Kisah Inspiratif

Karena Aku Tidak Tahu Waktu Tuhan

~ Sharing pengalaman seorang Prodiakones ~

Ada rasa sedih dan turut berduka cita saat membaca pesan dari Romo paroki di grup WA Prodiakon (Sabtu, 31 Agustus 2019, pkl. 11.25 WIB) bahwa seorang pasien yang dikirim komuni pada hari Rabu kemarin meninggal dunia. Tetapi ada rasa syukur, bahwa pasien tersebut sudah terima komuni, sesudah terima sakramen minyak suci sebagai bekal rohani.

Rabu, 28 Agustus 2019, jam 12.17 WIB, muncul pesan dari Romo paroki di grup WA Prodiakon bahwa ada seorang pasien asal Cilacap di RS. Margono yang menghendaki dikirim komuni. Jujur, membaca pesan tersebut saya berharap ada teman prodiakon yang menyanggupinya. Ada teman yang menanggapi tetapi baru bisa hari Minggu. Saya sendiri tidak segera menyanggupinya karena kondisi saya yang belum sembuh benar dari sakit. Rumah sakit adalah tempat penyakit bagi saya. Apa saya tidak tambah drop kalau ke sana, padahal banyak rencana yang harus saya laksanakan minggu ini. Jadi saya harus fit.

Karena saya sakit seminggu lebih, cucian numpuk. Barusan saya rendam setelah selesai beres- beres rumah sepulang belanja dari pasar. Saya ingin makan masakan sendiri setelah seminggu lebih beli terus di luar. Saya baru makan siang, menghimpun tenaga untuk mencuci.  Saya tunggu, tidak ada tanggapan positif dari teman- teman prodiakon yang dapat melaksanakan permintaan itu. Saya bisa memahami, ini hari kerja. Semua pasti sibuk dengan aktivitas masing- masing.

Belajar dari pengalaman

Saya teringat pengalaman saya beberapa waktu lalu. Saya pernah menunda sehari untuk kirim komuni, dan ternyata akibatnya fatal. Ketika saya siap untuk kirim komuni ke pasien tersebut, saya diberitahu bahwa pasien sudah meninggal dunia. Saya menyesal sekali karena sudah menunda kirim komuni. Seharian saya menangis, tapi tangisan saya tidak bisa menghidupkan kembali pasien itu untuk menerima komuni sebagai bekal terakhir. Yang saya ketahui, Simbah itu sakit tua. Ternyata beliau terserang kanker darah yang ganas yang cepat sekali penyebarannya. Saya seperti “dilimpeke” (ditinggal pergi tanpa diberitahu) oleh Simbah itu, padahal beliaulah yang membuat saya mau keluar dari zona nyaman saya. Semangatnya yang luar biasa dalam hidup menggereja di masa senjanya dengan segala keterbatasannya, membuat hati saya tergerak untuk aktif lagi di gereja, setelah hampir 4 tahun hidup di  Purwokerto sebagai umat pada umumnya. Tetapi di saat-saat terakhir hidupnya, saya tidak bisa mendampinginya.

Ingat hal tersebut, saya tidak mau menyesal yang kedua kalinya, karena saya tidak tahu waktu Tuhan. Dengan memohon rahmat Tuhan bahwa Ia akan selalu menjaga kesehatan saya, saya memutuskan untuk menyanggupi kirim komuni ke RS Margono hari itu juga. Selesai makan saya langsung mandi, agar badan bersih. Ganti baju bersih dari almari agar layak dan pantas saat  membawa Sakramen Mahakudus. Padahal saya biasanya akan mengenakan pakaian yang sudah saya kenakan hari itu bila besuk pasien di rumah sakit, sekalian kotornya. Pulang dari besuk langsung saya cuci baju itu dan mandi.

Siap sedia dan berjaga-jaga

komuni orang sakit.jpgSaya persiapkan perlengkapan kirim komuni. Di tas prodiakon saya selalu tersedia kelengkapan kirim komuni: taplak putih kecil, salib duduk, lilin, korek api, piksis, hisop kecil, corporal, purificatorium dan kain putih cadangan (biasanya untuk lap tangan sesudah cuci tangan saat akan terimakan komuni). Saya bawa busana prodiakon dan kelengkapannya, alba, singel dan samir warna putih karena sesudah lihat kalender liturgi, tanggal 28 Agustus adalah peringatan wajib St. Agustinus, warna liturginya putih. Selesai persiapan, saya berangkat ke RS Margono. Semua langkah yang saya ambil saya unggah di grup WA Prodiakon agar tidak “tabrakan”, siapa tahu bersamaan ada teman prodiakon yang juga tergerak hatinya untuk kirim komuni ke pasien tersebut. Banyak teman prodiakon yang kirim pesan di grup WA mendoakan saya. Itu menambah semangat saya.

Saya tidak langsung membawa Sakramen Mahakudus, tetapi akan meninjau tempat dulu karena saya tidak begitu paham liku-liku RS Margono yang sangat luas. Pertimbangan saya, agar saat membawa Sakramen Mahakudus nanti saya dapat langsung menuju ke pasien tanpa banyak berhenti untuk bertanya dan ketika sampai di sana tidak perlu berkenalan dulu. Saya sampai rumah sakit jam 13.00 lebih. Ternyata jam bezuk sudah selesai. Di tengah kebingungan saya, ada seorang bapak yang memberitahu bahwa di luar jam bezuk bisa masuk tapi lewat belakang, memutar. Mengikuti saran bapak tersebut saya memutar. Lumayan jauh.

Setelah bertanya beberapa kali, akhirnya ketemu juga ruang pasien tersebut berada. Saat itu pasien baru dikunjungi saudara-saudaranya. Dia masih mampu berkomunikasi dengan cukup baik (mudah dipahami). Setelah berkenalan dan menyampaikan tujuan, saya bertanya, ”Apakah Bapak siap menerima komuni?” Pasien menyatakan siap. Lalu saya minta pasien untuk persiapan batin.

Kemudian saya mengambil Sakramen Mahakudus dan air suci di paroki karena lebih dekat jaraknya daripada ke stasi. Karena sudah tahu ruangan pasien, saya dapat langsung menuju ke sana tanpa bertanya-tanya. Langsung saya siapkan meja kemudian doa penerimaan Komuni, diikuti keluarga pasien yang hadir dengan khidmat. Selesai penerimaan komuni, lega sekali rasanya, saya ngobrol sebentar dengan keluarga pasien, menguatkan pasien dan keluarganya kemudian saya pamitan.

Sakramen minyak suciSaya pulang dengan suka cita karena sudah diperkenankan menghantarNya sebagai bekal untuk pasien, ketika keluarga sudah berserah kepada Tuhan dan hanya berharap mukjizat dari Tuhan untuk kesembuhannya. Walaupun cukup capek karena harus berputar – putar untuk mencapai ruang pasien, tapi sungguh saya bersyukur dapat melaksanakan tugas dengan baik. Mungkin bagi teman prodiakon lain ini hal biasa karena sudah sering. Bagi saya, ini kali kedua diperkenankan menghantar Sakramen Mahakudus di saat-saat terakhir hidup seseorang. Bagi saya istimewa, karena saya tidak tahu waktu Tuhan. Tugasku hanyalah berjaga-jaga dan selalu siap siaga.

Penulis :

Margaretha Tri Rahayu

Margaretha Tri Rahayu, Prodiakones Stasi Sokaraja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.