PETUNJUK KHUSUS TATA PERAYAAN PERKAWINAN

Persiapan

45. Agar calon suami-istri dipersiapkan dengan baik, maka menjelang perayaan Perkawinan imam hendaknya mengenal para calon dengan baik, antara lain dengan mengadakan kunjungan keluarga para calon. Dengan demikian penyelenggaraan Perkawinan akan menjadi lebih berdaya guna karena didukung pula oleh komunikasi pribadi yang lebih baik.

46. Selain mengadakan Kursus Persiapan Perkawinan, para calon hendaknya diberi kesempatan merundingkan dan memilih bacaan/doa/nyanyian/rumus tertentu yang sesuai agar mendukung perayaan yang berdaya guna.
47. Menjelang perayaan Perkawinan hendaklah kedua calon mempelai mempersiapkan diri dengan perayaan Sakramen Tobat, dan bila dianggap perlu sesudah itu mereka mengadakan latihan untuk liturgi Perkawinannya bersama para saksi dan orang tua.
48. Hendaknya kedua mempelai tidak diberi tugas dalam Liturgi Sabda (sebagai lektor, pembawa doa umat, dsb), sebab terutama bagi mereka berdualah Sabda Tuhan diarahkan. Demikian juga hendaknya mereka sendiri tidak tampil sebagai penyanyi.
49. Tugas yang lebih dianjurkan bagi mereka berdua ialah membawa dan menghantarkan sendiri bahan persembahan roti dan anggur dari tempat yang disediakan menuju altar, kemudian menyerahkannya kepada imam.
50. Komuni dua rupa hendaknya diberikan kepada kedua mempelai dan sedapat mungkin pula bagi para saksi dan orang tua. Bagi kedua mempelai, hendaknya dilaksanakan dengan cara menerima Tubuh Kristus dan meminum Darah Kristus dari piala, namun tidak saling menyuapkan.
51. Hendaknya perayaan liturgi tidak diganggu oleh kebiasaan mengambil gambar (foto, video). Apabila karena alasan penting, maka segala sesuatu harus dilakukan dengan sopan dan sangat berhati-hati. Para pengambil gambar (foto, video) hendaknya memelihara ketertiban dengan tidak ber-lalu lalang di sekitar panti imam.
52. Musik serta nyanyian yang dipilih hendaknya berciri liturgis. Penampilan sesuatu yang bersifat melulu sekular dan profan ke dalam perayaan liturgis, atau sesuatu yang hampir tidak ada keterkaitannya dengan kebaktian kudus, dengan dalih demi kesemarakan, hendaknya dihindari; hal ini khususnya berlaku untuk perayaan Perkawinan. Dewasa ini Gereja-gereja di Indonesia−terutama di kota-kota besar sudah ba-nyak dipengaruhi oleh kecenderungan memilih nyanyian-nyanyian profan itu, maka Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia telah berusaha memudahkan pemilihan lagu dengan daftar jenis lagu yang pantas atau tidak pantas untuk liturgi Perkawinan.

Penyerasian Budaya
53. Gereja menghargai unsur-unsur budaya dan memanfaatkannya apabila berguna bagi penghayatan iman kristiani. Secara khusus kemungkinan untuk penyerasian budaya sangat terbuka pada perayaan liturgi Perkawinan, “agar tidak asing untuk kebiasaan-kebiasaan masyarakat setempat.”
54. Namun dalam buku ini disajikan beberapa kemungkinan yang dapat berlaku secara umum bagi budaya-budaya di Indonesia. Oleh karena itu, pada beberapa rubrik perayaan dituliskan juga kemungkinan penyelarasan budaya dalam hal-hal yang tidak hakiki dan sekaligus memperjelas arti ritus yang bersangkutan supaya berdaya guna.
55. Ritus Pembuka dengan penjemputan mempelai pada pintu utama bercorak mengawali, mengantar, dan mempersiap-kan. Setiap budaya bangsa memiliki cara-cara sendiri untuk membuka, mengantar, dan mempersiapkan suatu perayaan. Oleh karena itu, dapatlah dipertimbangkan unsur-unsur budaya setempat dalam ungkapan kata-kata wakil keluarga dan tindakan restu dari keluarga menjelang perarakan masuk.
56. Sapaan kepada mempelai (“kalian”, “Anda,” “saudara”, dsb) dan petugas Gereja (untuk imam [Rama, Pastor, dsb], dia-kon, pelayan awam) dapat dipilih, diganti, atau ditambahkan sendiri sesuai dengan cita rasa budaya setempat.
57. Musik dan nyanyian memiliki banyak peluang untuk diserasikan. Namun hendaknya senantiasa diselaraskan dengan ritus perayaan, ajaran Gereja Katolik, dan syairnya bersum-ber dari teks Kitab Suci atau teks Liturgi.
58. Mazmur Tanggapan hendaknya dinyanyikan dengan indah dan pemazmur membawakannya di mimbar atau tempat lain yang cocok apabila tidak ada mimbar. Sedangkan Bait Pengantar Injil dapat juga dibawakan di tempat lain yang sesuai.
59. Mohon restu kepada orang tua dapat dilaksanakan pada awal atau pada akhir ritus Perayaan Perkawinan.
60. Sesudah saling mengenakan cincin, dapatlah dimasukkan pula tata cara adat setempat yang memperteguh arti ikatan Perkawinan yang telah dilaksanakan.
61. Penyerahan Kitab Suci, Salib, dan Rosario dari orang tua kedua belah pihak dapat diadakan sebagai dukungan dan nasihat untuk tetap setia kepada Tuhan dalam membangun keluarga.
62. Perarakan bahan persembahan membuka kemungkinan luas bagi penyerasian sebab menyangkut peran serta umat yang membawa dan mengantarkan bahan-bahan menurut cara dan budaya masing-masing. Perarakan ini terdiri dari tahap-an mengantarkan bahan-bahan persembahan, menyerahkannya kepada imam, lalu imam menerimanya. Dianjurkan supaya kedua mempelai melaksanakan tugas ini sejak awal bersama petugas lainnya. Dapat disertakan pula ungkapan simbolis dari budaya setempat.
63. Ritus Penutup terdiri dari tiga unsur: Salam, Berkat, Pengutusan. Boleh jadi bagi suku-suku bangsa tertentu bagian yang sederhana ini dibuat lebih semarak dengan ungkapan syukur, persahabatan, hormat, dan restu akhir dari kalangan tua-tua adat.
64. Ungkapan bahasa dan kata-kata terutama pada pengantar, Kata Pembuka, dan Homili hendaknya diusahakan sedemikian rupa sehingga umat yang hadir mengerti, mengalami, dan meresapkannya di dalam hati.
65. Menurut beberapa adat atau kebiasaan budaya, Perkawinan diselenggarakan selama beberapa hari dengan tahap-tahap ritual khusus. Saat-saat itu dapatlah didampingi dengan perayaan Sabda dan ritus-ritus pemberkatan. Pesta sendiri dapat merupakan “agape” (perjamuan kasih) yang mengembangkan cinta persaudaraan.

Tugas Imam Pendamping
66. Perayaan Perkawinan dalam Misa atau Perayaan Sabda kadang-kadang melibatkan beberapa imam sebagai petugas Gereja. Imam selebran tetap merupakan pemimpin utama perayaan itu. Namun, sesuai dengan norma-norma yang berlaku, khususnya untuk Misa Konselebrasi, beberapa tugas imam selebran dapat diserahkan kepada imam pendamping/konselebran.
67. Beberapa tugas yang dapat diserahkan pelaksanaannya oleh imam selebran kepada imam pendamping/konselebran adalah: [1] membacakan Injil, [2] menyampaikan homili, [3] memimpin ritus-ritus pelengkap, [4] ikut menumpangkan tangan di atas pengantin pada saat “Berkat untuk Mempelai”, namun doanya hanya dinyanyikan/dibacakan oleh imam selebran, [5] membantu membagikan komuni kepada pengantin dan umat.

Penyusunan Teks Liturgis Khusus
68. Dewasa ini tidak jarang terjadi bahwa pihak keluarga mempelai atas inisiatif sendiri menyusun buku atau teks liturgis Perkawinan. Buku Tata Perayaan Perkawinan ini hendaknya menjadi acuan utama untuk menyusun atau memperbanyak suatu teks liturgis khusus bagi keperluan pasangan tertentu. Buku-buku liturgis lain yang berkaitan dengan perayaan liturgi Perkawinan (misalnya Buku Bacaan Misa, buku Misale Romawi, buku nyanyian, dsb) sebaiknya juga tidak dia-baikan. Norma-norma dalam buku ini merupakan pedoman yang harus diindahkan agar pelaksanaan perayaan liturgi Perkawinan sesuai dengan ajaran Gereja dan tidak membingungkan pemimpin perayaan dan umat yang hadir.
69. Proses penyusunan suatu teks liturgis khusus yang merupakan penyesuaian dari salah satu jenis perayaan liturgi dalam buku ini hendaknya dilakukan dengan teliti oleh calon mempelai bersama imam yang akan memimpin perayaan tersebut; atau bersama pastor paroki dengan seksi liturgi parokinya, sambil tetap setia pada segala peraturan dan ru-musan yang termuat dalam buku Tata Perayaan Perkawin-an ini.

Waktu dan Rumus untuk Perayaan
70. Perayaan liturgi Perkawinan sebaiknya diadakan pada hari-hari biasa, supaya dapat digunakan rumus khusus untuk liturgi Perkawinan, terutama supaya dapat dirayakan dalam Misa khusus yang lazimnya disebut Misa bagi Mempelai (Missa pro sponsis). Namun, jika mempelainya beragama Katolik dan hendak merayakan Perkawinan pada hari Minggu, maka sebaiknya tetap diadakan dalam Misa Umat untuk hari Minggu, namun tidak menggunakan rumus Misa bagi Mempelai, melainkan rumus Misa hari Minggu yang bersangkutan dengan beberapa kemungkinan penyesuaian un-tuk keperluan liturgi Perkawinan. Aturan ini berlaku untuk Misa pada hari-hari Minggu dalam masa Natal dan masa Biasa, khususnya yang dihadiri umat paroki.
71. Perayaan ini dapat diadakan juga pada hari Minggu dalam masa Adven, masa Prapaskah, atau masa Paskah, pada suatu Misa Hari Raya, Rabu Abu, atau pada hari-hari biasa dalam Pekan Suci. Perayaan Perkawinan dapat dirayakan dalam Misa untuk hari itu, dengan berkat penutup mempelai yang meriah dan jika memungkinkan dengan rumus berkat penutup dari hari yang bersangkutan. Namun, sebaiknya di-pertimbangkan pula semangat tobat dalam masa-masa itu, sehingga tidak perlu mengadakannya dalam suasana kemeriahan yang berlebihan, baik di dalam perayaan liturgis maupun di luar perayaan liturgis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s