BKSN = Berbuah Kasih, Syukur dan imaN

Kitab Suci sebagai Sabda Tuhan sekaligus buah refleksi pengalaman iman

Tidak terasa kegiatan seputar Kitab Suci telah berlalu dengan ditandai Misa Penutupan BKSN 2017 di hari Minggu 01 Oktober 2017 pkl. 18.00 di paroki St. Yoseph Purwokerto. Dalam homilinya, Rm Kristiadji, MSC mengajak umat untuk mensyukuri Kitab Suci sebagai kabar gembira bahwa Allah mengasihi kita dan menuntun kita menuju keselamatan. Kitab Suci juga merupakan pengalaman iman umat Allah menanggapi tawaran kasih dan keselamatan itu. Kitab Suci kita bukanlah buku jadi yang tinggal “di-download” (diunduh). KS kita merupakan buah dari proses panjang relasi antara Allah dan manusia yang dituliskan oleh para pengarang kitab, Injil, surat-surat dan kisah para rasul dalam bimbingan Roh Kudus.

Dalam kesempatan itu, romo Kris mewawancari beberapa umat yang mengikuti lomba ayat emas, instafoto dan menulis. Ada dua juri menulis yang juga sempat membagikan kesan dan pesannya.

Setelah berkat penutup, romo mempersilahkan umat dan para petugas misa boleh pulang dulu. Sedangkan para pemenang lomba, juri dan panitia tetap tinggal dalam gereja untuk melanjutkan acara pembagian hadiah dan foto bersama. Ternyata masih banyak umat juga yang ikut menyaksikan acara singkat di akhir misa ini.

Lomba sebagai sarana berbagi kabar gembira

Ada 3 kategori lomba dalam kegiatan BKSN 2017 event sebulan, yaitu: lomba ayat emas dalam hidupku, foto instagram dan menulis yang bertema “Berbagi Kabar Gembira Keluargaku/ Lingkunganku/ Kelompok Kategorialku”.

Lomba ayat emas diikuti oleh 45 orang peserta dengan 61 karya ayat emas dan dimenangkan oleh 5 orang ditambah 1 orang pemenang favorit. Lomba foto instagram diikuti oleh 19 orang peserta dengan 92 karya foto, dimenangkan oleh 5 orang, ditambah 1 pemenang terfavorit (dengan jumlah like terbanyak: 188) dan 1 pemenang lingkungan, yakni St.Lucia dengan jumlah peserta terbanyak.

Sedangkan lomba menulis hanya diikuti oleh 4 orang peserta saja dengan 6 karya tulisan. Pemenangnya lingkungan St. Ignatius (karya terbanyak) dan 4 orang pemenang (salah seorang di antaranya mendapat 2 hadiah atas dua tulisannya).

Kembali ke homili yang diselingi wawancara dengan para pemenang lomba dan juri menulis, saya terkesan dengan jawaban dari Mba Eulalia dan Mas Sutriyono. Mba Eulalia menjelaskan bahwa menulis itu mudah, seperti bercerita saja, dengan alur yang baik dan benar serta nyaman untuk dibaca. Sedangkan Mas Tri berpesan, jika ada pengalaman atau peristiwa yang “menggetarkan”, cepat dicatat dan dirangkai menjadi sebuah tulisan supaya tidak lupa/hilang begitu saja, tapi bisa bermanfaat bagi orang lain.

Dari penjelasan beliau-beliau yang tentunya sudah berpengalaman dalam bidang menulis, saya merasa bersyukur mendapat pengetahuan baru. Itu mengubah pandangan/pemikiran saya selama ini (semoga juga bagi orang lain yang sepaham kelirunya denganku..hehe) bahwa menulis itu sulit dan rumit, harus dengan gaya bahasa yang baik dan benar.

Rasa syukurnya tidak sekedar diucapkan (apalagi hanya dalam hati kan?) tapi harus diwujudkan dengan praktek, mencoba, dan berlatih terus. Semoga tulisan itu bisa menjadi obor pula bagi orang lain untuk berani mencoba dan melangkah untuk menulis. Awalnya keliru, salah sedikit gak apa-apalah, namanya juga berlatih, begitu prinsip sederhana saya. Tulisan ini sudah tulisan kesekian kalinya yang saya buat.

Saat saya membaca beberapa karya pemenang lomba menulis, saya merasa bersyukur. Selain alur cerita mereka yang bagus dan nyaman dibaca, saya pun merasa diteguhkan oleh cerita/kesaksian mereka yang menyentuh hati. Ada pengalaman kasih dan iman yang turut meneguhkan saya.

Mengajak umat berbagi kabar gembira

Syukur yang lain karena saya merasa tercapainya tujuan kami yakni mengajak umat berani untuk bercerita, bersaksi, mewarta lewat ayat emas, foto instagram dan karya tulisan. Walau belum banyak umat yang terpanggil atau belum berani menulis dan ikut jadi peserta lomba, tapi kami timker KS yakin, banyak cerita, pengalaman, kisah, peristiwa, kesaksian dalam hidup umat di paroki St. Yoseph yang menarik. Hanya saja, semua itu belum tertuang dalam karya tulisan (seperti mutiara yang terpendam).

Harapan kami, semoga kegiatan ini dapat menjadi pencetus, memberi contoh pada umat lain supaya berani pula untuk mencoba menulis. Sehingga makin hari makin bertambah umat yang terpanggil untuk berani bersaksi, berbagi, mewarta lewat tulisan, maupun lewat karya lainnya.

Rasa syukur saya terasa lebih besar saat melihat hasil karya lomba foto instagram. Banyak umat begitu antusias. Mereka begitu bersemangat berfoto ria, mengabadikan beberapa kegiatan mereka, dari yang bersukacita sampai yang serius. Karya foto peserta pun bagus-bagus dari yang sederhana sampai yang unik, kreatif. Kami merasa tujuan lomba ini tercapai, yakni berhasil mengajak umat untuk berbagi, bersaksi, mewarta lewat foto, sesuai dengan arus perkembangan zaman (era kekinian).

Lepas dari 2 kegiatan di atas, sekarang saya mau berbagi rasa syukur yang mendalam, ketika ku lihat peran/ keterlibatan aktif dari 2 imam/gembala di paroki kami. Mereka rela berbagi waktu di tengah kesibukan dan kepadatan jadwal tugas penggembalaan mereka. Tak segan mereka pun turun mengumat, tidak ada rasa jaim (=jaga image, red.), mau turut bergabung, ikut berdiskusi lewat wa grup tentang lomba-lomba, bahkan membantu sebagai tim juri. Rm Toro terlibat dalam tim juri foto instagram sedangkan Rm Kris dalam tim juri menulis. Ini sungguh menjadi contoh dan teladan buatku, yang membuahkan limpah syukur dan kasih dalam hati. Saya dapat melihat “YESUS KEKINIAN” yang hadir kembali di depan mataku, tidak hanya 1 tapi diberi 2 orang sekaligus. Imanku diteguhkan karena peristiwa ini mengingatkanku bagaimana Yesus rela memberikan diri, meninggalkan tahta turun ke dunia. Itu semua karna cintaNya pada umat manusia. Dari kekompakkan 2 orang imam-gembala kami inilah, paroki kami tampak dan terasa banget perubahan dan perkembangannya. Karena mereka dapat memimpin dengan baik, dapat menggali, menyemangati, “mengusik”, mengarahkan dan mengembangkan potensi-potensi umatnya.

Ayat emas yang sangat bernilai dalam hidup

Sekarang kita lanjut lagi ke 1 kegiatan lomba, yaitu ayat emas. Penjurian kami laksanakan pada hari Selasa, 26 September 2017, jam 7 malam di ruang TBR (St. Yohanes Baptis). Tim jurinya adalah timker KS. Karena memang sedang musim penghujan, maka malam itu, yang hadir hanya kami berdua (saya dan pak Chandra Heng selaku penanggung jawab tim juri). Kami tetap bersemangat melaksanakan tugas.

Lima Ayat Emas terbaik
Lima disain Ayat Emas terbaik dalam rangka BKSN 2017

Saat terima tumpukan ayat emas dari peserta dan membukanya, saya kagum melihat karya-karya peserta yang luar biasa. Bagus-bagus, indah-indah, unik dan kreatif. Hanya 1 kata yang terucap dalam hatiku : WOW… Lalu kami baca satu per satu karya ayat emas yang disertai cerita singkat mengenai alasan mengapa ayat tersebut dipilih. Dalam hatiku ada rasa begitu senang, kagum, haru serta syukur.

Sungguh tidak habis pikir, benar-benar di luar pikiran/ gambaran kami semula, akan menerima, mendapatkan hasil yang memuaskan begini. Jujur, sebenarnya, kami sempat ragu, khawatir dan pesimis awalnya. Kemudian kami mengantisipasi dengan sebaik-baiknya, merancang, mematangkan pemikiran dan membuahkan kebijakan. Kami akan menerima ayat emas dalam bentuk apapun (yang didisain indah maupun tidak).

Memang semua yang terjadi adalah atas maunya Tuhan. “RancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu.” (Yes 55:8). Menjelang akhir, baru banyak karya yang masuk, serta ada peserta yang begitu bersemangat mau ikut tapi tidak bisa men-design indah. Itu tetap kami terima dengan senang hati, dan hargai. Sebab bagi kami ayat-ayat emas (sesuai dengan kata emas adalah logam mulia yang bernilai mahal) tentunya ayat-ayat pilihan tersebut nilainya melebihi emas, yang jauh lebih berharga. Ayat-ayat yang tidak hanya sekedar kata-kata, tetapi yang telah menyemangati, meneguhkan, menopang dalam hidup mereka. Serupa dengan nafas hidup, kata-kata yang dihidupi oleh Roh Kudus, Roh Allah di dalamnya.

Setelah kami membaca 1/1 kemudian kami memilih dan menentukan pemenang-pemenangnya. Kami bersyukur karena karya design pemenang sudah bagus-bagus, tidak perlu kami design ulang lagi, maka kami memutuskan untuk langsung dicetak dan diperbanyak saja, sesuai dengan hasil karya mereka. Kemudian kami bagikan 1 pembatas buku ayat emas kepada setiap Keluarga yang hadir misa dan dibagikan ke lingkungan (1 pembatas buku/KK karena edisi terbatas).

Saya juga bersyukur atas kerelaan umat untuk berbagi Kitab Suci dan dana untuk membeli Kitab Suci. Melalui kotak sumbangan terkumpul dana sebesar Rp. 883.000  dan  11 Kitab Suci. Dana dan Kitab Suci tersebut masih kurang atau belum memenuhi jumlah Kitab Suci yang dimohonkan oleh umat (sebanyak 34). Bila masih ada umat yang rela berbagi, kami tentu akan menerima dengan senang hati.

Saya sungguh bersyukur dapat menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan selama BKSN 2017 ini (termasuk kegiatan BKSN Event one day: Bible Sunday & Kids Bible Sunday). Tentunya pertama-tama syukur kepada Allah dan kedua, terima kasih atas kerjasama yang baik dari rekan-rekan tim kerja KS dan kepanitiaan. Tak lupa terima kasih juga atas dukungan dari DPP, pengurus stalingkat dan para donatur. Ini semua adalah keberhasilan bersama yang patut kita syukuri dan bisa kita kembangkan di tahun mendatang. Semoga syukur, kasih dan iman terus berbuah limpah di tengah umat paroki St. Yoseph.  *_*

Penulis:

Kornelia Yulin
Kornelia B.Yulin
Timker KS

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s