BAPA MEMBALAS YANG TERSEMBUNYI*)

BERBAGI KABAR GEMBIRA KELUARGAKU – KELOMPOK KATEGORIALKU

“Legio Mariae” itulah kelompok kategorial yang saya ikuti. Pertama mengenal saat kuliah di Sanata Dharma Jogjakarta. Saya tinggal di sebuah asrama wanita yang berada dekat kampus Gejayan, satu kamar dengan kakak kelas, lain jurusan tetapi masih satu kampus. Dia  aktif di gereja  dan di kampus. Dia pulalah yang mengenalkan saya dengan Legio Mariae.

Bagaimana saya pertama kali masuk menjadi legioner

Tidaklah mudah hati saya tergerak dan terbuka untuk mengikuti kegiatan Legio. Berkali-kali kakak kelas membujuk, mengajak agar mau bergabung dengan kegiatan ini. Tetapi berkali-kali pula saya menolak dengan alasan banyaknya tugas dan kegiatan di kampus. Saya benar-benar tidak berminat mengikuti Legio, karena saya berpikir juga, bahwa kegiatan ini akan menyita banyak waktu.

Kakak kelas begitu sabar dan tetap baik bahkan kami seperti saudara, seperti kakak adik (kebetulan kami sama-sama anak sulung).

Meski saya menolak diajak, tetapi sering memperhatikan kegiatan yang dilakukannya, terutama pelayanannya. Saya sungguh terkesan, dalam kesibukan sebagai mahasiswa, tetapi masih bisa meluangkan waktu untuk peduli  terhadap sesama. Betapa egonya saya yang hanya memikirkan studi dan tidak peduli dengan sesama.

Akhirnya karena kesabarannya dan sikapnya itulah yang menggerakkan hati saya untuk mencoba hadir dalam rapat mingguan. Ternyata banyak teman-teman dari Sadhar, Atmajaya, UGM, dan kampus lain yang bergabung dalam Legio Mariae. Mereka semua sangat welcome. Saya merasa seperti memiliki keluarga baru. Apalagi saat doa, saat melaporkan tugas, dan saat melakukan kegiatan pelayanan. Disiplin waktu dan jujur dalam memberikan laporan, apa adanya tanpa dibuat-buat, tanpa merasa malu dan gengsi.

Mulai merasakan sukacita menjadi legioner

Karena merasakan sukacita dalam Legio, maka saya pun menjadi tertarik dan bersyukur bisa bergabung di Legio sebagai tentara Maria. Pelan-pelan saya belajar menjadi legioner dengan semangat Maria. Dan ingin berusaha meniru kerendahan hati Maria, ketaatan, doa, kebijaksanaan, dan pengorbananNya untuk kasih akan Allah.

Sambil kuliah, saya menjalani tugas sebagai seorang legioner, dan banyak belajar dari tugas pelayanan. Belajar peduli, berbagi, sabar, kerjasama dengan teman, disiplin, saling mendoakan, saling menolong, dan masih banyak lagi.

Saya yang dulu merasa kegiatan ini menyita waktu, setelah bergabung saya justru menemukan kemudahan khususnya dalam studi. Puji syukur, lancar dan bisa menyelesaikan dengan baik. Berkat Tuhan dan doa bunda Maria.

Setelah lulus, saya sempat menjadi anggota auxilier (anggota bantu) sebentar, karena banyak kesibukan dan kemudian hidup berumahtangga.

Kerinduan saya

Keluarga saya hidup berpindah-pindah karena pekerjaan suami menuntut demikian. Selama berpindah-pindah itulah saya sempat berhenti menjadi legioner. Kerinduan saya untuk bergabung dengan Legio muncul saat berada di Purwokerto. Saya mencoba mencari  informasi sendiri karena waktu itu belum banyak yang dikenal. Akhirnya saya mendapat informasi dari “Beranta” (Berita Antar Kita, salah satu media informasi Paroki St. Yoseph Purwokerto-red.). Namun saya punya kendala, karena rapatnya sore hari. Padahal di sore hari saya ada kegiatan.

Legio-rapat komisium kecil
Para legioner mengadakan Sidang Komisium Kecil di Aula Paroki St. Yoseph (26/07/2017)

Tuhan tahu kerinduan  dan niat saya. Saya bersyukur dipertemukan Tuhan dengan salah seorang legioner dan mengajak untuk merintis presidium legio baru dengan menyesuaikan waktu saya. Karena baru terbentuk, saya dan teman-teman anggota legio masih harus banyak belajar baik di dalam urusan presidium maupun belajar untuk mengenal karakter masing-masing. Dan sekarang anggota legio di presidium yang saya ikuti makin bertambah. Syukur pada Tuhan dan bunda Maria atas berkat dan doa, serta dukungan romo pembimbing rohani, Romo AM. Kristiadji R, MSC dan romo Paroki, Romo Ag. Dwiyantoro, Pr sehingga Legio Maria presidium Regina Misericordiae ini masih tetap bertahan meski banyak hal yang dialami.

Sukacita yang saya rasakan

Bahagia rasanya saat bisa rapat, bertemu legioner yang lain dalam doa dan karya pelayanan. Apalagi dalam doa bisa mendoakan banyak orang. Yang dulu biasanya jika berdoa hanya untuk kepentingan sendiri dan keluarga saja, tetapi dari Legio, saya belajar juga untuk lebih peduli baik dalam bentuk doa dan pelayanan nyata. Karena di dalam legio ada berbagai jenis doa, termasuk doa Rosario. Doa menguatkan iman untuk lebih dekat, lebih sering berkomunikasi dengan Tuhan dan Maria.

Begitu juga dengan para anggotanya yang saling menguatkan, mendukung, dan tetap bersemangat meski kebanyakan lansia. Legioner diharapkan bisa berkarya di balik layar yang  biasanya tidak diketahui banyak orang.

Maka BapaMu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Matius 6: 18b)

Hal inilah  yang sangat menarik bagi saya. Ada kebahagiaan dan kepuasan tersendiri saat bisa melakukan itu…. Sangat bersyukur jika bisa seperti itu.

Bersyukur pula bisa berbagi sukacita saat bertemu, saat kunjungan, dan saat pelayanan yang lain.

Berkah Dalem Gusti.

Penulis:

Bu Anik
A.Anik Iswarini
lingk St. Ignatius

*) Salah satu pemenang lomba Menulis BKSN 2017. Judul asli “Berbagi Kabar Gembira Keluargaku-Kelompok Kategorialku” diubah oleh redaksi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s