SERVE WITH LOVE [Rekoleksi PPA Sanyos]

Jumat, 1 Juni 2018 menjelang siang sekitar jam 11-an terlihat banyak anak-anak PPA berada di depan ruang ‘SEKRE’ (sebutan untuk tempat ruang ganti misdinar). Semakin siang semakin banyak anak-anak yang datang, dengan dikomandoni panitia dan pendamping mereka semua akan berangkat ke Rumah Retret Wisma OMI di Kaliori untuk mengikuti Rekoleksi PPA Santo Yosep selama dua hari satu malam. Ada sekitar 8 mobil yang digunakan untuk membawa anak-anak PPA dari gereja Santo Yosep menuju Kaliori, semua mobil adalah mobil para orang tua PPA yang dengan sukarela mengantar para peserta.

Sesampai di Kaliori sekitar 60 peserta termasuk pendamping mulai menempati kamar masing-masing, peserta putri di Fransiskus dan peserta putra di Sirilus. Setelah makan siang acara dimulai sekitar jam 1 siang dengan Ice Breaking dan perkenalan di aula bawah tempat berlangsungnya sebagian besar kegiatan Rekoleksi.

Romo Toro mengisi sesi pertama sharing tentang masa kecil/remaja di mana Romo Toro masih ingat betul dia berfoto bersama salah satu temannya yang sekarang menjadi seorang Bruder. Film The last Supper – film yang menggambarkan Perjamuan Terakhir ditayangkan. Selanjutnya para peserta putra dan putri secara bergantian membaca Mateus 26 : 17-19, Markus 14 : 12-16 dan Lukas 22 : 7-13 di mana Romo Toro memberikan gambaran bahwa para rasul diminta Yesus untuk bersiap dalam perjamuan terakhir. Perintah Yesus kepada muridnya dalam bacaan tadi bisa diartikan juga sebagai ajakan kepada PPA dimana pada waktu akan Misa (perjamuan-konsekrasi), PPA/misdinar agar menyiapkan batin untuk menyambut perjamuan.

Romo Toro juga menayangkan film tentang tata gerak misdinar di Altar, Romo mengajak agar para Misdianr pada waktu bertugas melakukan tata gerak dengan benar, terus fokus pada tugas-tidak ngobrol/bercanda dan tengok kanan kiri. Pelayanan yang dilakukan oleh Misdinar terlebih di Altar akan terlihat oleh umat dan dengan tata gerak yang benar akan membantu umat untuk lebih khusuk dalam beribadah. Semua itu bisa diperoleh dengan senantiasa terus berlatih untuk menjadi Misdinar yang lebih ‘tanggap’.

Cuplikan Film The Passion ditampilkan pada bagian di mana Yesus terus taat kepada Allah dengan rela menderita untuk menebus dosa umat manusia. Di sisi lain cuplikan film ini memberikan gambaran sebagai seorang Ibu, Bunda Maria begitu tabah dan kuat menghadapi cobaan yang begitu berat. Suasana di ruangan lebih hening setelah film menampilkan penderitaan Yesus pada waktu disiksa oleh tentara Romawi. Dengan tangan diikat Yesus menerima cambukan dan pukulan, darah mengalir dari luka-lukanya dan menetes jatuh ke lantai. Bunda Maria ikut merasakan penderitaan PutraNya, matanya terlihat basah, ketegaran hatinya terlihat disela-sela kepedihannya.

Semua peserta terdiam, tak terasa air mata berlinang, tanda bahwa mereka ikut menghayati dan terbawa suasana dari apa yang mereka lihat.

Pengorbanan Yesus yang begitu besar menjadi contoh kepada kita semua. Untuk itulah dibutuhkan juga pengorbanan PPA dalam melayani, maka menjadi PPA/misdinar perlu :

  • Datang lebih awal
  • Merapikan diri (berdandan, dsb)
  • Memohon agar dapat melaksanakan tugas dengan baik dan lancar, biarlah menjadi bala tentara surga.
  • Tenang atau hening (ngobrol terbatas)
  • Mengenali tugasnya sendiri (persembahan 1, 2, lonceng, gong, dll)
  • Mengenali dan mengerti tata gerak Liturgi Ekaristi

Sesi kedua dan ketiga diisi oleh Romo Ari Setiawan, setelah perkenalan Romo Ari mengajak para peserta untuk ikut menari Tari Pinguin

Tari Pinguin inilah yang dilihat dan dicontoh oleh para peserta yang tayang di layar LCD.

“Apakah itu melayani ? Melayani, kata dasar layan (tambah me – i). Menjadi pelayan : menjadikan diri bagian dari kesuksesan/kebahagiaan orang lain. Melayani menempatkan diriku bukan menjadi prioritas pertama. Melayani adalah tentang memberi dan memberi ….”, kata Romo Ari dengan serius. Senang itu tentang yang saya dapatkan sedangkan bahagia itu adalah hal saya memberi, maka melayani adalah sesuatu tentang memberi.

Tiap peserta diberi selembar kertas. Romo Ari meminta para peserta untuk mengalirkan bola pingpong dengan selembar kertas yang dibentuk pipa dari orang pertama ke orang terakhir dalam satu kelompok dengan catatan bola pingpong tidak boleh jatuh. Ternyata tidak mudah melakukannya, setelah mencoba beberapa kali tiap kelompok mampu melakukannya. Permainan tersebut mempunyai makna yaitu kita, seperti pipa yang terbuat dari kertas tadi, kita ingin mengalirkan bola pingpong tadi namun tidaklah mudah, demikian juga kita terkadang tidak mudah sebagai tempat untuk mengalirkan Kasih Kristus.

Dari tayangan di atas muncul pertanyaan : Mengapa kita harus melayani ? Jawabannya adalah Perwujudan iman dan karena IA lebih dulu melayani. Melayani dengan Kasih seperti yang tertulis dalam 1 Korintus  13: 4-8 yang berbunyi : Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia ……..

Setelah makan malam para peserta kembali ke Aula bawah dan melanjutkan sesi. Romo Ari masih mengisi sesi ini. Untuk menghilangkan kejenuhan dan rasa kantuk Romo memberikan permainan sepak bola dengan kantong plastik dilanjutkan dengan permainan “Family Seratus” ala Romo Ari dengan tema mengikuti teladan St. Tarsisius. Setelah para peserta menyimak tayangan dan tulisan tentang Santo Tarsisius mulailah pertanyaan-pertanyaan diberikan. Tujuan dari permainan ini adalah agar para PPA selalu meneladani St. Tarsisius.

Hari Sabtu adalah hari kedua/terakhir. Pagi hari seluruh peserta bersenam ria di parkiran, dilanjutkan ibadat pagi di aula bawah, makan pagi diruang makan dan kembali ke parkiran berumput untuk outbond. Banyak kegembiraan di pagi itu. Semua peserta senang, walaupun tugas di outbond kadang tidak seperti yang diharapkan namun semua tetap tertawa.

Pada sesi ke empat, para ‘mantan’ PPA Santo Yosep yaitu para senior yang sudah tidak aktif lagi menjadi Misdinar karena sekolah diluart kota dan kuliah memberikan motivasi kepada adik-adiknya agar senantiasa rajin melayani dan terus belajar agar dapat menjadi Misdinar yang lebih tanggap.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Seperti kesimpulan yang diberikan oleh Romo Ari, “Menjadi misdinar dan melayani dengan KASIH bukanlah hal yang mudah, namun dengan kuasa Tuhan semua menjadi mungkin”. Retret diakhiri dengan misa oleh Romo Toro. Semua berharap bahwa setelah retret ini semua PPA Sanyos akan lebih MELAYANI DENGAN KASIH seperti tema rekoleksi kali ini SERVE WITH LOVE. Semua perlu belajar untuk menjadi lebih baik, jangan takut gagal dan jangan menyerah, semua perlu diperjuangkan karena tak ada manusia yang sempurna ……

 

Foto oleh Tante Ita, dkk.

Penulis

candra-priljanto

Candra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s