Gaudete et Exsultate 77-82

“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan”
  1. Kelaparan dan kehausan adalah pengalaman yang luar biasa, karena keduanya melibatkan kebutuhan dasar dan naluri kita untuk bertahan hidup. Ada orang-orang yang menginginkan keadilan dan merindukan kebenaran dengan keluarbiasaan yang sama. Yesus mengatakan bahwa mereka akan dipuaskan, karena cepat atau lambat keadilan akan datang. Kita dapat bekerja sama untuk memungkinkan hal itu, bahkan jika kita tidak selalu melihat buah dari upaya-upaya kita.
  1. Yesus menawarkan keadilan selain keadilan dunia, yang begitu sering dikotori oleh kepentingan-kepentingan sepele dan dimanipulasi dengan berbagai cara. Pengalaman menunjukkan betapa mudahnya terperosok dalam korupsi, terjerat dalam politik harian quid pro quo (= ini untuk itu; timbal balikred.), di mana segala sesuatunya menjadi bisnis. Berapa banyak orang menderita ketidakadilan, berdiri tanpa daya sementara yang lainnya membagi-bagi berbagai hal baik kehidupan ini. Beberapa orang menyerah untuk berjuang mewujudkan keadilan dan memilih untuk mengikuti kereta para pemenang. Hal ini tidak ada hubungannya dengan orang-orang yang lapar dan haus akan keadilan yang dipuji oleh Yesus.
  1. Keadilan sejati terjadi dalam kehidupan orang-orang ketika mereka sendiri adil dalam keputusan-keputusan mereka; keadilan diungkapkan dalam upaya mereka mewujudkan keadilan bagi orang-orang miskin dan orang-orang lemah. Meskipun benar bahwa kata “keadilan” dapat menjadi persamaan kata untuk kesetiaan kepada kehendak Allah dalam setiap segi kehidupan kita, jika kita memaknai kata tersebut terlalu umum, kita lupa bahwa kata itu ditampilkan terutama dalam keadilan terhadap mereka yang paling rentan : “Usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!” (Yes 1:17).

Lapar dan haus akan kebenaran : itulah kekudusan.

“Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan”
  1. kebaikan hati
    murah hati

    Murah hati memiliki dua segi. Murah hati mencakup memberi, membantu, dan melayani orang lain, tetapi murah hati juga mencakup pengampunan dan pemahaman. Matius merangkumnya dalam satu kaidah emas : “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (7:12). Katekismus mengingatkan kita bahwa peraturan ini harus diterapkan “dalam segala hal”,[71] terutama ketika kita “dihadapkan pada situasi yang membuat penilaian hati nurani menjadi tidak aman dan keputusan menjadi sulit”.[72]

  1. Memberi dan mengampuni berarti menghasilkan ulang dalam kehidupan kita beberapa ukuran kecil kesempurnaan Allah, yang memberi dan mengampuni dengan berlimpah-limpah. Karena alasan ini, dalam Injil Lukas kita tidak mendengar kata-kata, “Haruslah kamu sempurna” (Mat. 5:48), tetapi malahan, “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati. Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi” (6:36-38). Lukas kemudian menambahkan sesuatu yang tidak boleh dilupakan : “Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (6:38). Tolok ukur yang kita gunakan untuk memahami dan mengampuni orang lain akan menjadi tolok ukur pengampunan yang kita terima. Tolok ukur yang kita gunakan untuk memberi akan menjadi tolok ukur apa yang kita terima. Kita tidak boleh melupakan hal ini.
  1. Yesus tidak berkata, “Berbahagialah orang yang merencanakan pembalasan”. Ia menyebut “berbahagia” mereka yang mengampuni dan melakukannya “tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 18:22). Kita perlu menganggap diri kita sebagai pasukan pemberi ampun. Kita semua telah dipandang dengan belas kasih ilahi. Jika kita mendekati Tuhan dengan ketulusan dan mendengarkan dengan seksama, mungkin ada saat-saat ketika kita mendengar teguran-Nya : “Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?” (Mat 18:33).

Melihat dan bertindak dengan murah hati : itulah kekudusan.


[71] Katekismus Gereja Katolik, 1789; bdk. 1970.

[72] Idem, 1787.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s