RENUNGAN

Kita Berbuah, Jikalau Kita Hidup Di dalam Kristus

Hari Minggu Paskah V (2 Mei 2021)

Kis. 9:26-31; Mzm. 22:26b-27,28,30,31-32; 1Yoh. 3:18-24; Yoh. 15:1-8

DITERBITKAN OLEH TIM KERJA KITAB SUCI – DPP. SANTO YOSEP PURWOKERTO

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” (Yoh 15:4)

Bapak/Ibu, Saudara/i yang terkasih.

Membaca dan merenungkan bacaan Kitab Suci di hari Minggu Paskah V ini, saya merasa terbuka hati dan pikiran : bagaimana saya seharusnya menjadi murid Kristus yang pas, sebagai pribadi yang mempunyai karakter, walaupun pola pikir, pengetahuan, bahasa serta budaya yang saya miliki tidak sama dengan para murid Kristus dulu.

Dalam bacaan I, dikisahkan bagaimana semangat dan keberanian Saulus dalam mengajar dalam nama Yesus. Walaupun saat itu  Saulus belum sepenuhnya diterima sebagai bagian dari komunitas murid Yesus, karena masih ada keraguan dan ketakutan dalam diri mereka. Di sisi lain Saulus juga mendapat ancaman pembunuhan dari orang-orang Yahudi (lih Kis 9:26-29). Tapi Saulus tetap setia akan panggilan hidupnya.

Dalam bacaan II, dalam pewartaannya Rasul Yohanes menekankan untuk saling percaya dan mengasihi. “…, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” (1Yoh. 3:18). “Dan inilah perintah Allah itu : yakni supaya kita saling percaya…., dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah-Nya…..” (1Yoh. 3:23)

Dalam bacaan Injil, Yoh. 15:4, Yesus sendiri mengatakan: “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.”

Bapak/Ibu, Saudara/i yang terkasih.

Merenungkan ayat-ayat tersebut, saya berefleksi bahwa kehidupan itu akan bermakna kalau kita berada di dalam suatu ikatan hidup yang saling membutuhkan, saling percaya dan mempunyai tujuan yang sama yaitu dalam kebenaran sabda-Nya. Dan Saulus telah mewariskan kepada kita, bagaimana memulai dan melaksanakan hal yang benar:  memahami kehendak Allah, mewartakan Allah dengan benar sebagai pewarta Kristus. Rasul Yohanes pun menyatakan dan menegaskan bahwa sebagai pengikut Kristus kita hendaknya saling percaya dan saling mengasihi. Hiduplah dalam Roh, yang dikaruniakan kepada kita. Agar iman kita mempunyai nilai kebenaran sesuai perintah Allah.

Di dalam komunitas kerohanian yang saya hadiri dan terlibat di dalamnya, saya merasa menemukan dan mendapatkan banyak buah iman. Dan puncak komunitas iman yang sangat mempengaruhi hidup saya adalah saat menghadiri, mengikuti serta terlibat dalam perayaan Ekaristi. Namun tanpa saya sadari dan permenungan bagi saya, adalah di saat saya menjadikan komunitas iman itu  semata-mata sebagai rutinitas saja. Akibatnya saya menutup diri dan hati akan kehadiran-Nya dan kebersamaan dengan sesama.

Dalam bacaan Injil, Yesus bersabda : bahwa kita adalah bagian dari pohon anggur Kristus (bdk Yoh. 15:5). Oleh karena itu sebagai modal rohani pengikut Kristus, kita harus bersatu dengan-Nya dan bersama sesama. Hal itu dapat kita dapatkan dengan mengikuti dan menghidupkan perayaan Ekaristi baik sebelum, di dalam hingga setelah perayaan Ekaristi.

Bapak/Ibu, Saudara/I yang terkasih.

Marilah kita berusaha terus menerus untuk menjadi pengikut Kristus seperti yang dialami dan diteladankan Saulus, yang tetap semangat dan setia dalam mewartakan Kristus serta merasa bagian dalam kebenaran itu seperti isi surat pertama Rasul Yohanes. Saulus adalah salah satu tokoh kebangkitan rohani bagi kita. Dengan menumbuhkan iman yang percaya, diharapkan kita saling mengasihi dan berbuat dalam kebenaran karena kita adalah bagian pohon anggur Kristus. Dengan menjadi ranting dari pohon anggur, berarti kita ikut ambil bagian dalam kehidupan dan kebangkitan Kristus. Maka dari situlah kita berbuah, bukan bagi kita sendiri, tapi untuk dinikmati oleh orang lain; keluarga, komunitas dan masyarakat di mana kita hidup dan berada.

“Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak, dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” (Yoh. 15:18)

Alleluia dan Berkah Dalem

Yulius Yerry Wenur

Lingk. Santo Agustinus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.