RENUNGAN

Mengenal Yesus Lebih Dalam

Hari Minggu Biasa IV (30 Januari 2022)

Yer 1:4-5.17-19; Mzm 71:1-2.3-4a.5-6ab.15ab.17; 1Kor 12:31-13:13; Luk 4:21-30.

DITERBITKAN OLEH TIM KERJA KITAB SUCI – DPP. SANTO YOSEP PURWOKERTO

“Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” (Luk 4:21)

Bapak-Ibu, Saudara-saudari sahabat Yesus terkasih.

Bacaan Injil yang kita dengar hari ini adalah lanjutan dari Bacaan Injil yang kita dengan minggu yang lalu. Jika kita membaca Injil Lukas mulai dari Bab 3 dari Yesus dibaptis (Luk 3:21-22) hingga bacaan Injil hari ini maka kita akan mendapatkan gambaran situasinya. Lebih kurangnya demikian, setelah Yesus dibaptis di sungai Yordan, Yesus yang sudah penuh dengan kuasa Roh Kudus, dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun selama empat puluh hari untuk persiapan akan karya-karya-Nya. Disana Yesus berpuasa mendapat cobaan dari iblis. Setelah masa persiapan di padang gurun, Yesus kembali ke kampung halaman-Nya, Nazaret. Berita tentang pelayanan-Nya di rumah-rumah ibadat terdengar ke seluruh penjuru di Galilea dan semua orang memuji Dia (Luk 4:14-15). Sampai pada akhirnya Yesus menegaskan identitas-Nya sebagai Mesias, dengan membacakan Kitab Nabi Yesaya yang menubuatkan tentang kehadiran-Nya (Luk 4:16-30). “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” (Luk 4:21).

Jadi jelas situasinya bahwa Yesus meninggalkan kampung halaman-Nya beberapa waktu lamanya dan saat itu orang-orang dikampung halamannya mengenal Yesus sebagai anak Yusuf si tukang kayu yang adalah orang biasa, yang kurang berpengaruh dalam kehidupan di masyarakat saat itu. Tetapi sekarang, Yesus kembali dan sudah berbeda. Yang dengan kuasa-Nya mengajarkan kebenaran-kebenaran Allah dan keselamatan.

Orang-orang yang mendengarkan apa yang Yesus katakan sebenarnya menyadari akan kuasa yang diterima oleh Yesus. Dalam setiap perkataan dan pengajaran-Nya isinya hanyalah sebuah kebenaran dan fakta-fakta yang memang benar adanya. Namun mereka masih saja meragukan kemesiasan Yesus. Pertanyaannya adalah “Mengapa mereka masih saja meragukan kemesiasan Yesus?”. Situasi dan latar belakang keluarga Yesuslah yang menyebabkan mereka ragu. Apa iya, Dia adalah Mesias? Dia kan anak Yusuf si tukang kayu itu? Itulah kira-kira pertanyaan yang muncul dalam benak dan pikiran mereka. Maka untuk menyakinkan mereka menuntut Yesus melakukan perbuatan hebat (Luk 4:22-23).

Bagi Yesus mereka adalah orang-orang yang keras hati, orang-orang yang tidak mau rendah hati dan tidak mau mendengarkan kebenaran firman-Nya. Maka Yesus menyinggung mereka dengan menyamakan mereka seperti orang Israel pada zaman Elia dan Elisa yang penuh keraguan. Yesus membandingkan keraguan mereka dengan janda Sarfat dan Naaman, orang-orang kafir yang beriman kepada Allah (Luk 4:25-27).  Maka mereka pun tersinggung dan marah serta berkehendak membunuh-Nya (Luk 4:28-30). Dengan demikian benarlah yang dikatakan Yesus, “…sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya” (Luk 4:24).

Bapak-Ibu, Saudara-saudari sahabat Yesus terkasih.

Orang-orang sekampung-Nya ragu dan enggan mengakui Yesus sebagai Mesias, karena mereka hanya melihat Yesus sebagai anak Yusuf seorang tukang kayu. Walaupun mereka sebenarnya mengakui kebenaran apa yang dikatakan Yesus dan menyadari akan kuasa Yesus. Pengenalan mereka terhadap Yesus yang sangat dangkal inilah yang kemudian membawa mereka mengabaikan kebenaran dan kuasaNya. Mereka tidak mau melaksanakan kebenaran sabda Tuhan, tetapi justru berbalik ingin mendikte Yesus agar melakukan seperti apa yang mereka mau.

Bapak-Ibu, Saudara-saudari sahabat Yesus terkasih.

Marilah kita refleksikan apa yang terjadi dalam bacaan Injil hari ini ke dalam kehidupan kita masing-masing. Walaupun kita sudah dibaptis sekian lama, bahkan sudah dibaptis sejak bayi hingga saat ini kita sudah dewasa bahkan sudah tua, apakah kita masih juga berlaku seperti orang-orang di Nasaret? Terkadang tanpa kita sadari kita menjadikan Yesus sesuai kehendak kita. Melalui doa-doa kita, kita memaksa Yesus supaya memenuhi apa yang kita inginkan. Jika kita masih demikian maka pengenalan kita akan Yesus masihlah dangkal. Karena kita mengenal-Nya hanya sebatas keinginan. Semoga tidaklah demikian.

Melalui refleksi hari ini, marilah kita mengenal Yesus lebih dalam. Bahkan kalaupun kita sudah mengenal Yesus dengan baik, tetaplah kita turus menerus mengenal Yesus lebih dalam dan leibh dalam lagi. Supaya relasi kita dengan Yesus lebih intin dan lebih mesra. Mengenal Yesus lebih dalam hanya dapat kita lalui dengan mendengarkan sabda-Nya (seperti telah disampaikan dalam renungan minggu lalu) dan melaksanakan perintah-perintahNya.

Semoga kita semua selalu diterangi oleh Roh Kudus dan dimampukan untuk mendengarkan sabda-Nya dan melaksanakan perintah-perintah-Nya. Amin.

Berkah Dalem

Yulius Supriyana

Lingk. St. Paulus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.