RENUNGAN

Menjadi Pekerja Yang Tidak Iri Hati

Hari Minggu Biasa XXV (20 September 2020)

Yes. 55:6-9; Mzm. 145:2-3,8-9,17-18; Flp. 1:20c-24,27a; Mat. 20:1-16a.

DITERBITKAN OLEH TIM KERJA KITAB SUCI – DPP. SANTO YOSEP PURWOKERTO

“Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” (Mat 20:15)

Bapak/Ibu dan saudara/i Sahabat Yesus terkasih.

Membaca Injil Matius 20:1-16a tentang perumpamaan orang-orang upahan di kebun anggur, seringkali membuat kita bingung dan bertanya-tanya dengan apa yang dilakukan oleh tuan rumah saat memberikan upah kepada para pekerja yang menggarap kebun anggur miliknya. Tentu hal ini tidak masuk akal menurut pemahaman kita. Secara manusiawi kita akan memberikan lebih kepada pekerja yang sudah mulai bekerja dari pagi-pagi benar dibandingkan dengan yang memulai sesudahnya, baik jika dibandingkan pekerja yang memulai jam 9, jam 12, jam 3 sore, apalagi yang baru mulai jam 5 petang menjelang waktu kerja berakhir.

“Sultan” demikian istilah sekarang untuk lebih mudah menggambarkan orang yang punya banyak uang dan bebas melakukan apa saja seperti tuan pemilik kebun anggur itu. Bagi “sultan” sang pemilik kebun hal ini tentu sah-sah saja. Dia mau memberikan uangnya sebagai upah kepada siapa saja dan berapa banyak tentu terserah dia. Suka-suka dia. Lalu pertanyaannya kenapa ada pekerja yang bersungut-sungut dan kecewa walaupun sudah diberi upah sesuai yang disepakati? Kenapa mereka kecewa kalau tuannya bermurah hati kepada temannya sesama pekerja di kebun anggur?

Merenungkan perumpamaan hal kerajaan surga ini, pekerja-pekerja pertama yang bersungut-sungut adalah seperti kita yang memperhitungkan dengan logika setiap berkat yang Tuhan karuniakan kepada kita. Sehingga kita akan merasa iri ketika melihat teman lebih sukses padahal kita merasa telah bekerja lebih keras, merasa iri ketika keluarga orang lain nampak rukun dan bahagia padahal keluarga kita lebih mampu namun kok tidak bisa sebahagia mereka. Merasa diperlakukan tidak adil karena harusnya Tuhan memberikan berkat lebih banyak lagi kepada kita yang sudah terlibat dalam banyak pelayanan di gereja, bukan kepada mereka yang hidup mengerejanya biasa-biasa saja.

Rasa iri hati yang terus terpelihara dalam diri dan tidak mampu kita lepaskan ini menjadi salah satu penghalang terbesar kita dalam menjalin relasi dengan Tuhan dan sesama. Kita menjadi sulit untuk melihat dan bersyukur atas berkat dari Tuhan yang sudah kita terima. Kita juga menjadi sulit untuk mengucapkan terimakasih atas kebaikan orang lain kepada kita. Kita tidak boleh membiarkan iri hati ini terus menguasai hidup kita. Karena iri hati ini akan membuat kita semakin jauh dari Tuhan sang pemberi berkat sejati. Agar tidak muncul perasaan iri hati, kita harus terus berlatih untuk bisa bersyukur dengan segala anugrah kehidupan yang kita terima saat ini. Rasa syukur yang mendalam tentu akan mewujud nyata dalam hidup sehari-hari dalam tindakan mudahnya kita berbelarasa kepada mereka yang membutuhkan pertolongan.

Akhirnya dari tuan rumah yang terus mencari pekerja dari pagi hingga petang hari, kita diajak untuk merenungkan bahwa tidak capai-capainya Tuhan menghendaki kita semua diselamatkan. Syaratnya seperti para pekerja yang mau menanggapi ajakan tuan rumah untuk bekerja di kebun anggur miliknya. Demikian juga kita diajak menangapi pangilan Tuhan untuk bekerja di kebun anggur kebaikan dan kasih kepada sesama. Tidak ada kata terlambat untuk memulai menjadi pekerja di kebun anggur Tuhan. Tuhan tidak pernah melihat pekerja yang pertama dan terakhir datang, tetapi Tuhan akan memberikan upahnya kepada siapa saja yang bisa bekerja bersama-Nya sampai batas waktu kehidupan pekerja yaitu kita di dunia ini selesai. Dan upahnya sama, keselamatan abadi, kerajaan surga.

Tuhan tidak pernah berhitung melimpahkan berkat-Nya bagi kita. Masihkah kita membalasnya dengan berhitung seperti pekerja-pekerja yang iri hati dengan berkat yang diterima teman-temannya?

Berkah Dalem.

Marcellinus Beny Santoso

Lingk. St. Yoh-Paulus II

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.