RENUNGAN

Dengan Kasih-Mu, Ku ‘Gembalakan’ Domba-Mu

Hari Minggu Paskah III (1 Mei 2022)

Kis. 5:27b-32,40b-41; Mzm. 30:2,4,5,6,11,12a,13b; Why. 5:11-14; Yoh. 21:1-19.

DITERBITKAN OLEH TIM KERJA KITAB SUCI – DPP. SANTO YOSEP PURWOKERTO

“….. Gembalakanlah domba-Ku” (Yoh 21:17)“Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh 20:28)

Bapak-Ibu, Saudara-saudari terkasih di dalam Tuhan Yesus.

Minggu ini kita telah memasuki Minggu Paskah III dan bertepatan dengan tanggal 1 Mei, artinya kita memasuki bulan yang secara khusus dipersembahkan untuk Bunda Maria. Maka seperti biasa kita melaksanakan ritual/tradisi kita dengan berdevosi kepada Bunda Maria melalui doa rosario.

Di hari Minggu Paskah III ini kita mendengarkan bacaan Injil Yohanes 21:1-19. Dari Injil Yohanes ini saya tertarik pada ayat 15-17, karena mengingatkan saya pada pertanyaan yang dilontarkan istri saya pada saya : “Pa, Papa sayang diriku?”. Pertanyaan ini tidak hanya dilontarkan satu dua kali. Entah sudah berapa kali. Kadang disampaikan saat kami berdua duduk-duduk sambil wedangan di ruang tamu, kadang disampaikan saat dalam perjalanan pulang dari Gereja berdua. Seingat saya yang lebih sering saat pulang dari Gereja.  Mendapat pertanyaan ini, saya sering salah tingkah. Kadang saya jawab hanya dengan senyuman, dan istri saya pun membalas dengan senyuman juga. Kadang saya jawab dengan balik bertanya : “Lha menurut mama gimana?”.  Kadang dengan jawaban : “Apa yang mama rasakan selama ini”, dan kadang saya juga hanya terdiam saja tanpa menjawab. Keterdiaman saya sebenarnya saya merefleksikan diri, apakah pernyataan sayang dan kasih yang saya ungkapkan dalam kehidupan sehari-hari di keluarga masih dirasakan kurang? Atau memang kualitas rasa sayang dan kasih saya mulai berkurang? Dari refleksi ini saya kemudian mencoba untuk meningkatkan kualitas sayang dan kasih saya.

Bapak-Ibu, Saudara-saudari terkasih di dalam Tuhan Yesus.

Petrus pada ayat 15-17 mendapatkan pertanyaan yang sama dari Tuhan Yesus sebanyak tiga kali. Dengan mendapat pertanyaan yang sama sebanyak tiga kali, membuat gundah Petrus. Maka dengan pasrah Petrus untuk ketiga kalinya menjawab dengan jawaban yang sama : “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Dan jawaban Tuhan Yesus pun sama : “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”.  Jawaban yang singkat dari Tuhan Yesus, tetapi mengandung tugas perutusan yang berat.

Petrus walaupun menyangkal Tuhan Yesus sebanyak tiga kali, tetapi tetap dipilih oleh Tuhan Yesus untuk menggembalakan domba-dombaNya. Ini menunjukkan betapa besar kasih Tuhan Yesus kepada murid-Nya itu. Tuhan Yesus menunjukkan bahwa kasih-Nya mengalahkan sekat-sekat dosa. Kasih-Nya menembus kelam dan gelapnya dosa. Karena kasih Tuhan Yesus adalah Kasih yang menyelamatkan. Rasul Petrus tentu sangat merasakan kasih yang Tuhan Yesus berikan kepadanya. Bahkan akan sangat membekas dalam kehidupannya. Maka dipilihnya Petrus juga bermakna supaya Kasih yang dirasakannya diteruskan oleh Petrus dalam tugas penggembalaannya. Supaya Petrus dapat juga memberikan kasihnya kepada domba-domba yang digembalakannya.

Bapak-Ibu, Saudara-saudari terkasih di dalam Tuhan Yesus.

Tugas menggembalakan domba bukan saja diemban oleh Rasul Petrus, setelah peristiwa Pentakosta maka seluruh Rasul Yesus mendapat tugas yang sama yaitu mewartakan kabar gembira dan menggembalakan domba.

Kita telah dibaptis dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Dalam pembaptisan tersebut kita telah mendapatkan pengurapan Roh Kudus, dan kita telah menjadi murid-muridNya yang terpilih. Kitapun seperti Petrus mendapat kasih yang sama dari Tuhan Yesus. Walaupun kita berdosa tetapi Tuhan Yesus tetap setia mengasihi kita. Dan kita juga mendapat tugas yang sama untuk ‘menggembalakan domba-dombaNya’. Sebagai suami kita mempunyai tugas menggembalakan ‘domba-domba’ kita yang tidak lain adalah istri dan anak-anak kita.  Istri ber-‘dombakan’ suami dan anak-anaknya. Demikian pula dalam komunitas kita masing-masing, kita saling ‘menggembalakan’ satu sama lain.  ‘Menggembalakan’ berarti saling memberi, saling mengasihi seperti halnya Tuhan Yesus mengasihi kita. Berbagi kasih yang kita rasakan dari Tuhan Yesus kepada suami/istri/anak-anak dan sesama kita. Supaya dengan demikian kita dapat selalu dalam persekutuan yang utuh yang dinaungi oleh Roh Kudus dalam satu tubuh yang sama yaitu Tubuh Kristus. Dengan demikian, hendaknya Kasih menjadi Dasar tugas perutusan dan penggembalaan kita. Itulah yang dikehendaki Yesus dari kita yaitu Kasih kepada-Nya dan kepada sesama menjadi kekuatan kita, menjadi bekal dan menjadi pegangan kita.

Permenungan saya atas pertanyaan istri saya diatas, juga dalam rangka penyatuan keluarga saya menjadi satu tubuh yang utuh yaitu Tubuh Kristus. Dengan demikian saya dapat mewujudkan gereja kecilNya didalam keluarga saya, Exclesia Domestica.

Marilah kita merenung sejenak, berdiam diri sejenak. Kita rasakan kasih-Nya yang begitu besar yang diberikan kepada kita masing-masing. Semoga dengan merasakan kasih-Nya dalam hidup kita masing-masing, kita dimampukan oleh Roh Kudus untuk mampu menjaga ‘domba-domba-Nya’ yang berada di sekitar kita. Sehingga menjadi satu kawanan yang utuh dan dilimpahi dengan kasih-Nya. Amin.

Berkah Dalem

Yulius Supriyana

Lingk. St. Paulus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.