Keadilan

Pemberdayaan Perempuan Di Tempat Kerja

Empowering women in the work place

Minggu, 25 Agustus 2019 Paroki Santo Yosep menyelenggarakan workshop tentang usaha atau bisnis online dengan tema “Berdaya Bersama Di Era Milenial”. Tujuannya untuk merealisasikan dukungan kepada perempuan usia produktif agar dapat memberdayakan diri dan memberi kontribusi berarti bagi keluarga serta masyarakat.

 

Workshop yang diselenggarakan oleh tim kerja Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (KPKC) DPP SanYos ini diikuti oleh sekitar 120 orang perempuan usia produktif. Rentang usia peserta antara 19 sampai dengan 55 tahun. Peserta berasal dari umat paroki Santo Yosep, beberapa paroki lain dan peserta umum (dari masyarakat). Berlangsung di aula paroki St. Yosep, workshop ini menghadirkan seorang narasumber dari Jakarta, Dwi Hastoto S.T. sebagai praktisi yang berpengalaman sekitar 17 tahun di bidang programming, bisnis online dan starting up.

Peserta menyimak dengan serius penyampaian materi oleh Dwi Hastoto. Ada juga sesi tanya jawab dan sharing pengalaman. Acara menjadi makin menarik karena bersifat interaktif. Ada kerja kelompok didampingi mahasiswa STIKOM Yos Sudarso dan mentor masing-masing. Juga diselingi dengan kuiz dan doorprizes untuk peserta.

 

Pasca workshop peserta akan didampingi oleh tim mentor dalam kelompok-kelompok, sebagai wadah inkubasi usaha online. Di sinilah peran mentor sangat dibutuhkan untuk mendorong, menstimulasi dan membantu peserta yang berniat untuk mewujudkan bisnis online.

Kontribusi perempuan dalam keluarga dan masyarakat

Apa yang melatarbelakangi diadakannya workshop ini? Tidak lain adalah peran dan kondisi perempuan dalam konteks keluarga dan masyarakat dewasa ini. Kontribusi perempuan dalam bekerja memberi manfaat baik untuk keluarga, untuk ekonomi dan untuk masyarakat. Di Indonesia tidak ada larangan bagi perempuan untuk bekerja, tetapi masih ada pandangan patrialisme di masyarakat. Wanita masih dinilai sebagai sumber kedua pencari nafkah dalam keluarga. Banyak perempuan muda yang sangat semangat saat mulai bekerja. Tetapi kemudian harus berhenti bekerja saat mulai menikah, hamil dan melahirkan. Mengurus rumah tangga dipandang sebagai tugas utama perempuan. Mereka harus membawa peran sebagai seorang ibu. Pekerjaan domestik rumah tangga dibebankan kepada perempuan. (baca juga: Masih Ada Patrialisme, Menkeu Soroti Isu Kesetaraan Gender di Tempat Kerja)

Kondisi ini menghantarkan seorang perempuan untuk membuat pilihan, antara tetap bekerja di perkantoran atau meniti karier, atau menjadi Ibu Rumah Tangga saja, atau Ibu Rumah Tangga yang mempunyai usaha dan pekerjaan sampingan selain mengurus rumah tangga dan bisa tetap produktif. Opsi atau pilihan ketiga inilah yang akan menjadi fokus garapan Tim Kerja KPKC Paroki Santo Yosep Purwokerto dengan berbagai kegiatan yang mendukung perempuan usia produktif. Tujuannya agar para perempuan bisa menjadi lebih produktif meskipun mengambil pilihan Ibu Rumah Tangga sebagai peran utamanya.

 

Agar workshop ini efektif (tepat guna atau bermanfaat), maka dilakukan survei dan perekrutan peserta secara online kepada perempuan usia produktif di paroki St. Yosep dan masyarakat sekitar. Survei dilakukan pada tanggal 20 Juli – 25 Agustus 2019. Sedangkan proses perekrutan calon peserta workshop dilakukan tanggal 7-24 Agustus 2019. Hasil survei kemudian dianalisis oleh tim dan menjadi rekomendasi untuk pelaksanaan workshop dan tindaklanjutnya.

Perhatian pada pemberdayaan perempuan

Mengapa paroki SanYos memberi perhatian (concern) pada pemberdayaan perempuan?Paroki Sanyos melihat pentingnya pemberdayaan perempuan di era milenial dan perempuan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi. Selama 4 dasa warsa ekonomi Indonesia mengalami perkembangan pesat dan termasuk 4 negara dengan PDB terbesar di dunia. Keberhasilan ini sejalan dengan kemampuan mengendalikan penduduk di mana angka kelahiran perempuan turun. Implikasinya kualitas dalam bidang pendidikan, kesehatan dan partisipasi untuk perempuan di ranah publik terus meningkat. Namun perbaikan tersebut belum mencerminkan kesetaraan gender di dunia kerja. Meskipun jumlah penduduk relatif seimbang tetapi angka kerja perempuan masih lebih rendah dibanding laki-laki.

 

Kondisi ini menunjukkan potensi perempuan sebagai penggerak perekonomian belum tergali. Padahal keterlibatan perempuan punya dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Di antara negara-negara Asia Pasifik, Indonesia tertinggal dalam mendorong kesetaraan gender. Di tanah air 70% perempuan menempati sektor kerja informal. Jumlah ini disebabkan rendahnya tingkat Pendidikan, kurangnya ketrampilan hingga minimnya kesempatan kerja di sektor formal.

Peran gereja dalam masyarakat

Gereja sebagai bagian integral dari NKRI ikut ambil bagian dalam kerja besar dengan mendorong perempuan lebih aktif di pasar kerja. Dengan sumber daya perempuan yang lebih baik akan meningkatkan pula peluang Indonesia dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi yang lebih pesat.

 

Dengan konsep pemikiran global dan berkarya di tingkat lokal seperti sekarang inilah, Paroki Santo Yosep ikut serta dalam menjawab kebutuhan atau PR besar kita bersama yaitu memberi kesempatan kepada perempuan di bidang pekerjaan dengan cara memberikan pelatihan bagi perempuan yang akan maupun sudah berwirausaha. Salam pemberdayaan.

Sumber foto: FB Lily Karlina

Penulis,

B.V. Asih Prabayanti

Baptista Varani, Timker KPKC SanYos

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.