KATEKESE

Gaudete et Exsultate 83-89

“Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah”
  1. Sabda Bahagia ini berbicara tentang orang-orang yang hatinya sederhana, suci dan tidak tercemar, karena hati yang mampu mengasihi tidak mengenal apa pun yang dapat mencelakakan, melemahkan atau membahayakan kasih tersebut. Kitab Suci menggunakan hati untuk menggambarkan ujud kita yang sebenarnya, hal-hal yang benar-benar kita cari dan inginkan, terlepas dari seluruh penampilannya. “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” (1Sam 16:7). Allah ingin berbicara kepada hati kita (bdk. Hos 2:16); di sana Ia ingin menuliskan hukum-Nya (bdk. Yer 31:33). Singkatnya, Ia ingin memberi kita hati yang baru (bdk. Yeh 36:26).
  1. “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan” (Ams 4:23). Tidak ada yang ternoda oleh kepalsuan memiliki nilai nyata apapun di mata Tuhan. Ia “menghindarkan tipu daya, dan menjauhi pikiran pandir” (Keb 1:5). Bapa, “yang melihat yang tersembunyi” (Mat 6:6), mengenali apa yang tidak murni dan tidak tulus, hanya tampilan atau penampilan, seperti halnya Sang Putra, yang mengetahui “apa yang ada di dalam hati manusia” (bdk. Yoh 2:25).
  1. Tentu saja tidak ada kasih tanpa karya-karya kasih, tetapi Sabda Bahagia ini mengingatkan kita bahwa Tuhan mengharapkan pelaksanaan terhadap saudara-saudari kita yang datang dari hati. Karena “sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku” (1 Kor 13:3). Dalam Injil Matius juga, kita melihat bahwa apa yang berasal dari hati adalah apa yang menajiskan seseorang (bdk. 15:18), karena dari hati timbul pembunuhan, pencurian, sumpah palsu dan perbuatan jahat lainnya (bdk. 15:19). Dari ujud hati muncul keinginan dan keputusan terdalam yang menentukan tindakan kita.
  1. Hati yang mengasihi Allah dan sesama (bdk. Mat 22:36-40), benar-benar dan tidak hanya dalam kata-kata, adalah hati yang suci; hati tersebut bisa melihat Allah. Dalam pujiannya terhadap amal kasih, Santo Paulus mengatakan bahwa “sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar” (1 Kor 13:12), tetapi sejauh kebenaran dan kasih menguasai, kita kemudian akan dapat melihat “muka dengan muka”. Yesus menjanjikan bahwa orang-orang yang suci hatinya “akan melihat Allah”.

Menjaga hati terbebas dari semua yang menodai kasih : itulah kekudusan.

 

“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah”
  1. pembawa damai.jpgSabda Bahagia ini membuat kita berpikir tentang banyak situasi peperangan yang tak berkesudahan di dunia kita. Namun kita sendiri sering menjadi penyebab perselisihan atau setidaknya kesalahpahaman. Sebagai contoh, saya mungkin mendengar sesuatu tentang seseorang dan saya pergi serta mengulanginya. Saya bahkan dapat memperindahnya untuk kedua kalinya dan terus menyebarkannya … Dan semakin itu mencelakakan, semakin besar pula kepuasan yang saya rasakan darinya. Dunia gosip, yang dihuni oleh orang-orang yang berperilaku buruk dan merusak, tidak membawa perdamaian. Orang-orang seperti itu benar-benar merupakan musuh perdamaian; mereka tidak pernah “berbahagia”.[73]
  1. Para pembawa damai benar-benar “membuat” perdamaian; mereka membangun perdamaian dan persahabatan dalam masyarakat. Kepada orang-orang yang menabur perdamaian, Yesus memberikan janji yang luar biasa ini : “Mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mat 5:9). Ia memberitahu para murid-Nya bahwa, ke mana pun mereka pergi, mereka harus mengatakan : “Damai sejahtera bagi rumah ini!” (Luk 10:5). Sabda Allah menasihati setiap orang percaya untuk bekerja bagi perdamaian, “bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni” (bdk. 2 Tim 2:22), karena “buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai” (Yak 3:18). Dan jika ada saat-saat dalam komunitas kita ketika kita mempertanyakan apa yang seharusnya dilakukan, “marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera” (Rm 14:19), karena persatuan lebih disukai daripada perselisihan.[74]
  1. Tidaklah mudah untuk “membuat” perdamaian injili ini, yang tidak mengecualikan siapa pun tetapi merangkul bahkan mereka yang sedikit aneh, bermasalah atau sulit, menuntut, berbeda, dikalahkan oleh kehidupan atau sama sekali tidak tertarik. Inilah kerja keras; hal ini membutuhkan keterbukaan pikiran dan hati yang besar, karena ini bukan tentang menciptakan “kesepakatan di sekitar meja atau di atas kertas belaka, atau suatu perdamaian sementara nan singkat untuk kepentingan kaum minoritas yang bahagia”,[75] atau rencana “oleh beberapa orang untuk beberapa orang”.[76] Juga tidak dapat mencoba untuk mengesampingkan atau mengabaikan perselisihan; sebagai gantinya, ia harus “menghadapi perselisihan secara langsung, menyelesaikannya dan menghubungkannya dengan suatu proses baru”.[77] Kita harus menjadi para pengrajin perdamaian, karena membangun perdamaian adalah kerajinan yang menuntut ketenangan, daya cipta, kepekaan, dan keterampilan.

Menabur perdamaian di sekeliling kita : itulah kekudusan.


[73] Fitnahan dan kecurangan adalah aksi terorisme : sebuah bom dilemparkan, meledak dan penyerang berjalan tenang dan puas. Ini benar-benar berbeda dari keluhuran budi orang-orang yang berbicara dengan orang lain secara langsung, dengan tenang dan berterus terang, karena perhatian yang tulus terhadap kebaikan mereka.

[74] Kadang-kadang, mungkin perlu berbicara tentang kesulitan saudara atau saudari tertentu. Dalam kasus seperti itu, dapat terjadi bahwa penafsiran diteruskan sebagai pengganti fakta obyektif. Emosi dapat salah mengartikan dan mengubah fakta-fakta suatu masalah, dan akhirnya melewatkannya dengan unsur-unsur subyektif. Dengan cara ini, baik fakta-fakta itu sendiri maupun kebenaran orang lain dihormati.

[75] Seruan Apostolik, Evangelii Gaudium (24 November 2013), 218: AAS 105 (2013), 1110.
[76] Idem., 239: 1116.
[77] Idem., 227: 1112.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.