RENUNGAN

Memuliakan Allah Dengan Menghargai Sesama

Hari Minggu Biasa XXVI (26 September 2021)

Bil. 11:25-29; Mzm. 19:8,10,12-13,14; Yak. 5:1-6; Mrk. 9:38-43,45,47-48

DITERBITKAN OLEH TIM KERJA KITAB SUCI – DPP. SANTO YOSEP PURWOKERTO

“Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita” (Mrk 9:40) “… jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah ..” (bdk Mrk 9:43)

Bapak/Ibu, Saudara/i terkasih di dalam Tuhan Yesus.

Dalam permenungan saya atas bacaan-bacaan hari ini saya menangkap bahwa dalam bacaan-bacaan hari ini tersirat bagaimana orang memandang rendah orang lain hanya karena mereka bukan segolongan dan sederajad dengan kita. Pada bacaan pertama, dikisahkan ketika Eldad dan Medad penuh Roh seperti nabi di tempat perkemahan, Yosua bin Nun abdi Musa yang setia mengatakan pada Nabi Musa “Tuanku Musa, cegahlah mereka” (Bil 11:28).  Yosua merasa bahwa mereka tak pantas, tetapi nabi Musa justru merasa senang dan berharap seluruh umat Tuhan jadi nabi. “Apakah engkau begitu giat mendukung diriku?. Ah, kalau seluruh umat menjadi nabi, oleh karena Tuhan memberi Roh-Nya kepada mereka ( Bil 11: 29). Kenapa Nabi Musa berbuat begitu? Karena Nabi Musa memandang dari sisi positif dan menghargai setiap kebaikan orang demi kemuliaan Allah.

Pada Bacaan kedua Tuhan mengingatkan betapa pentingnya menghargai orang bukan menindas demi kekayaan dan kepuasan dunia, karena pada akhirnya nanti tak ada secuilpun harta yang bisa menolong dari maut bila Tuhan telah berkehendak. “Kekayaanmu sudah busuk, dan pakaianmu telah dimakan ngengat!. Emas dan perakmu sudah berkarat dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu sudah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir” (Yah 5:2-3).

Bapak-Ibu, Saudara-i terkasih dalam Kristus.

Apa yang dilakukan Yosua pada bacaan pertama sama dengan yang dilakukan Yohanes pada bacaan Injil. Ketika Yohanes melihat orang yang bukan murid Yesus melakukan pengusiran setan, ia mencegah orang itu dan melaporkan kepada Tuhan Yesus. Yohanes berharap mendapat dukungan Tuhan Yesus, tetapi yang dilakukan Tuhan Yesus justru sebaliknya. “Jangan kamu cegah dia! Sebab tak seòrangpun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku dapat seketika itu juga  mengumpat Aku. Barangsiapa tak melawan kita, ia ada dipihat kita” (Mrk 9:39-40).

Setelah saya renungkan ternyata apa yang dilakukan Yohanes sering terjadi dalam kehidupan saya. Dan mungkin juga pada kita, yaitu rasa iri, rasa tersaingi, rasa merasa bukan selevel. Merasa paling benar atau merasa bukan golongannya. Padahal kita diciptakan dengan keragaman.

Bacaan injil hari ini terasa banyak kata-kata sadis seperti mengikatkan batu kilangan  pada leher dan membuang ke laut, memenggal kaki dan tangan, mencukil mata. Dalam hal ini Tuhan Yesus sebenarnya ingin menegaskan bahwa kita mesti tegas di dalam melawan dosa. Seluruh anggota tubuh yang Tuhan berikan kepada kita, semestinya untuk memuliakan Allah dengan perbuatan-perbuatan kita. Tidak ada gunanya kita diberi kelengkapan anggota tubuh jika kita tidak bisa menggunakan demi kemuliaan Allah. Marilah kita bertanya pada diri kita masing-masing “Sudahkah aku menggunakan anggota tubuh ku dengan benar?” Atau justru masih saja aku gunakan untuk melakukan hal-hal yang menjatuhkan diriku dalam dosa”.

Sebuah video wawancara Agnes Mo yang dikirim teman saya, membawa saya dalam merefleksikan Injil hari ini. Isi kata-kata Agnes Mo kurang lebih begini. “Jari-jarimu tidak boleh lebih cepat dari otakmu, nunjuk itu gampang yang susah cari solusi, jadi orang-orang yang belajar jangan nunjuk-nunjuk orang”.

Apa yang dikatakan Agnes Mo memang benar bahwa sering saya tidak berfikir dulu atau mencari kebenaran tapi sudah nunjuk-nunjuk dulu, sudah emosi. Saya juga suka menghakimi orang, suka merasa paling benar, suka merendahkan orang, suka merasa iri terhadap orang lain.

Bapak-Ibu, Saudara-i terkasih dalam Kristus.

Marilah kita memohon kepada Tuhan. Tuhan turunkan Roh-Mu kepada kami, agar kami mampu memanfaatkan apa yang telah Engkau berikan demi kemuliaan namaMu. Mampu memandang keragaman sebagai anugerah-Mu. Amin.

Berkah Dalem

Melania Moertrini

Lingk. St. Paulus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.