BERANI MULAI DARI YANG KECIL

Hari Minggu Biasa XVII (28-29 Juli 2018)

2 Raj. 4:42-44; Mzm. 145:10-11.15-16.17-18; Ef. 4:1-6; Mrk. 6:1-15

Diterbitkan oleh Tim Kerja Kitab Suci – DPP. Santo Yoseph Purwokerto 

“Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?” (Yoh 6:9)

Bapak/Ibu dan Saudara/i terkasih

Dalam kehidupan kita sehari-hari tentu kita pernah menerima tamu.  Tamu yang datang kepada bisa tamu yang memang sengaja kita undang dan sering juga tamu yang tidak kita undang. Jika kita menerima tamu yang kita undang sudah tentu kita menyediakan segala sesuatu untuk menjamu tamu kita, tetapi untuk tamu yang tidak kita undang sering kita tidak siap untuk menjamu atau memberi hidangan untuk mereka. Banyak dari masyarakat kita yang jika kedatangan tamu selalu ingin memberikan hidangan yang layak. Bahkan ada yang mengusahakan ini itu dengan pinjam tetangga hanya untuk memberikan hidangan sebagai bentuk penghormatan untuk tamu kita.

5 roti 2 ikanBacaan Injil hari ini menceritakan Yesus juga kedatangan “tamu” dan memberi makan tamuNya yang banyaknya 5000 orang. Yesus kedatangan ribuan tamu yang tidak diundang. Umat laki-laki, perempuan dan anak-anak mereka berbondong-bondong datang kepada Yesus. Mereka semua datang atas kemauannya sendiri, mereka tidak diundang oleh Yesus. Dalam situasi yang demikian apa yang dilakukan oleh para murid dan Yesus?

Bapak/Ibu dan Saudara/i terkasih,

Refleksi saya dari Injil hari ini, Yesus memberikan kepada kita beberapa teladan ini:

1.   Peka terhadap situasi

Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” (ay 5) Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya. (ay 6)

Dari ayat 5 dan 6 ini dapat kita tangkap bahwa para murid tidak peka terhadap situasi saat itu. Situasi di mana orang-orang yang datang memerlukan makan. Maka Yesus menunjukkan kepada para murid dan juga kita supaya peka terhadap situasi disekitar kita. Selanjutnya membuat keputusan untuk berbuat sesuatu.

2.   Mengasihi tanpa batas

Memberi makan ribuan orang tentu saja bukan hanya laki-laki, tetapi juga perempuan dan anak-anak menunjukkan betapa Yesus mengasihi semua orang.  Dan dalam situasi saat itu tentu saja mereka datang bukan dari satu daerah saja, tetapi dari berbagai daerah. Ini menunjukkan betapa Yesus mengasihi mereka semua tanpa membeda-bedakan. Semua diberi bagian yang sama, roti dan ikan yang sama. Yang dapat mengenyangkan mereka. Bahkan Kasih Tuhan Yesus tanpa batas, karena Ia rela mati disalib untuk menebus dosa umat manusia.

3.   Berani mulai dari yang kecil

Yesus membuat mujizat (hal yang besar dan luar biasa diluar jangkauan manusia) hanya dari yang kecil. Untuk memberi makan 5000 orang Yesus mulai dari 5 roti dan 2 ikan. Dan kelima roti dan dua ikan tersebut diambil dari seorang anak kecil.  Dari sini Yesus mau menunjukkan kepada kita buatlah dari hal-hal yang kecil untuk mendapatkan hal yang besar dan luar biasa. Dalam kehidupan iman kita kadang kita tidak berani untuk memulai dari yang kecil. Misal melayani sebagai penerima tamu (petugas tata tertib) di gereja. Dengan menyediakan dan menunjukkan serta menghantar umat untuk mendapatkan tempat duduk, maka umat tersebut dapat mengikuti perayaan ekaristi dengan baik, dengan khusyuk dan khidmat. Umat tersebut mendapatkan rahmat dan pulang dengan penuh kedamaian. Apakah ini bukan hal yang luar biasa?

Kita juga dapat membuat hal yang luar biasa di dalam keluarga kita masing-masing, hanya dengan saling mengasihi diantara anggota keluarga kita. Kehidupan keluarga yang damai sejahtera tentu dambaan setiap orang. Apakah ini juga bukan hal yang luar biasa?

4.   Kerendahan hati

Apa yang dibuat Yesus membuat banyak orang tertegun dan takjub. Maka di mana Yesus berada mereka datang untuk melihat mujizat-mujizat yang dibuat oleh Yesus. Mujizat yang dibuat oleh Yesus bukanlah sebuah show, pertunjukan untuk ditonton, tetapi sebagai tanda kebenaran Allah bahwa Yesus datang dari Allah. Dan supaya mereka percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah. Karenanya mereka ingin Yesus menjadi rajanya (secara politis). Namun Yesus tidak mau menjadi raja mereka, melainkan pergi menyingkir ke gunung. Inilah teladan kerendahan hati yang Yesus tunjukkan kepada kita. Bukan pujian dan ketenaran yang dicari oleh Yesus. Kiranya sikap Yesus ini dapat menjadi dasar bagi kita dalam melaksanakan pelayanan-pelayanan kita, baik dalam keluarga, gereja maupun masyarakat.

Bapai/Ibu/Saudara/i terkasih, marilah kita terus menerus mengasah kepekaan kita dan berani mulai dari yang kecil dalam pelayan-pelayanan kita di keluarga, gereja dan masyarakat yang didasari oleh kerendahan hati untuk menyatakan kasihNya yang luar biasa.

Berkah Dalem

Yulius SP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s