedikit menggeser mind set mereka yang selama ini bekerja atas dasar asumsi kepada pola kerja yang mendasarkan diri pada data. Ini hal sederhana, tetapi bisa menjadi persoalan yang rumit sekali tatkala umat dan terutama para petugasnya sudah merasa mapan dalam pola pastoral selama ini dan bahkan melihat program berbasis data sebagai hal yang menggangu kemapanan bekerjanya. Adalah wajar kalau hal ini terjadi, tetapi adalah tidak wajar kalau kita bersikukuh terus mempertahankan sesuatu yang sudah saatnya berubah. Gereja sendiri, melalui sejarah panjangnya telah membuktikan dan memberi contoh dalam banyak hal. Keyakinan bahwa keselamatan hanya ada di dalam gereja (Extra Ecclesia, Nulam Salus), ternyata dipandang perlu berubah saat ada gerakan agiornamento pada Konsili Vatikan II. Dan yang menarik, semua perubahan yang terjadi dalam gereja dibingkai oleh prinsip Ecclesia Semper Reformanda yang artinya gereja selalu siap berubah. Mengapa kita yang berada di dalamnya enggan berubah? Perubahan itu sebuah keniscayaan sebagaimana hidup manusia selalu berubah tanpa kita mampu menahannya; lahir, menjalani masa kanak-kanak, menikmati masa muda dan remaja, menjalani masa dewasa, memasuki masa tua, dan akhirnya mati.

 

Silahkan baca juga:

Pelayanan Berbasis Data: Gereja yang Selalu Berubah (1)

Berpastoral: Aktivitas Penggembalaan Umat (2)

Dasar Keterlibatan Umat dalam Karya Pastoral (3)

    

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s