RENUNGAN

Berdoa Penuh Hikmat

Hari Minggu Biasa XXV (19 September 2021)

Keb. 2:12,17-20; Mzm. 54:3-4,5,6,8; Yak. 3:16-4:3; Mrk. 9:30-37

DITERBITKAN OLEH TIM KERJA KITAB SUCI – DPP. SANTO YOSEP PURWOKERTO

“Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” (Mrk 9:35)

Bapak/Ibu, Saudara/I terkasih di dalam Tuhan Yesus.

Membaca firman Tuhan hari ini kita bisa tergoncang hati kita. Dari bacaan pertama “Marilah kita menghadang orang yang baik, sebab bagi kita ia menjadi gangguan serta menentang pekerjaan kita.” (Keb 2:!2). Sedangkan dari bacaan kedua “Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu” (Yak. 4:3).

Sahabat Yesus yang terkasih dari bacaan pertama dan kedua itu, saya mencoba merenungkannya. Ternyata ada pesan moral yang mau ditujukan kepada saya dan mungkin juga kepada kita sebagai umat beriman. Kadang atau bahkan seringkali saya dalam berdoa mohon hal-hal untuk memenuhi keinginan daging semata. Kalau doa saya tidak dikabulkan maka saya marah dan menghadang “Orang baik yang menjadi gangguan”. 

Saat Tuhan belum mengabulkan doa kita, itu karena Tuhan ingin agar kita selalu dekat denganNya. Tuhan tahu bahwa jika doa permohonan kita dikabulkan maka justru akan menjauhkan kita dari-Nya, karena kita akan ber-eforia dengan penuh napsu bukan dengan penuh iman.

Tuhan mau, kalau kita berdoa bukan dengan mulut / cuma kata-kata tapi juga penuh iman. Dalam doa kita bukan hanya permohonan duniawi saja tapi juga mohon kekuatan kita dalam menghadapi semua itu. Bacaan-bacaan hari ini juga mengingatkan kita bahwa menjadi pengikut Yesus bukan hanya menjadi pengikutNya saja. Bukan hanya ‘mengintili’ / ikut di belakang / Tut mburi saja, tetapi juga menjadi paket komplit. yaitu meneladani, taat, rendah hati dan penuh kasih.  Terlebih lagi harus mau memikul salib, menyangkal diri, jujur dan taat, serta pantang menyerah. “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” (Mrk 9:35)

Bapak/Ibu, Saudara/I Sahabat Yesus terkasih.

Sebagai murid-muridNya, kita semua siap diutus (perutusan ini selalu kita perbaharui diakhir setiap kita mengikuti perayaan ekaristi). Kita diutus bukan menjadi bos/juragan, tetapi diutus menjadi pelayan. Posisi pelayan adalah dibawah artinya dengan kerendahan hatilah dan penuh sukacita (seperti anak kecil). Kita berkarya dalam setiap karya dan usaha kita, karena dalam pelayanan itu Allah sendiri hadir dalam setiap orang yang kita layani. Kalau kita menolak atau melayani dengan bersunggut-sunggut, marah maka sama dengan kita menolak, bersunggut sungut dan marah juga kepada Allah. Maukah kita seperti itu? Maka mari kita berbuat seperti anak kecil yang penuh sukacita dalam pelayanan kita.

Merenungkan Injil hari ini saya teringat akan pengalaman pelayanan saya, dalam pelayanan pendampingan calon krisma beberapa waktu yang lalu. Awalnya saya penuh sukacita dan siap diutus dalam kegiatan pendampingan ini. Ditengah perjalanan pendampingan karena kesibukan atau saya menyiibukkan diri maka kendorlah semangat pelayanan saya. Saya letakkan salib itu sebagai pelayan karena alasan capailah, waktu rutinitas yang menjemukanlah. Dan terlebih jahatnya saya menganggap dalam kegiatan pendampingan itu nama saya diatas. Saya mencoba dan meninggalkan pelayanan itu untuk sementara waktu. Pembenaran saya dan kata saya dalam hati “toh juga ada orang lain yang menjalankan”. Apa yang terjadi Bapak/Ibu, Saudara/I terkasih? Ternyata saya tidak mendapatkan sukacita karena keegoisan saya tersebut. Sampai akhirnya Tuhan menjawab melalui doa saya “Karena kamu tidak mau, Aku akan memakai orang lain dalam karya ini”. Ini yang membuat hati saya tersentak dan menyadarkan diri saya bahwa ‘menjadi yang terbesar harus menjadi pelayan’

Bapak/Ibu, Saudara/I terkasih dalam Tuhan Yesus.

Dengan kerendahan hati Tuhan mau kita persembahkan dalam setiap karya dan usaha kita. Maka marilah berdoa, ya Tuhan mampukan kami dalam giat karya dan usaha kami dengan kerendahan hati. Tarik kami bila kami jauh dari rel kerendahan hati itu. Mampukan juga kami untuk mau dan dapat meneladani Engkau sebagai manusia, dengan tetap memikul salib kami masing-masing. Amin.

Berkah Dalem

Yohanes Suwasna

Lingk. St. Agustinus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.