Menggapai Kerajaan Surga

Hari Minggu Biasa XXVIII (13-14 Oktober 2018)

Keb. 7:7-11; Mzm. 90:12-13,14-15,16-17; Ibr. 4:12-13; Mrk. 10:17-30

Diterbitkan oleh Tim Kerja Kitab Suci – DPP. Santo Yoseph Purwokerto 

” Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam kerajaan Allah” (ayat 23)

Bapak Ibu dan Saudari-saudari terkasih.

UntaSebagai orang kristen kita tentu percaya akan adanya hidup kekal. Dan kita semua pastilah bercita-cita atau berkeinginan untuk hidup kekal di surga kelak ketika kita dipanggil Tuhan. Baik yang hidupnya berkelebihan maupun yang hidupnya berkekurangan, semua ingin masuk surga. Sebagaimana dikisahkan dalam Injil Markus 10:17, ada seorang kaya yang menanyakan kepada Yesus apa yang harus diperbuatnya untuk memperoleh hidup kekal. Ternyata tidak mudah untuk bisa memperoleh kehidupan kekal itu. Hal itu nampak dalam diri seorang kaya yang menurutnya hidupnya sudah baik. Orang kaya ini selama hidupnya sudah menuruti perintah Allah, yaitu tidak membunuh, tidak berzinah, tidak mencuri, tidak bersaksi dusta, tidak mengurangi hak orang serta menghormati ayah dan ibunya. Namun ketika memperoleh jawaban dari Yesus yang di luar dugaannya, yakni diminta untuk menjual harta miliknya dan diberikan kepada orang-orang miskin lalu mengikut Dia, orang kaya ini pun menjadi kecewa dan pergi dengan sedih  (ayat 21-22). Lebih lanjut Yesus berkata: “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam kerajaan Allah” (ayat 23).

Tapi benarkah demikian, bahwa orang kaya pasti sukar untuk masuk ke dalam kerajaan surga? Dan orang miskin pasti masuk surga? Tentu tidak serta merta demikian. Karena sejak semula Allah menciptakan manusia, Dia menghendaki agar manusia hidup damai sejahtera. Damai sejahtera pastilah menyangkut damai secara lahir maupun batin. Damai sejahtera kehidupan rohani maupun jasmani atau duniawinya. Allah menghendaki kedua hal tersebut untuk seimbang saling mendukung. Sehingga dengan kekayaan itu nama Allah semakin dimuliakan.

Ketika kita dikaruniai kekayaan duniawi janganlah kita hanya berfokus pada harta yang kita miliki dan terus mengejarnya. Karena sudah menjadi hal umum dan tidak sedikit terjadi di kehidupan saat ini, ketika sudah memiliki harta berlimpah, hati kita menjadi terikat dengan kekayaan itu. Menjadi hamba harta. Kita menjadi sombong, mau memperoleh prioritas di dalam kehidupan sosial, menjauh dari kalangan yang tidak mampu dan sebagainya. Inilah yang mau Tuhan Yesus sampaikan ketika Dia berkata “Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah” (ayat 25). Karena tidak mudah bagi orang kaya yang terlalu “melekat” pada harta kekayaannya untuk merendahkan diri di hadapan Allah. Waktu dihabiskan untuk mengejar harta, sehingga tidak ada waktu lagi untuk Tuhan. Tidak ada lagi waktu untuk mengucap syukur dan membangun relasi yang lebih intim dengan Tuhan Yesus. Sehingga banyak orang justru menjadi jatuh (secara rohani) saat hidup di dalam kelimpahan harta dan bukan sebaliknya di saat kekurangan.

Jadi Yesus sama sekali tidak melarang orang untuk menjadi kaya, tetapi Dia menghendaki agar orang-orang yang berkelimpahan harta sungguh menyadari harta yang dimiliki adalah merupakan anugerah Tuhan. Dan anugerah itu seharusnya dipakai untuk kemajuan Kerajaan Allah, bukan kepentingan kita sendiri, keluarga kita atau kelompok kita semata. Kekayaan janganlah sampai menguasai hati dan pikiran kita sehingga menjadi egois, tetapi baiklah kita serahkan ke dalam tangan Tuhan. Dengan kekayaan yang kita miliki seharusnya kita juga bisa berbagi dengan orang lain yang berkekurangan ataupun yang membutuhkan uluran tangan.

Meskipun kita kaya, haruslah kita tetap datang kepada Yesus dengan rendah hati dan tetap merendahkan diri di hadapan Allah. Maka niscaya kehidupan kekal di surga bisa kita raih.

Berkah Dalem

Benedictus Widiyanto (0821-3841-3582)

Lingkungan St. Stefanus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s