Gaudete et Exsultate 10-13

TUHAN MEMANGGIL

jalan kekudusan.png

  1. Semua ini penting. Namun dengan Seruan ini saya ingin menekankan terutama pada panggilan untuk kekudusan yang Tuhan tujukan kepada kita masing-masing, panggilan yang Dia juga alamatkan, secara pribadi, kepada Anda: “…haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus” (Im 11:44 ; cf. 1 Ptr 1:16). Konsili Vatikan II menyatakan ini dengan jelas: “Diteguhkan dengan upaya-upaya keselamatan sebanyak dan sebesar itu, semua orang beriman, dalam keadaan dan status mana pun juga, dipanggil oleh Tuhan untuk menuju kesucian yang sempurna seperti Bapa sendiri sempuna, masing-masing melalui jalannya sendiri ”. [10]
  1. “Masing-masing melalui jalannya sendiri” kata Konsili itu. Kita seharusnya tidak berkecil hati ketika diperkenalkan dengan contoh-contoh kekudusan yang tampaknya tidak mungkin tercapai. Ada beberapa kesaksian yang mungkin terbukti bermanfaat dan memberi ilham, tetapi tidak untuk kita salin, karena itu malah dapat menyesatkan kita dari jalan yang secara khas Tuhan maksudkan bagi kita. Yang penting adalah bahwa setiap orang mempertimbangkan jalannya sendiri, bahwa mereka mengeluarkan yang terbaik dari diri mereka sendiri, karunia paling pribadi yang Tuhan tempatkan di dalam hati mereka (lih. 1 Kor 12: 7), bukannya putus asa dengan mencoba meniru sesuatu yang tidak dimaksudkan untuk diri mereka. Kita semua dipanggil untuk menjadi saksi, tetapi ada banyak cara nyata untuk memberikan kesaksian. [11] Memang, ketika mistikus agung, Santo Yohanes Salib, menulis Kidung Rohaninya, dia lebih suka menghindari aturan yang keras dan segera berlaku bagi semua. Dia menjelaskan bahwa ayat-ayat itu ditulis sedemikian rupa agar setiap orang dapat memperoleh manfaat dari tulisan itu “dengan caranya sendiri”. [12] Karena kehidupan Tuhan dikomunikasikan “kepada beberapa orang dalam satu cara dan kepada orang lain dengan cara lain”. [13]
  1. Dalam berbagai bentuk ini, saya akan menekankan juga bahwa “perempuan yang bijaksana” yang terlihat dalam gaya kekudusan feminin, yang merupakan sarana penting untuk mencerminkan kekudusan Allah di dunia ini. Memang, terdapat masa ketika perempuan cenderung sangat diabaikan atau tidak diperhatikan, Roh Kudus membangkitkan orang-orang kudus yang daya tariknya menghasilkan kekuatan rohani baru dan reformasi penting di dalam Gereja. Kita dapat menyebutkan Santa Hildegard dari Bingen, Santa Bridget, Santa Katarina dari Siena, Saint Teresa of Avila, dan Santa Thérèsia dari Lisieux. Tetapi saya juga berpikir tentang semua perempuan yang tidak dikenal atau terlupakan yang, masing-masing dengan caranya sendiri, mendukung dan mengubah keluarga dan komunitas melalui kekuatan kesaksian mereka.
  1. Ini harus membangkitkan dan mendorong kita untuk memberikan segalanya dan untuk merangkul rencana khusus yang Allah kehendaki bagi kita masing-masing dari kekekalan: “Sebelum aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, aku telah mengenal engkau dan sebelum kamu keluar dari kandungan, aku telah menguduskan engkau ” (Bdk Yer 1 : 5).

 


[10] Konstitusi Dogmatik tentang Gereja Lumen Gentium, 11.

[11] bdk. HANS URS VON BALTHASAR, “Teologi dan Kekudusan”, dalam Communio 14/4 (1987), 345.

[12] Kidung Rohani, Red. B, Prolog, 2.

[13] bdk. idem, 14-15, 2.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s