ALLAH: BAPA YANG BERBELAS KASIH

oleh: P. Yohanes Gani Sukarsono, CM

 

 

Pemahaman akan Allah dalam sejarah kekristenan mengalami perkembangan. Agama Kristen berakar pada agama Yahudi yang sudah ada selama berabad-abad sebelum Yesus hadir di dunia. Pada mulanya agama Yahudi memahami Allah sebagai yang besar. Agung. Sesuatu yang sangat besar dan maha, sehingga menyebut pun mereka tidak berani. Tidak layak. Maka mereka memberi nama YHWH, sebuah susunan huruf mati. Meski manusia menganggap Allah sebagai pribadi yang tak tersentuh, namun para bapa bangsa Israel sudah mengadakan kontak dan berbicara dengan Allah.

Nuh mendengar sabda Allah tapi tidak menggambarkan Allah itu bagaimana. Abraham mendapat perintah dari Allah dan mengadakan perjanjian dengan Allah, namun Allah juga belum menampakkan diri. Musa melihat semak terbakar api dan mendengar suara Allah. Masih banyak lagi tokoh Perjanjian Lama yang mendengar sabda Allah. Elia bertemu Allah dalam angin yang sepoi-sepoi. Dia menutupi wajahnya sebab takut melihat Tuhan. Orang percaya bahwa dengan melihat Tuhan maka dia akan mati.

Kehadiran Yesus memberikan pemahaman baru tentang Allah. Allah yang semula jauh, tidak tersentuh, agung, kini menjadi dekat. Orang tidak lagi memanggilnya Allah melainkan Bapa. Sebuah panggilan yang sangat personal dan akrab. Selain itu ada pemahaman Allah yang baru. Dalam Perjanjian Lama, Allah lebih digambarkan sebagai penguasa yang kadang kejam, misalnya kasus Ayub dengan penderitaannya. Atau kisah Nuh dimana ada banjir besar, sehingga semua makhluk bumi banyak yang musnah. Atau dalam kasus Abraham dimana masyarakat Sodom dan Gomora dihancurkan luluh lantak. Atau dalam kasus Yunus dengan penduduk Niniwe yang akan dihukum namun ternyata dibatalkan oleh Allah sebab penduduk Niniwe mendengarkan suara Yunus dan bertobat.

Yesus tidak seperti para nabi dalam Perjanjian Lama yang melihat Allah sebagai pribadi yang jauh, tak tersentuh. Yesus berusaha menghadirkan Allah yang jauh menjadi sangat dekat. Bahkan menyatu denganNya. “Aku dan Bapa adalah satu.” (Yoh 10:30). Persatuan Allah dengan Yesus tidak menjadi hak ekslusif Yesus, sebab akhirnya Yesus pun bersatu dengan manusia (Yoh 17:23). Selain itu perubahan besar yang terjadi adalah gambaran diri Allah. Allah bukan lagi pribadi yang mengerikan dan membuat orang takut, melainkan pribadi yang penuh belas kasih. Dia tidak hanya mengasihi orang yang baik, tetapi juga orang yang jahat (Mat 5:45) dengan kasih yang sama. Salah satu gambaran Allah yang berbelas kasih diajarkan Yesus dalam perumpamaan anak yang hilang (Luk 15:11-32). Lukas dengan sangat indah menggambarkan betapa besar belas kasih Bapa.

Kisah anak yang hilang menggambarkan wajah Allah yang sangat penuh belas kasih. Kisah diawali dengan tuntutan anak bungsu untuk meminta harta warisan. Permintaan anak bungsu adalah sebuah tuntutan yang tidak layak. Sebagai anak pasti dia sudah mendapatkan yang cukup dari bapanya, namun dia tidak puas, maka menuntut apa yang seharusnya belum waktunya. Namun bapanya memberikan apa yang dia minta. Tidak ada tuntutan dari bapanya mengenai semua itu. Dalam Perjanjian Lama, Allah memberikan semua isi taman kepada Adam, kecuali satu buah saja yang tidak boleh dimakan. Adam dan Hawa secara sembunyi-sembunyi mengambil apa yang seharusnya tidak boleh diambil, maka mereka dihukum oleh Allah. Ini berbeda jauh dengan apa yang dialami oleh anak bungsu. Allah memberikan apa saja kepada manusia tanpa tuntutan dan batasan.

Kepergian anak bungsu untuk menghamburkan hartanya dengan bermabuk-mabukan dan dengan para pelacur merupakan perwujudan dari rasa keinginan manusia untuk bebas. Bebas menikmati apa saja yang mampu diperoleh. Hidup berfoya-foya dan melanggar tata susila. Masyarakat Sodom dan Gomora yang hidup berfoya-foya dan melanggar tata susila langsung dihukum oleh Allah, meski Abraham sudah berusaha untuk mengadakan tawar menawar. Allah tidak mau dinomorduakan. Dia adalah Allah yang pencemburu (bdk Yes 26:11). Allah yang siap menghukum orang yang tidak berjalan sesuai dengan kehendakNya.

Perjalanan hidup si bungsu sampai pada titik terendah hidupnya, dia jatuh miskin dan terpaksa bekerja di peternakan milik seseorang. Akibat kelaparan maka dia memakan sisa makanan babi. Masuk dalam kegelapan hidup ini, si bungsu menyadari akan kesalahannya. Kesadaran si bungsu akan kesalahan pilihan hidupnya membuat dia ingin kembali pada bapanya. Keputusan pulang ke rumah bukanlah sebuah keputusan ringan dan mudah. Ada rasa malu, sesal, kalah bercampur aduk menjadi satu. Kesadaran si bungsu timbul dari sebuah permenungannya mengenai realita hidup yang pahit dengan pengalaman akan belas kasih bapanya di rumah. Dia memutuskan untuk kembali ke rumah. Keinginan kembali berbenturan dengan kesadaran akan dosa yang telah diperbuatnya. Maka setelah memutuskan untuk kembali, si bungsu tidak berharap banyak dari bapanya. Baginya sudah cukup bila dia bisa mendapatkan makanan yang layak. Dia tidak ingin menggunakan haknya sebagai anak untuk memperoleh apa yang menjadi kebutuhannya. Dia lebih memposisikan diri sebagai budak.

Yunus datang ke kota Niniwe dengan menebarkan ancaman hukuman yang akan dijatuhkan Allah bila orang Niniwe tidak bertobat. Takut akan ancaman itu, maka mereka bertobat dengan melakukan tanda-tanda pertobatan. Mereka takut akan binasa (Yu 3:9). Allah menyesal telah merencanakan hukuman bagi mereka. Ada perbedaan yang sangat besar antara rasa sesal yang dialami oleh si bungsu dengan rasa sesal rakyat Niniwe. Si bungsu menyesal sebab dia sadar bahwa dia sudah bersalah pada bapa dan surga. Dia membandingkan hidupnya jika dekat dengan bapa dan meninggalkan bapa. Ternyata pilihan hidup meninggalkan bapa adalah sebuah kesalahan. Sedangkan penduduk Niniwe bertobat karena diancam oleh Allah. Pertobatan dibawah ancaman bukanlah sebuah pertobatan yang muncul dari hati yang terdalam. Bisa saja mereka tidak pernah menyadari masa lalunya yang bahagia. Mereka hanya menyatakan tobat demi keamanan diri atau bangsanya. Bukan sebuah kesadaran untuk memperbaiki kembali hubungannya dengan Allah.

Beberapa orang beriman mewartakan agamanya dengan menggambarkan neraka. Bila orang menolak atau tidak beriman maka akan masuk neraka. Sebaliknya bila menerima, maka dia akan masuk surga. Neraka digambarkan dengan sangat mengerikan. Hal ini untuk membuat orang menjadi takut sehingga memeluk agama itu. Untuk beriman orang ditakut-takuti. Yesus tidak pernah menggambarkan neraka secara jelas. Yesus mengajak orang untuk mengikutiNya bukan dengan menakuti mereka akan hukuman, melainkan dengan menunjukkan belas kasih. Allah bukan Allah yang menghukum melainkan Allah yang menyelamatkan. Origenes salah satu bapa Gereja mengatakan bahwa sebetulnya neraka tidak ada. Pendapat ini juga diikuti oleh beberapa teolog sampai saat ini. Menurut Origenes, orang yang berbahagia adalah jika orang itu mau mendekatkan diri dengan Allah. Sebaliknya bila dia tidak mampu mendekat.

Keputusan si bungsu kembali ke rumah bapa berdasarkan ingatan akan belas kasih bapa. Ketika sampai dekat rumah ternyata bapa sudah menanti. Bapa menyongsong si bungsu penuh dengan suka cita. Anaknya yang hilang telah kembali. Tidak sepatah kata pun yang keluar dari mulut bapa untuk menyalahkan si bungsu. Bapa juga tidak pernah bertanya dari mana si bungsu selama ini. Kemana saja harta yang telah diberikannya. Jika bapa sudah mendengar tentang kehidupan si bungsu selama ini, dia juga tidak menegur mengapa si bungsu melakukan semua itu. Hanya satu hal yang dilakukan oleh bapa yaitu memberikan yang terbaik untuk si bungsu.

Bapa menyuruh para pegawai untuk memberikan jubah, sepatu, perhiasan dan mengadakan pesta. Pakaian adalah lambang martabat dan status seseorang. Pemberian kembali pakaian yang pantas merupakan usaha bapa memulihkan martabat si bungsu. Si bungsu yang sudah terpuruk dalam kehinaan, sehingga martabatnya sudah sama dengan hewan, sebab dia makan sisa makanan babi, diangkat kembali oleh bapanya. Tidak hanya dengan pemberian pakaian tetapi juga dengan pelukan. Tidak ada hukuman bagi si bungsu yang telah berdosa.

Kehadiran si sulung merusak suasana suka cita. Protes si sulung hampir mirip dengan Yunus yang protes sebab masyarakat Niniwe tidak jadi dihukum. Orang bersalah harus dihukum, bahkan hukuman itu bisa dibebankan pada keturunannya (bdk Yoh 9:2-3). Si bungsu yang sudah meninggalkan bapa dan memboroskan harta miliknya harus dihukum. Namun bapa tidak menghukum bahkan menyambutnya penuh dengan suka cita. Mengapa orang berdosa dibiarkan saja bahkan dibuatkan pesta? Inilah belas kasih Allah. Inilah bukti belas kasih dari Bapa. Belas kasih yang memuat pengampunan, suka cita dan kerelaan untuk memulihkan martabat manusia.

Si sulung melihat tindakan bapa sebagai tindakan yang tidak adil. Mengapa adiknya yang bersalah tidak dihukum sebaliknya dipestakan sedangkan dia yang setia tidak mendapatkan apa-apa? Tindakan Allah yang tampak kurang adil juga diungkapkan dalam perumpamaan mengenai pekerja di kebun anggur (Mat 20:1-15). Orang yang bekerja sejak pagi diupah sama dengan orang yang bekerja hanya satu jam saja. Dalam pandangan manusia memang hal ini tidak adil, tapi kemurahan hati Allah lebih luas daripada pemahaman manusia tentang keadilan.

Dari uraian diatas bisa dilihat bahwa ada perubahan mengenai pemahaman akan Allah dari Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Allah yang dipahami oleh para bapa bangsa Israel dengan Allah yang dibawa oleh Yesus. Dari Allah yang pencemburu dan mudah sekali menjatuhkan hukuman menjadi wajah Allah yang lebih personal dan penuh dengan belas kasih.

 

sumber: yesaya.indocell.net

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s