MEMPERSIAPKAN DIRI MENYAMBUT EKARISTI

Mengapa kita harus mempersiapkan diri?

Sering kita mendengar, dan mungkin juga mengalami, bahwa mengikuti Misa Kudus dapat menjadi sesuatu yang rutin. Bukannya tidak mungkin bahwa di kalangan orang Katolik sendiri ada yang menganggap ikut Misa hanya kewajiban. Bahkan ada yang berkomentar misalnya, ‘misanya bikin ngantuk’ atau ‘khotbahnya kurang semangat’. Padahal kita semua mengetahui bahwa Ekaristi adalah sumber dan puncak ibadah kita, sebab Kristus sendiri hadir di dalamnya. Bagaimana seharusnya, supaya kita dapat lebih menghayati Misa Kudus? Berikut ini adalah langkah-langkah yang dapat kita renungkan agar sedapat mungkin (dan sebanyak mungkin) kita memperoleh rahmat Ekaristi; karena efek penerimaan rahmat tersebut tergantung juga dari sikap batin kita saat menerima Ekaristi. ((Sacrosanctum Concilium, 11, Vatikan II tentang Liturgi Suci menjabarkan pentinganya persiapan batin sebelum mengikuti liturgi, “Akan tetapi supaya hasil guna itu diperoleh sepenuhnya, Umat beriman perlu datang menghadiri liturgi suci dengan sikap-sikap batin yang serasi.”)).

Jika perhatian utama kita dalam Misa Kudus adalah Tuhan Yesus, maka sesungguhnya kita mempunyai alasan yang kuat untuk mempunyai ketetapan hati yang sungguh untuk mempersiapkan hati sebelum menyambut Dia dalam Ekaristi. Dengan persiapan yang baik, kita akan lebih dapat menghayati dan mengalami efek yang lebih besar setelah menerima rahmat Ekaristi. Namun jika perhatian kita tertuju pada diri sendiri dan perasaan kita, maka akan sulit bagi kita untuk menghayati rahmat tersebut. Sebab yang kita harapkan adalah supaya kita ‘merasakan’ dan mengalami sesuatu, dan bukannya mengimani sesuatu –dalam hal ini adalah kehadiran Tuhan sendiri- yang tidak dapat kita lihat dan kita rasakan. Padahal, iman yang sejati adalah iman yang berdasarkan pada pengharapan (lih. Ibr 11:1) dan bukan pada perasaan.

Maka kini, mari kita mohon pada Tuhan agar kita beroleh karunia iman yang sejati, yang berpusat pada Tuhan (dan bukan pada perasaan kita). Dengan demikian kita dapat memiliki sikap hati yang benar, baik sebelum, pada saat dan sesudah menerima Ekaristi Kudus. Pada intinya, kita harus datang ke hadapan Tuhan dengan hati sebagai hamba, yang siap menerima dan memberikan juga jerih payah kita. Ingatlah bahwa dengan berpartisipasi dalam Ekaristi kita memenuhi tugas panggilan imamat bersama, yang kita terima pada saat Pembaptisan kita, saat kita menerima peran sebagai imam, nabi dan raja (lih. 1 Pet 2:9).

Prinsip dasar yang perlu kita ketahui tentang Misa Kudus

Pertama-tama, kita perlu mengetahui bahwa Misa Kudus terdiri dari 2 bagian, yaitu: Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Kedua bagian ini sangat berkaitan satu dengan lainnya dan membentuk satu kesatuan ibadat kita. ((Sacrosanctum Concilium, 56, “Misa suci dapat dikatakan terdiri dari dua bagian, yakni liturgi sabda dan liturgi Ekaristi. Keduanya begitu erat berhubungan, sehingga merupakan satu tindakan ibadat.”)) Hal ini berdasarkan pengajaran dari Yesus sendiri, yang menampakkan Diri setelah kebangkitan-Nya pada kedua muridNya yang berjalan ke Emaus (lih. Luk 24:13-35). Yesus menyatakan kehadiran-Nya pertama-tama dengan menjelaskan isi Kitab Suci, mulai dari kitab Musa dan kitab nabi-nabi. Mendengarnya, hati kedua murid itu berkobar-kobar, walaupun pada saat itu mereka belum menyadari bahwa Yesuslah yang sedang berkata-kata kepada mereka. Kemudian mereka meminta Yesus untuk tinggal dan makan bersama dengan mereka. Hanya pada saat Yesus mengambil roti, mengucap syukur dan memecah dan membagikannya, maka para murid itu mengenali Dia.

Maka, jika kita ingin menghayati Misa Kudus, kita harus menyadari kedua bagian ini dan berpastisipasi di dalamnya. Di bagian pertama, Liturgi Sabda, peran kita adalah aktif mendengarkan dan meresapkannya, dan di bagian kedua, Liturgi Ekaristi, kita aktif ikut mengucap syukur dan mempersembahkan korban kita. ‘Korban’ di sini bukan hanya terbatas pada korban roti dan anggur yang ada di tangan pastor- yang akan diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus, tetapi juga adalah korban yang kita bawa sebagai persembahan kita, yaitu diri kita sendiri dan segala yang ada dalam hati kita: suka duka, syukur, pergumulan, sakit penyakit, dst. Korban kita ini akan dipersatukan dengan korban Kristus, Sang Kepala, agar berkenan di mata Allah Bapa.

Petunjuk praktis

Persiapan sebelum Perayaan Ekaristi

  1. doa dan firmanBaca dan renungkanlah Bacaan Misa Kudus hari itu sebelum menghadiri Misa, entah malam sebelumnya (doa malam) atau pagi hari (doa pagi). Keterangan bacaan Misa Kudus ini dapat diperolah dari website ini (silakan klik di sini) ataupun dari buku renungan harian yang berdasarkan Kalender Gereja. Awali permenungan akan Sabda Allah ini dengan doa syukur, demikian juga di akhir renungan. Jika semua anggota keluarga beragama Katolik, kita dapat merenungkannya bersama-sama sebagai satu keluarga: yaitu suami, istri dan anak-anak. Hal ini baik juga untuk menanamkan kebiasaan membaca dan merenungkan kitab suci pada anak-anak.
  2. Ambillah satu ayat yang dapat kita ingat untuk kita ulangi di dalam hati. Kita dapat mengulangi ayat ini dan meresapkannya di dalam hati. Atau renungkanlah beberapa tema kasih Tuhan berkaitan dengan Ekaristi Kudus, seperti: Yesus adalah Roti Hidup yang kuperlukan; Ekaristi adalah sumber suka cita dan kekuatanku; Komuni mempersiapkan aku untuk kebahagiaan Surgawi; Dalam Komuni aku berjumpa dengan Yesus Sahabat dan Tuhanku, dll.
  3. Periksalah batin, dan jika kita menemukan dosa yang cukup berat, akukanlah dosa tersebut di hadapan Tuhan dan juga buatlah ketetapan hati untuk mengaku dosa pada Pastor dalam sakramen Tobat; jika memungkinkan sebelum misa, namun jika tidak, secepatnya pada hari-hari berikutnya.
  4. Untuk persiapan Misa Kudus hari Minggu, persiapkan segala sesuatunya sebelumnya, supaya tidak tergesa-gesa. Misalnya, siapkanlah uang persembahan/ kolekte (baik jika dimasukkan di dalam amplop), siapkanlah anak-anak, terutama jika anak-anak sering membuat kita terlambat ke gereja. Bangunlah lebih pagi, jika perlu. Siapkanlah pakaian yang pantas dan sopan untuk kita pakai ke gereja. Contoh sederhana: jika kita punya sepatu, pakailah sepatu, bukan sandal, apalagi sandal jepit; jika kita punya baju berlengan, pakailah itu, dan jangan pakai baju tangan buntung. Ingatlah bahwa apa yang terlihat dari luar adalah cerminan dari isi hati. Lagipula, Sang Tamu Agung yang akan kita sambut adalah lebih mulia daripada seorang Presiden atau Raja!
  5. Persiapkanlah Kurban Rohani yang akan kita persembahkan kepada Tuhan.  Ingatlah bahwa setelah dibaptis, kita dipilih Tuhan sebagai bangsa pilihan, umat yang rajani, yang memiliki imamat bersama. Maka meskipun pemimpin Misa adalah imam yang telah ditahbiskan (imam jabatan) yang bertindak atas nama Kristus, namun itu bukan berarti kita hanya ‘menonton’.  Sebaliknya, kita juga harus mengambil bagian dalam kurban itu, sebagai anggota Tubuh Kristus yang menghantar persembahan kita bersama-sama dengan kurban Kristus sang Kepala. Kurban persembahan yang dapat kita persiapkan adalah kurban pujian dan syukur atas rahmat Tuhan yang kita terima, atau bahkan kurban hati yang hancur, jika kita sedang menghadapi pergumulan dan permasalahan. Persiapkanlah semua kurban itu di dalam hati kita agar dapat kita bawa ke hadapan-Nya.
  6. Janganlah makan atau minum dalam waktu 1 jam sebelum menerima Komuni ((Kitab Hukum Kanonik Gereja tahun 1983, can. 919 menyebutkan bahwa “Seseorang yang akan menerima Ekaristi Kudus harus berpuasa sedikitnya satu jam sebelum Komuni kudus, artinya tidak makan dan minum, kecuali air putih dan obat.” Sesungguhnya, peraturan ini tidaklah sukar karena hampir praktis artinya tidak makan dan minum dalam perjalanan ke gereja, jika jarak antara rumah dan gereja sekitar ½ jam, dan jika kita datang ke gereja sekitar 15 menit sebelum misa dimulai.)), untuk sungguh memberikan keistimewaan pada Kristus yang akan menjadi santapan rohani.
  7. Nyalakanlah kaset lagu rohani, atau lagu meditasi yang dapat mengarahkan hati kepada Tuhan, sebelum berangkat ke gereja. Sebaiknya di perjalanan kita hening dan sudah mulai mengarahkan hati kepada Tuhan. Kita dapat pula berdoa rosario di dalam perjalanan dari rumah ke gereja.
  8. Datanglah cukup awal, supaya setidaknya ada waktu untuk berdoa misalnya sekitar 10-15 menit sebelum misa dimulai, dan menenangkan hati dan pikiran sebelum mengikuti misa.

Pada saat di gereja: Tenangkanlah batin, dan dengarkanlah Tuhan

Pada saat kita memasuki gedung gereja, kita membuat tanda salib dengan air suci, yang mengingatkan kita pada janji Baptis kita, yaitu untuk selalu beriman kepada Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Katakanlah dalam hati, “Aku mengingat bahwa aku telah dibaptis di dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus,  aku telah dibebaskan dari dosa asal,  diberi kehidupan ilahi di dalam Kristus dan digabungkan di dalam Tubuh-Nya yaitu Gereja-Nya.”

Pada sebelum kita memasuki baris bangku gereja kita tunduk/ berlutut sejenak, menghormati tabernakel. Di dalam hati kita katakan, “Tuhan Yesus, aku menyembah Engkau yang hadir dalam Sakramen Maha Kudus.” Sesudahnya, duduklah tenang mempersiapkan diri dalam keheningan batin.Misa Kudus adalah saat kita bertemu dan bersatu dengan Tuhan dalam keheningan. Keheningan itu penting, karena dalam keheningan kita dapat melepaskan diri dari semua keterikatan pikiran dan kehendak kita; dan sepenuhnya mengarahkan hati kepada Tuhan. Musik, doa, dan renungan itu baik, namun seharusnya semua itu menghantar kita pada persatuan dengan Tuhan yang paling dalam, yaitu dalam keheningan batin, di mana tidak ada apa-apa lagi selain hanya Tuhan dan kita.

Untuk mencapai keheningan batin inilah kita semua berjuang, karena begitu kita mencoba, maka pada saat yang sama pikiran kita akan dipenuhi oleh pikiran-pikiran yang lain, mulai dari pekerjaan, masalah yang sedang kita hadapi, sampai hal-hal sepele; seperti mau makan apa sepulang misa, jalan-jalan sama teman atau ingatan akan film TV yang semalam baru ditonton! Jika pikiran kita melayang sedemikian, katakan pada diri sendiri: “Sekarang aku di sini. Aku hanya perlu melakukan satu hal: ikut serta sepenuh hati merayakan kehadiran Kristus dalam Ekaristi. Tuhan, bantulah aku mengarahkan hati dan mempersembahkan kurban kasihku kepadaMu.” Arahkanlah pandangan kepada salib Yesus atau Tabernakel, atau jika dipandang lebih mudah, tutuplah mata dan berdoalah dalam ketenangan. Ingatlah akan kurban yang hendak kita persembahkan bersama dengan kurban Kristus dalam Misa Kudus ini: misal, kurban syukur atas berkat yang kita terima, kurban pergumulan yang sedang kita hadapi, ataupun kurban doa syafaat untuk orang-orang yang kita kasihi. Sampaikanlah hal ini kepada Tuhan.

Begitu musik lagu pembukaan dinyanyikan, berdirilah, sambutlah kehadiran Tuhan. Ikutlah menyanyi dengan segenap hati. Ketika imam dan semua pelayan altar menunduk di hadapan altar, turutlah menunduk, dan katakan di dalam hati, “Ya Tuhan, aku hadir di sini, memenuhi panggilan-Mu.”

Ingatlah akan segala kekurangan kita, dan katakan dari hati “Tuhan kasihanilah kami, Kristus kasihanilah kami, Tuhan kasihanilah kami”. Ucapkanlah pujian yang keluar dari hati, memuliakan Tuhan dalam “Gloria”. Pada saat imam mengucapkan doa pembukaan, jadikanlah perkataan imam sebagai kata hati kita sendiri.

Liturgi Sabda

mendengarkan sabdaSesaat sebelum memasuki Liturgi Sabda, tenangkan hati dan sungguh-sungguh pusatkan perhatian untuk mendengarkan pembacaan pertama Sabda Tuhan. Karena kita telah membaca sebelumnya, semoga kita dapat lebih meresapkannya pada saat kita mendengarkannya kembali. Demikian pula dengan Mazmur dan bacaan kedua. Nyanyikanlah Alleluia. Ingatlah bahwa Yesus dahulupun memuji Allah Bapa dengan nyanyian yang sama, Alleluia: Hallel, O Yahweh (Terpujilah O, Tuhan). Pada saat pembacaan Injil, kita mencoba merenungkan bahwa kita termasuk bilangan dari orang-orang yang menyaksikan sendiri perkataan/ perbuatan Yesus pada saat itu. Pujilah Kristus saat Injil selesai dibacakan.

Pada waktu homili, dengarkanlah pesan imam. Jika sampai pikiran kita melayang, katakanlah pada diri sendiri: “Aku hadir di sini untuk Kristus. Tuhan, bantulah aku…” Kemudian dengarkanlah kembali. (Sesungguhnya doa ini dapat kita ucapkan berkali-kali, setiap saat pikiran kita ‘berbelok’ dari fokus kepada Tuhan). Sedapat mungkin tariklah kaitan antara homili dengan Injil yang baru saja dibaca, serta pelajaran apa yang kita peroleh sehubungan dengan itu. Jika kenyataannya adalah kita benar-benar ‘mengantuk’ dan tidak dapat menangkap isi khotbah seluruhnya, jangan berkecil hati. Berdoalah pada Tuhan, agar Ia membantu kita mengingat minimal satu kalimat atau bahkan satu kata saja yang dapat berbicara kepada kita. Misalnya saja, kita menangkap kata: “Bertobat” atau “Percayalah”… hal itu adalah pesan bagi kita.

Pada saat mengucapkan Syahadat Aku Percaya, ucapkanlah dengan iman yang teguh. Yakinilah dengan iman bahwa Allah adalah Pencipta langit dan bumi yang telah mengutus Putera-Nya Yesus Kristus untuk menyelamatkan kita. Pada saat mengucapkan “… dan akan Yesus Kristus… yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria…” kita menundukkan kepala dengan hormat, sebab kita sungguh menyadari akan kasih Allah yang terbesar: bahwa Ia telah menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita.

Selanjutnya, ikutilah mengucapkan doa umat dalam hati, sadarilah bahwa kita merupakan bagian dari anggota Tubuh Kristus yang terdiri dari umat seluruh dunia. Doa kita sebagai anggota Tubuh yang satu akan menyumbangkan kebaikan buat anggota Tubuh yang lain.

Liturgi Ekaristi

Selanjutnya, kita memasuki Liturgi Ekaristi. Tibalah saatnya kita mempersembahkan segala sesuatu kepada Tuhan: persembahan kolekte yang telah kita siapkan, namun lebih dari itu adalah persembahan segenap kasih, kehendak, pikiran, pergumulan kita kepada Tuhan. Pada saat imam memberkati roti dan anggur di altar suci, pada saat itu pula kita turut mempersembahkan persembahan kita. Sadarilah bahwa pada saat itu, kita bukan sekedar ‘menonton’ apa yang dilakukan imam, melainkan kita sendiri ikut mengangkat hati dan mempersembahkan diri kita kepada Tuhan. Persembahan kita adalah korban syukur kita kepada Tuhan, atau, dapat juga berupa hati yang hancur, seperti dikatakan dalam Mzm 51:19: “Korban kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak Kaupandang hina, ya Allah.” Korban kita itu kita gabungkan dengan korban semua anggota Gereja (Tubuh Kristus) yang menjadi satu dengan korban Kristus (Sang Kepala), yang dihadirkan kembali oleh kuasa Roh Kudus. Korban ini mempersatukan kita dengan seluruh anggota Tubuh-Nya, baik yang masih berziarah di bumi, maupun yang sedang dimurnikan di Api Penyucian dan yang sudah berjaya di Surga.

Saat Doa syukur agung dibacakan, arahkanlah hati kepada Tuhan, sehingga kita sungguh mengatakan dengan iman, bahwa “sudah layak dan sepantasnya” bahwa kita mengagungkan Tuhan kita. Sebab sungguh layak dan kuduslah Tuhan, yang patut kita sembah dan kita muliakan. Maka pada saat Kudus, kudus, kudus dinyanyikan atau dibacakan, kita menggabungkan pujian kita dengan pujian seluruh isi surga, para malaikat dan seluruh anggota Gereja di manapun juga, memuji Allah segala kuasa, dan Kristus yang telah datang atas nama Tuhan. Ya, terpujilah Tuhan di surga!

roti hidupDengan hati penuh syukur, kita merenungkan kembali perkataan Yesus yang penuh kuasa. Bahwa sebelum menderita sengsara, Ia telah menetapkan perjamuan bersama para murid-Nya yang kini kita lakukan demi peringatan akan Dia. Konsekrasi adalah bagian yang utama dalam Misa Kudus, yaitu pada saat imam mengatakan, “Terimalah dan makanlah. Inilah Tubuhku yang dikurbankan bagimu.” Dan kemudian imam mengangkat roti hosti. Pandanglah hosti kudus itu dengan penuh syukur dan kasih sebab Kristus telah rela mati untuk menebus dosa kita. Kini, oleh kuasa Roh Kudus-Nya Ia menghadirkan kembali Misteri Paska di tengah kita. Oleh Sabda Allah yang dikatakan oleh imam, hosti itu bukan hosti lagi, melainkan Tubuh Kristus sendiri. Maka kita dapat memandang hosti itu sambil berkata seperti yang dikatakan oleh Rasul Thomas, “Ya Tuhanku dan Allahku.” Demikian pada saat imam berkata, “Terimalah dan minumlah. Inilah piala darahKu, darah perjanjian baru dan kekal, yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa. Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku;” kita memandang piala yang diangkat itu, sambil mengatakan hal yang sama, “Ya Tuhanku dan Allahku.” Kita dapat menundukkan kepala, tanda hormat dan syukur atas Misteri Kristus ini. Katakan dengan iman, “Terima kasih Yesus, Engkau telah mengasihi aku dan menyerahkan diriMu untuk aku” (Gal 2 :20).

Selanjutnya kita lambungkan madah anamnese, ”Wafat Kristus kita maklumkan, kebangkitanNya kita muliakan, kedatanganNya kita rindukan.” Dengan demikian kita menyatakan iman kita atas Misteri Kristus: Ia telah wafat, bangkit dan akan kembali. Dan sementara kita menantikan kembali kedatangan-Nya, kita dikuatkan oleh Kristus sendiri dalam Ekaristi. Di dalam Dia kita dipersatukan sebagai satu Tubuh, dalam pimpinan Bapa Paus dan para uskup. Kita juga dipersatukan dengan para saudara kita yang telah berpulang di dalam kerahiman Tuhan (pada saat ini kita boleh mendoakan saudara-saudari kita yang telah meninggal dunia). Kita juga dipersatukan dengan para kudus di surga, terutama dengan Bunda Maria dan para rasul. Sehingga bersama mereka kita dapat mengangkat pujian kepada Tuhan Allah Tritunggal Maha Kudus seiring dengan perkataan imam, “Dengan pengantaraan Kristus, bersama Dia dan dalam Dia, bagiMu, Allah Bapa yang mahakuasa, dalam persekutuan dengan Roh Kudus, segala hormat dan kemuliaan sepanjang segala masa.” Kita menjawab Amen, Amen. (Ya, kemuliaan bagi-Mu ya Tuhanku!).

Kini tibalah saatnya kita mengucapkan doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus kepada kita, yaitu doa “Bapa Kami”. Bayangkanlah bahwa Yesus ada di hadapan kita melihat bagaimana kita mengucapkan doa yang diajarkan-Nya ini. Ucapkanlah dengan iman, setiap kata dalam doa ini. Bayangkanlah bahwa kita bersama dengan seluruh murid Yesus dipersatukan di dalam doa ini, dengan memuliakan Allah kita yang di dalam Kristus dapat kita panggil sebagai “Bapa Kami”.

salam damai.jpgSelanjutnya adalah doa damai. Saat memberikan salam damai, jangan sampai pusat perhatian kita bergeser dari Tuhan kepada orang-orang di sekitar kita. Walaupun mata kita memandang mereka saat memberi salam, namun yang terpenting adalah niatan di dalam hati kita untuk berdamai, tidak saja kepada mereka, tetapi juga kepada mereka yang menyakiti ataupun yang kita sakiti hatinya. Orang-orang di sekitar kita yang kita beri salam adalah sebagai wakil yang mengingatkan kita akan niatan hati kita itu. Ingatlah akan pesan Yesus, “…jika engkau mempersembahkan di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada di dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu…” (Mat 5:23). Maka salam damai yang kita nyanyikan harusnya bukan sekedar ‘basa-basi’, namun sesungguhnya membawa akibat perubahan yang besar, yaitu bahwa kita berketetapan hati untuk mengampuni orang (siapapun orang itu) yang menyakiti kita, dan meminta ampun kepada orang yang telah kita sakiti hatinya. Jika kita belum sempat melakukannya sebelum Misa, biarlah kita melakukannya sekembalinya kita dari Misa Kudus.

Hanya dengan hati yang dipenuhi damai inilah, maka kita dapat dengan lapang memandang Tuhan Yesus, Sang Anak Domba Allah. Pandanglah Kristus, dan kita akan belajar dari-Nya bagaimana caranya mengasihi dan mengampuni, sampai sehabis-habisnya. Dia telah menyerahkan DiriNya di kayu salib, sebagai bukti kasih-Nya yang tiada batasnya pada kita: Ia mau menderita, demi menebus dosa kita, Ia mau dihina sedemikian rupa, untuk menanggung akibat dosa kita. Ia rela berkorban, sampai seperti anak domba, yang tanpa melawan, menyerahkan nyawa-Nya. Pandanglah Kristus, dan akuilah segala kelemahan kita, bahwa kita sering tidak mau dan tidak dapat berkorban. Sekali lagi kita mohon belas kasihan dari-Nya dan mohon kekuatan atas niat kita untuk berdamai dan menjadi pembawa damai: “Anak Domba Allah, kasihanilah kami…. Berilah kami damai…”

Saat Kristus dalam rupa Hosti itu diangkat di hadapan kita, lihatlah bukti kerendahan hati Yesus yang tidak ada taranya: Setelah menjelma menjadi manusia dan wafat sebagai seorang hamba, Kristus yang adalah Putera Allah semesta alam, kini merendahkan diri, dengan mengambil rupa sepotong roti, supaya kita dapat menyambutNya, tanpa merasa canggung, takut dan malu. Ia menyembunyikan kemuliaan-Nya, agar kita dapat menghampiriNya. O, seandainya kita dapat mengatakan dengan iman seperti yang dikatakan oleh perwira itu, “Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya. Tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.” Semoga Tuhan melihat iman dalam hati kita, sehingga seperti Ia dahulu mengabulkan permohonan perwira itu, kini Ia-pun mengabulkan permohonan kita.

Kini tibalah saatnya kita menantikan saat yang suci itu: bahwa kita akan menyambut Komuni. Saat menunggu, maupun berjalan menghampiri altar suci, arahkan hati kepada Tuhan, “Tuhan, ini aku, datang menyambutMu…” atau “Tuhan, mari masuklah ke dalam hatiku…” Ucapkanlah, “Amin”, pada saat menerima “Tubuh Kristus”. Biarlah tubuh dan jiwa kita bersyukur tiada terhingga menyambut sang Tamu Agung: Raja Semesta Alam yang Ilahi masuk ke dalam diriku, bersatu dengan tubuh dan jiwaku! Salam, hai Engkau, Roti Surgawi, mari masuk dan tinggallah di hatiku”

Doa setelah menerima Ekaristi

Setelah menerima Ekaristi, kita kembali ke tempat duduk dan terus berdoa:

  1. Sembahlah Yesus yang bertahta di hati kita. Bayangkan kita mencium kaki Yesus dan tangan-Nya yang menunjukkan bekas luka-luka karena dipaku di kayu salib. Pandanglah Dia, dan serahkan diri kita kepadaNya. “Engkaulah Tuhanku, Engkaulah Rajaku, aku menyembahMu, Tuhan. Aku mengasihi Engkau.”
  2. Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia telah mengasihi kita, menghargai kita dengan mau datang dan masuk dalam diri kita melalui Komuni Kudus. Pujilah Tuhan, untuk segala kebaikanNya. Undanglah para malaikat, semua orang kudus, dan Bunda Maria untuk juga mengucap syukur bersama kita.
  3. Sekali lagi, mohonlah ampun untuk semua dosa dan kesalahan kita. Seperti Maria Magdalena yang bertobat dengan air mata, akuilah segala kelemahan kita: kegagalan kita untuk menekan keinginan berbuat dosa, kemalasan, tidak mau berkorban, cinta diri melebihi cinta kepadaNya dan sesama. “Tuhan, ajarilah aku untuk menghindari dosa demi kasihku kepada-Mu.”
  4. Mohonlah kepada-Nya, apa yang menjadi keinginan kita. Namun terutama, mari kita berdoa agar Tuhan menguduskan kita dan semua manusia. Kita mohon juga agar Tuhan memberikan kasih di dalam hati kita, supaya kita dapat mengasihi. Kita berdoa atas kebutuhan kita dan orang-orang yang kita kasihi. Jangan lupa berdoa bagi Gereja, bagi Bapa Paus, bagi para imam, terutama imam yang memimpin perayaan Ekaristi ini; dan juga berdoalah bagi pertobatan para pendosa. Di sini kita dapat menyebutkan doa-doa bagi orang-orang yang mohon doa-doa kita. Sebagai penutup, berdoalah agar Yesus dapat dikenal, dan dikasihi oleh sebanyak mungkin orang.

Setelah Misa Kudus selesai, pulanglah dengan membawa damai Tuhan. Baik jika sesudah misa-pun kita melanjutkan doa syukur. Sebaiknya kita tidak tergesa-gesa untuk pulang, sebab justru sesaat setelah menerima Komuni adalah saat yang terkudus. Adalah baik jika kita dapat berdoa dengan tenang, misal sampai sekitar 10 menit sesudah misa, untuk mengucapkan syukur bahwa Tuhan Yesus berkenan menjadikan kita Bait Allah yang hidup, sebab Ia telah memasuki tubuh kita. Karena itu kita dikuduskan, dikuatkan dalam iman, pengharapan dan kasih, serta dipersiapkan oleh Allah sendiri agar suatu saat nanti kita dapat bersatu denganNya di surga. Dengan penuh syukur, resapkanlah saat ini dekapan Allah yang mempersatukan Diri-Nya dengan kita. Biarlah seluruh hati kita dipenuhi oleh kasih-Nya: “Terima kasih, ya Tuhanku. Pujian, syukur, kemuliaan hanya bagi-Mu!”

Penutup

Saudara dan saudariku, mari kita tilik bersama bagaimana persiapan hati kita dalam menyambut Ekaristi. Sebab, jika kita menjalankan bagian kita dengan baik: mempersiapkan diri dan berpartisipasi aktif dalam Perayaan Ekaristi, sesungguhnya tidak mungkin kita ‘tidak mendapat apa-apa’ dari Perayaan Ekaristi. Jika kita merasa demikian, barangkali kita perlu dengan rendah hati mohon ampun kepada Tuhan, sebab itu berarti kita kurang menghargai karunia Tuhan Yesus yang terbesar, yaitu Diri-Nya sendiri. Ibaratnya, Tuhan telah memberikan segala-galanya, tapi kita masih ‘komplain‘ juga. Padahal jika kita diundang oleh seorang raja untuk makan bersama beliau di istana, tentu kita dengan serta merta menyiapkan diri, dan kita mungkin tidak terpikir untuk ‘komplain‘, bukan? Karena undangan sang raja itu sendiri adalah suatu berkat istimewa. Dalam Ekaristi, sesungguhnya kita menyambut Yesus, Raja di atas segala raja; dan Ia bukannya menjamu dengan santapan duniawi, tetapi dengan santapan surgawi, yaitu Diri-Nya sendiri, untuk membawa kita ke surga. O, betapa kita semua harus semakin menyadari hal ini! Semoga hari demi hari kita dapat semakin mensyukuri rahmat Ekaristi, dan semakin merindukannya….

Doa

“Ya Tuhan Yesus, terima kasih atas karunia Ekaristi-Mu. Bantulah aku agar selalu mensyukuri anugerah-Mu dan semakin hari semakin menghayati rahmat kudus-Mu itu. Biarlah aku menjadi alat bagi-Mu untuk menyampaikan kasih dan kebenaran, agar semakin banyak orang mengenal, mengasihi dan melayani Engkau sebagai Tuhan. Mampukanlah aku untuk mengikuti teladan-Mu dengan memberikan hidupku bagi sesama demi kasihku kepadaMu, sebab Engkau telah terlebih dahulu memberikan hidup-Mu kepadaku. Terpujilah Engkau, ya Tuhan selamanya.” Amin.

Penulis: Ingrid Listiati (katolisitas.org)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s