RENUNGAN

Menegur Dengan Kasih

Hari Minggu Biasa XXIII – Hari Minggu Kitab Suci Nasional (6 September 2020)

Yeh. 33:7-9; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9; Rm. 13:8-10; Mat. 18:15-20.

DITERBITKAN OLEH TIM KERJA KITAB SUCI – DPP. SANTO YOSEP PURWOKERTO

Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali(Mat 18:15). Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam NamaKu, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Mat 18:20)

Bapak/Ibu dan saudara/i yang dikasihi Tuhan.

Membaca perikop bacaan minggu ini “Tentang menasihati sesama saudara” dalam Injil Matius 18:15-20, mengingatkan saya pada sekelumit perbincangan dengan teman sekolah saya dari kota lain yang sudah lama tidak bertemu. Sebut saja namanya Toy. Setelah berbincang cukup lama dengan pengalaman hidup dan keluarga kami masing-masing, saya bertanya tentang gereja karena Toy juga seorang katolik yang saya tahu dia cukup aktif dalam hidup menggereja. “Sekarang kegiatan pelayanan gerejamu bagaimana Toy?” Setelah menghela napas dan diam sejenak, kemudian Toy menjawab: “Ya itulah Ben saat ini aku pasif di gereja. Bahkan misapun tidak rutin dan kalaupun misa aku ikut di paroki lain.” “Loh kenapa Toy? Dulu waktu jaman sekolah saya lihat kamu begitu aktif di kegiatan-kegiatan gereja.” Jawab Toy: “Sebetulnya aku tetap aktif Ben, sampai sekitar dua tahun lalu aku melakukan suatu kesalahan yang tidak aku sengaja namun beritanya tersebar begitu cepat dan tidak sesuai dengan cerita sebenarnya sehingga aku menjadi sangat malu untuk sekedar bertemu dengan orang-orang di gereja.”

Bapak/Ibu dan saudara/i yang terkasih.

Kehidupan pelayanan seseorang, baik pelayanan di lingkungan masyarakat ataupun di gereja terkadang mengalami pasang surut. Ketika nyala api pelayanan sedang berkobar-kobar maka semangat melayani menjadi begitu tinggi. Kita akan melayani dengan penuh semangat. Namun sering juga terjadi, api semangat itu tiba-tiba padam sehingga dia menghilang begitu saja bak ditelan bumi. Padamnya semangat bisa terjadi dengan berbagai alasan, salah satunya mungkin karena dia melakukan satu kesalahan. Mengapa bisa terjadi ketika semangat seseorang dalam melayani tiba-tiba padam hanya karena satu kesalahan yang dia lakukan?

Terkadang kita sebagai teman, orang dekat atau orang di sekitarnya juga turut berperan dalam memadamkan api semangat itu. Kesalahan yang seseorang lakukan seringkali menjadi konsumsi publik/orang lain di sekitar kita. Ketika kita tidak bisa menempatkan diri dengan bijak maka kitapun bisa turut andil dalam memadamkan semangat seseorang dalam melayani.

Seperti kita ketahui bersama, dunia teknologi berkembang super cepat dewasa ini, sehingga segala informasi, baik informasi yang baik maupun yang tidak baik, benar maupun tidak benar bisa menyebar dengan begitu cepat. Karena euforia dalam berteknologi maka seseorang bisa dengan sangat cepat dan terampil menyebarkan berita tanpa mengetahui/mengecek kebenaran yang sesungguhnya. Termasuk satu kesalahan yang dilakukan oleh aktifis gereja tersebut di atas. Berita tersebar begitu cepat yang mungkin tidak sesuai dengan apa yang terjadi sesungguhnya, sehingga membuat api semangatnya mati dengan tiba-tiba dan memutuskan menghilang dari dunia pelayanan.

Bapak/Ibu dan saudara/i kekasih Tuhan.

Bacaan Injil minggu ini sungguh mengingatkan kita semua bagaimana kita harus bersikap ketika mengetahui ada teman atau seseorang yang telah melakukan kesalahan. Injil Matius 18:15 mengatakan: “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.”. Sangat jelas Tuhan Yesus mengajar bagaimana kita harus bersikap dan mengambil langkah saat mengetahui seseorang berbuat kesalahan. Yesus meminta kita supaya memberitahunya secara empat mata dan ketika itu berhasil, maka akan membawanya kembali pada kebenaran; sehingga ada kemungkinan api semangatnya tidak langsung padam ketika dia menyadari kesalahannya. Bukan sebaliknya, kita malahan ikut menyebarkan kesalahan seseorang, baik bisik-bisik dengan teman ataupun posting melalui medsos tanpa mengecek kebenaran berita tersebut.

Bapak/Ibu dan saudara/i yang terkasih.

Ketika memutuskan untuk memberitahu kesalahan seseorang, tidak dipungkiri bahwa ini adalah keputusan yang tidak mudah untuk dilakukan. Ada banyak orang tidak mau menerima teguran; sebaliknya ada banyak orang memberi teguran dengan cara yang tidak bijaksana, misalnya langsung di depan umum atau dengan kata-kata kasar. Namun demikian hal tersebut bukan tidak mungkin untuk kita lakukan. Ketika kita mendasarkan semuanya itu dengan kasih, sebagaimana janji Tuhan: “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam NamaKu, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Mat 18:20), Yesus pasti akan hadir mendukung dan menguatkan ketika kita berbuat kasih kepada seseorang yang melakukan kesalahan.

Sebagai pengikut Kristus kita patut bersyukur, terus percaya dan yakin akan janji Tuhan yang luar biasa ini. Ia berkenan hadir di tengah-tengah kita meskipun kita dan perkumpulan kita tidak sempurna. Kita murid-murid-Nya yang tidak sempurna, dan Dia yang sempurna mau hadir di tengah-tengah kita. Kehadiran Tuhan itu bukanlah rekayasa manusia atau tergantung dari manusia. Tuhan berdaulat untuk hadir sesuai kehendak-Nya bukan sesuai kemauan kita. Kehadiran Tuhan juga bersifat pribadi, Tuhan sendiri berjanji hadir, janjiNya ya dan amin, pasti ditepati. Ia pasti hadir meskipun diam atau berfirman, menampakkan diri atau tidak kelihatan. Ketika Tuhan hadir di tengah-tengah kita, satu yang pasti akan kita rasakan, hati yang berkobar-kobar untuk melakukan segala perintah-Nya dengan kuasa dan dengan dipimpin oleh Roh KudusNya sehingga kita terus dibangun menuju keserupaan dengan Yesus dan hidup kita akan menjadi berkat bagi orang lain.

Menjadi permenungan bagi kita semua bagaimana kita harus bersikap ketika kita mengetahui ada saudara, teman ataupun kolega kita yang berbuat salah/dosa. Apakah kita akan mengedepankan kasih, merangkulnya dan menjadi berkat baginya atau justru ambil bagian menjadi penghancur kehidupannya.

Semoga kita semua semakin bijak dalam menyikapi kesalahan orang lain, serta semakin percaya dan mengimani bahwa Tuhan Yesus tidak akan pernah melupakan janjiNya untuk hadir di tengah kita ketika kita berkumpul dalam Nama-Nya.

Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Berkah Dalem,

Benedictus Widiyanto

Lingk. St. Stefanus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.