MENGENAL BUNDA MARIA

Maria adalah seorang perawan yang tinggal di Nazaret, daerah Galilea. Yoakim dan Anna adalah nama ayah dan ibunya. Sebagai seorang Yahudi Maria sangat mengharapkan kedatangan sang Mesias, yaitu Juruselamat dunia. Dalam kehidupan Geraja Katolik, Bunda Maria merupakan sosok pribadi yang mempunyai tempat sungguh istimewa. Gereja Katolik sangat menghormatinya, sehingga dapat kita lihat, begitu kuat Devosi terhadap Bunda Maria.

Penghormatan ini dilakukan oleh Gereja Katolik dengan berbagai macam cara dan Devosi. Gereja Katolik memberikan bulan khusus, yaitu Mei dan Oktober untuk menghormati Bunda Maria. Pada bulan Mei dan Oktober, Gereja Katolik mengajak umatnya untuk berdoa Rosario, baik secara pribadi maupun berkelompok (baik di lingkungan/stasi, dsb) ataupun lewat ziarah-ziarah ke gua Maria. Dalam kehidupan Liturgi Gereja Katolik, menempatkan beberapa pesta yang berkaitan dengan bunda Maria. Hal tersebut menunjukan bahwa Bunda Maria sungguh mempunyai tempat yang istimewa di dalam Gereja katolik.

Apa Keistimewaan Bunda Maria?

Gabriel Visits Mary Luke 1:26-38Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38)

Dari perikop diatas kita mengetahui, bahwa dengan penuh iman dan penyerahan diri secara total kepada penyelenggaraan ilahi, Bunda Maria berani menjawab panggilan Allah.

Dalam perjalanan hidupnya Bunda Maria mempunyai relasi yang sangat mesra dengan Putranya Yesus Kristus, sejak ada dalam kandungan serta sampai wafat-Nya, karena ia telah dipilih oleh Allah menjadi Bunda Allah. Kedekatan relasi inilah yang menjadikan Gereja katolik mempunyai keyakinan bahwa Maria sungguh-sungguh istimewa, baik di hadirat Allah maupun manusia.

Lewat perjalanan sejarah, Gereja – dalam bimbingan Roh Kudus dan lewat berbagai konsili: Nicea, konsili Efesus, konsili Kalcedon – menetapkan bahwa Yesus sebagai Anak Allah, yang memang sungguh-sungguh Allah oleh karena sehakikat dengan Bapa, menjadi daging, menjadi manusia begitu rupa, sehingga Ia adalah Allah dan manusia (secara serentak), namun tetap satu.

Karena Yesus adalah benar-benar Allah, maka ibu Yesus menjadi ibu Allah. Istilah “Mater Dei” (bahasa latin) yang artinya Bunda Allah, mulai disebut pada abad ke IV.

Maria dalam Konteks Inkarnasi

Misteri inkarnasi (natal) bukan cuma soal Sabda yang menjadi daging (manusia) atau  Allah yang mendatangi manusia untuk menebus umat manusia, melainkan misteri itu bisa kita lihat dan renungkan lebih dalam lagi yaitu Allah yang berinisiatif untuk bersatu dengan ciptaanNya secara definitif supaya ciptaanNya bersatu dengan Dia. Di sinilah terjadi peristiwa iman-wahyu: proses membuka diri. “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yoh 1:1)

Dalam peristiwa inkarnasi, Kristus, Sang Putra Allah, menjadi senasib dengan manusia, membuat ke-AllahanNya yang tidak terbatas menjadi seolah-olah terbelenggu dan berdiam dalam kemanusiaanNya, dengan segala kelemahan dan ketebatasanNya. Dalam hal ini Santo Agustinus mengatakan : Dia yang adalah Allah Putra, mengosongkan diriNya, dan mengambil rupa seorang hamba, namun Ia tidak kehilangan ke-AllahanNya.

Inkarnasi, Allah yang menjadi manusia, adalah suatu rencana besar Allah bagi manusia (Luk 2:10-14). Rencana ini tidak pernah bisa dilepaskan dari sejarah keselamatan manusia sejak manusia pertama kali jatuh ke dalam dosa. “Setelah pada jaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan AnakNya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada.” (Ibr 1:1-2).

Maria diikutsertakan dalam Rencana Allah

Setiap manusia dilibatkan oleh Allah dalam rencana keselamatan. Seperti kita ketahui cerita dan riwayat para nabi (Yesaya, Yeremia, Samson, Daud, Ishkak, dll). Dalam hal ini Maria mendapatkan peran yang sangat penting demi terjadinya kehendak Allah tersebut. Maria dipilih oleh Allah menjadi ibu Mesias.

Selama ini yang sering kita dengar dan renungkan mungkin hanya Maria akan mengandung seorang bayi, dan bayi itu anak Allah. Tetapi kalau kita memahaminya dari sudut pandang orang Yahudi tentunya tugas ini menjadi dua kali lebih berat dari pada yang kita bayangkan. Orang Yahudi sangat kental tradisi keagamaanNya. Orang Yahudi pada jaman Yesus bahkan sampai sekarang, menanti-nantikan hadirnya seorang Mesias, Juru Selamat. Sebagaimana janji Allah kepada Daud, Raja Israel, Allah akan membangkitkan seseorang dari keturuan Daud (dibaca : akan lahir dari keturunan Daud), dan akan menjadi raja bagi bangsa Israel, dan kerajaanNya akan jaya selamanya dan tidak akan pernah berakhir.

Sebagai seorang Yahudi yang saleh, Maria tentunya juga hidup dalam pengharapan yang sama dengan harapan orang-orang sebangsanya. Dalam peristiwa Maria menerima kabar Gembira dari Malaikat sebenarnya Maria mengalami dua keterkejutan sekaligus kebahagian.

Keterkejutan yang pertama adalah ternyata Mesias seorang tokoh yang sudah ditunggu-tunggu oleh seluruh bangsanya akan muncul. Harapan besar itu segera terwujud. Segala penderitaan Israel karena penjajahan dan morat marit pemerintahan pada waktu itu akan segera berakhir dengan hadirnya seorang mesias.

Keterkejutan yang kedua adalah ternyata Mesias ini akan hadir ke dunia melalui rahimnya sendiri. Seperti yang sudah sering kita dengar, hal ini tentu tidak mudah bagi Maria yang nota bene masih sangat muda waktu itu.

Sisi yang kita mau kupas dalam kesempatan ini adalah pergulatan Maria ketika ia tahu bahwa yang dikandungnya adalah seorang tokoh besar yang sudah dinanti-nantikan dan diharap-harap oleh banyak orang. Orang Israel mengira Mesias akan lahir dari rahim seorang perempuan dari kalangan kerajaan, yang jelas-jelas keturunan Raja Daud. Sementara Maria hanya perempuan biasa. Bisa kita bayangkan sejak semula Maria sudah sadar akan penolakan bangsanya terhadap Putranya ini. Akan terjadi tegangan antara pengharapan orang-orang sebangsanya dengan kenyataan apa yang dikehendaki oleh Yesus. Dan sepertinya penolakan terhadap Yesus sebagai Sang Mesias sungguh-sungguh terjadi.

Seperti kita tahu mendidik anak bukanlah pekerjaan yang mudah. Anak adalah titipan Tuhan di mana seorang ibu mempunyai tugas untuk mendidik dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang dan pengorbanan yang tidak sedikit.

Maria dan Yesus

Dalam kasus Maria, hal ini menjadi sangat tidak mudah. Bisa dibayangkan bagimana sikap dan kelakuan Yesus setelah besar kalau Maria salah mendidiknya. Tugas Maria tidak berhenti ketika ia mengandung dan melahirkan Yesus. Tugas Maria seperti dikatakan dalam Injil adalah mendidik Yesus, memperkenalkan Yesus pada bait Allah, memperkenalkan Yesus pada tradisi bangsanya, mendampingi Yesus, bahkan sampai menemani di kaki Salib.

Senjata Maria adalah Doa. Menghadapi tugas yang tidak mudah itu Maria mempunyai kekuatan yaitu kesadaran bahwa Allah pasti akan mendampingi dia dalam segala hal. Doa Maria sudah sering kita doakan seperti Ibadat Sore yaitu dalam Kidung Maria (Luk 1:46-55). Dalam Kidung Maria sebetulnya terkandung iman Maria yang sangat dalam, yaitu Allah yang selalu setia pada perjanjianNya. Hidup kita ini didasari oleh perjanjian antara Allah dan manusia, di mana Allah akan memberikan berkat melimpah kepada manusia yang senantiasa percaya dan berpegang teguh padaNya. Dan dalam perjanjian itu Allah selalu setia sedangkan manusia seringkali lupa dan tidak setia dengan perjanjian tersebut. Namun Allah sebagai pihak yang dirugikan berkali-kali memperbaharui perjanjianNya dengan manusia dengan harapan manusia akan berubah. Di atas ketidaksetiaan manusia, Allah tetap setia.

Gelar Maria sebagai Tabut Perjanjian & Dikandung Tanpa Noda (Immaculata)
Mary Ark of the Covenant MonstranceSt. Maria digelari “Tabut Perjanjian”. Apakah ada dasarnya dalam kitab suci tentang hal tersebut? Pertama-tama marilah kita lihat apakah itu tabut perjanjian? Tabut perjanjian adalah tempat untuk menyimpan 10 Perintah Allah. tabut perjanjian dibuat sebagus dan sebaik mungkin (lihatlah pada keluaran 25:10-22) lalu sesudah semua itu dilakukan Tuhan pun hadir dalam bentuk (dengan tanda) awan (lih. Keluaran 40:34). Kesimpulannya, untuk menaruh Firman Allah diperlukan tempat yang terbaik. Demikian halnya dengan Maria yang harus mengandung Yesus yang adalah Firman. Maria diidentifikasi sebagai Tabut Perjanjian Baru (The Ark of the New Covenant) seperti bisa dilihat dalam ayat-ayat berikut ini:

  • Ibrani 9:4 “Di situ terdapat mezbah pembakaran ukupan dari emas, dan tabut perjanjian yang seluruhnya disalut dengan emas, di dalam tabut perjanjian itu tersimpan buli-buli emas berisi manna, tongkat Harun yang pernah bertunas dan loh-loh batu yang bertuliskan perjanjian.
  • Yesus adalah Roti yang turun dari Surga = Manna: Yohanes 6:32-35 “Maka kata Yesus kepada mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari surga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia…Akulah roti hidup, barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.”

  • Yesus adalah Imam Agung = Tongkat Harun: Ibrani 8:1 “Inti dari segala yang kita bicarakan itu ialah: kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan tahta Yang Mahabesar di surga”

  •  Yesus adalah Sang Firman = 10 Perintah Allah: Yohanes 1:1 “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”

Seperti Daud berkata tentang tabut perjanjian, demikian pula Elizabeth berkata tentang Maria:

  • 2 Samuel 6:9 “Pada waktu itu Daud menjadi takut kepada Tuhan, lalu katanya: ‘Bagaimana tabut Tuhan itu dapat sampai kepadaku?”

  • Lukas 1:43 “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?”

  • Juga ada adegan dimana Daud melonjak-lonjak/menari gembira di depan tabut perjanjian dan pararelnya bisa ditemukan pada ayat Lukas 1:44 “Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan”

  • Wahyu 11:19 dan 12:1 “Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di surga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat.”  “Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.”

Dari uraian diatas Gereja Katolik percaya bahwa Maria dikandung tidak bernoda dosa asal karena Maria mengandung Yesus Sang Sabda yang menjadi Manusia (bdk. Yoh 1:1-18) . Kita tahu bahwa Allah tidak mungkin bersatu dengan dosa karena Allah adalah Kudus (bdk. Yes 6:3) dan jika kita tidak suci maka kita tidak akan melihat Allah (Ibrani 12:14), apalagi Maria yang harus mengandung Allah yang menjelma menjadi manusia. Kata “dikaruniai” (Lukas 1:28: “engkau yang dikaruniai”) menurut Origenes, salah seorang Bapa Gereja, hanya diberikan kepada Maria. Maria dibebaskan dari noda dosa sehingga ia layak menyandang gelar “yang dikaruniai”. Dosa asal dan dosa pribadi menghalangi orang untuk menerima Karunia, sedangkan Maria disebut sebagai “yang dikaruniai” maka ini menunjukkan Maria dibebaskan dari noda dosa. Martin Luther (tokoh Reformasi Protestan) mengatakan: “She is full of grace, proclaimed to be entirely without sin – something exceedingly great. For God’s grace fills her with everything good and makes her devoid of all evil.” (Personal {“Little”} Prayer Book, 1522). Karena itulah Gereja Katolik percaya Maria dipersiapkan dari awal mula untuk mengandung Yesus Sang Sabda. Hal itu mungkin sekali karena sebelum kita lahir Allah sudah mengenal kita (lihat Yeremia 1:5) dan karena Maria akan mengandung Sang Sabda tentunya Maria dipersiapkan sebaik mungkin oleh Allah. Sama halnya bila kita mengambil analogi dari tabut perjanjian dimana tabut perjanjian dipersiapkan dari awal (sebelum tabut itu terbentuk misalnya harus disepuh emas, dll) untuk menyimpan sabda Allah. Hal ini tidak bertentangan dengan Roma 3:23 karena Maria bebas dari noda dosa juga karena Rahmat Penebusan dari Yesus Kristus yang akan dikandungnya jadi Maria memang tetap memerlukan penyelamat. Oleh karena itu Maria berkata “hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,” (Lukas 1:47). Ini menunjukkan bahwa Maria tetap butuh seorang penyelamat.

Maria diangkat ke Surga

Maria diangkat ke surgaDalam Gereja Katolik St. Maria dipercaya diangkat ke Surga dengan jiwa  dan raganya setelah meninggal dunia. Hal ini menjadi dogma (ajaran resmi) dalam Gereja Katolik yang dimaklumkan pada 1 November 1950 oleh Paus Pius XII. Dogma ini bukan sesuatu yang jatuh dari langit tetapi sudah lama hal ini dihayati dalam Tradisi Apostolik (tradisi para rasul). Bila kita melihat dogma ini dalam Kitab Suci, ini merupakan suatu hal yang panjang dan rumit sekali.

Dalam Perjanjian Lama ada 2 orang yang ke surga tanpa mengalami kematian yakni Henokh & Elia. Jika Henokh dan Elia yang tidak dipersiapkan secara khusus oleh Allah untuk mengandung Yesus dengan dibebaskan dari segala noda dosa, apalagi Maria yang sudah dipersiapkan secara khusus untuk mengandung Yesus. Henokh dan Elia yang tidak mendapat gelar “yang dikaruniai” (seperti pada Maria di Lukas 1:28) dapat diangkat ke Surga, apalagi Maria yang mendapat gelar itu. Selain itu, St. Paulus dalam surat-suratnya juga menyatakan bahwa dimungkinkan adanya pengangkatan ke surga (bdk 1Tes 4:17, 2Kor 12:2). Jika demikian, pantaslah Maria mendapat kehormatan tersebut.

Dogma Maria diangkat ke Surga didasari karena ia dipersatukan erat dengan Puteranya. “Dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri” (Lukas 2:35) menunjukkan perasaan yang akan dialami Maria perihal Yesus yang ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan …….. (Lukas 2:34). Nampak jelas adanya kedekatan antara Maria dan Yesus. Demikian halnya ketika Yesus wafat, bangkit dan naik ke Surga. Maria juga mengalami kematian, tetapi dibangkitkan dengan jiwa dan raganya untuk bersatu dengan Puteranya di surga. Itulah juga yang dialami oleh semua orang yang percaya dan diselamatkan oleh Yesus (1 Tes 4:17). Jadi Dogma Maria diangkat ke Surga menyatakan bahwa Maria mendahului semua orang lain menikmati keselamatan yang dikerjakan Yesus Kristus karena ia dipersatukan erat dengan Puteranya.

Dalam Wahyu 11:19 dikatakan “Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di surga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat.” Disini dinyatakan bahwa Tabut perjanjian berada didalam surga. Lalu Wahyu 12:1-6 (“Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya…..”) jelas menunjuk pada pribadi Maria.  Wahyu 11:19 dan 12:1-dst menggambarkan bahwa setelah terlihat tabut perjanjian-Nya maka ada kilat,dll, sesudah itu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan…..dst……. Ini menunjukkan bahwa tabut perjanjian ada di surga dan tabut perjanjian itu adalah Maria. Jadi langsung atau tidak langsung Yohanes hendak mengatakan bahwa Maria ada di surga dengan tubuhnya, bukan hanya rohnya saja. Mengapa? Karena Tubuh Maria adalah Tabut Perjanjian dimana Sang Sabda yaitu Yesus yang menjelma menjadi Manusia dikandung di tubuhnya. Diperkuat dalam Wahyu 12:6 bahwa bagi Maria memang disediakan suatu tempat oleh Allah. St. Yohanes juga hendak mengatakan bahwa Maria sesudah selesai segala tugasnya diberi tempat khusus di surga.

Sampai sekarang, tidak pernah ditemukan kubur St. Maria. Kita tahu bahwa umat Kristen perdana sangat menghormati Maria. Maka, mustahil jika misalnya makam Bunda Maria tidak dijaga dan dilestarikan.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa apa yang terjadi pada Maria dapat terjadi pada kita umat beriman. Maria adalah typos (model) Gereja. Maria Dikandung tanpa Noda Dosa karena dipersiapkan untuk menghadirkan Kristus melalui dirinya untuk menjalankan rencana penyelamatan Allah. Kita menjadi dibebaskan dari noda dosa (dosa asal dan dosa sebelum pembabtisan) pada saat pembabtisan [walaupun dalam perjalanan hidup sesudah pembabtisan kita dapat berbuat dosa kembali] untuk mempersiapkan kehadiran Yesus dalam diri kita sehingga dapat kita wartakan pada masyarakat. Benarlah yang dikatakan oleh Paulus “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Galatia 2:20). Maria Diangkat ke Surga setelah wafatnya, kitapun akan dibangkitkan pula dengan jiwa dan raga kita. Kita akan mengenakan tubuh yang baru yang tidak akan binasa lagi (lih. 1Kor 15:50-54) setelah kita meninggal.

(dari berbagai sumber)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s