RENUNGAN

Salib Yesus, Salib Kita

Hari Minggu Biasa XXIII  (8 September 2019)

Keb. 9:13-18; Mzm. 90:3-4,5-6,12-13,14,17; Flm. 9b-10,12-17; Luk. 14:25-33

DITERBITKAN OLEH TIM KERJA KITAB SUCI – DPP. SANTO YOSEP PURWOKERTO

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Luk 14:27)

Bapak/ibu, sdr/i  terkasih

Salib Kristus-2Ada pendapat bahwa untuk menjadi seorang Katolik itu tidaklah mudah, karena membutuhkan waktu pembelajaran (katekumen) yang panjang, hingga setahun lamanya. It’s right. Itu benar adanya. Kiranya hal ini berkaitan dengan Injil hari ini, di mana Yesus sangatlah jelas bersabda bahwa suatu bangunan yang kokoh, haruslah atas perencanaan yang matang (ayat 29-32). Suatu tujuan, apalagi menyangkut kehidupan tentu harus dipersiapkan dengan matang pula. Menjadi seorang Katolik bukan sekedar mengikuti seluruh tahapan pembelajaran sesuai dengan jadwal yang telah diagendakan. Atau menghafalkan syahadat dan doa-doa dasar. Namun yang paling penting adalah bagaimana para katekumen membangun sikap terhadap dirinya sendiri sebagai seorang yang sangat merindukan kehadiran Tuhan Yesus atau keselamatan yang mereka inginkan. Bukan karena para pengajarnya, atau teman/sahabat dan bahkan keluarga sendiri. Sikap iman inilah yang diberi ‘obat’, ‘vitamin’ agar dalam dirinya tercipta suatu kerinduan akan kehadiran Yesus sendiri. Maka dibangunlah atau diciptakanlah suatu bangunan dalam diri setiap katekumen, dasar-dasar yang kokoh. Seperti membuat suatu bangunan, haruslah punya pondasi yang kuat. Maka, itulah pentingnya persiapan diri.

Kita sama-sama ketahui bahwa hidup adalah berproses, perjalanan, berziarah. Itu berlangsung setiap hari, setiap saat, kapan pun, di mana pun dan dalam keadaan apa pun. Kita hidup bukan mau melihat orang lain. Orang lain bukanlah objek, yang menjadi bahan omongan atau penilaian. Tapi orang lain sama-sama subjek, saudara sepeziarahan. Sangatlah penting anjuran Bapa Paus kita Fransiskus mengenai “gosip ria”, saat audiensi di aula Paul VI di Vatikan pada 2 Maret 2019. Salah satu pesan Bapa Paus adalah apapun itu selalu lebih melihat diri sendiri. Begitu pun dalam hal mengikuti Yesus. Menjadi murid Yesus tidaklah ditanyakan: siapa namamu, apa sukumu, apa warna kulitmu, apa bahasamu. Pada awal Yesus memanggil para murid-NYA, Yesus hanya mengatakan: mari ikutlah Aku….(Mat 4:19)

Bapak/ibu, sdr/i  terkasih

Merefleksikan kembali panggilan pelayanan saya dalam kepengurusan di lingkungan dan paroki hingga saat ini, saya merasakan hal yang sungguh luar biasa yang terjadi dalam diri saya. Yang saya dapatkan bukan hanya kenalan baru, teman/sahabat baru. Namun terlebih semangat hidup baru, semangat yang dulu hampir hilang.

Sejak menerima komuni pertama, saya seakan tak terpisahkan dengan Ekaristi. Saya selalu hadir sebagai misdinar hingga kelas 6 SD. Kehadiran itu hilang setelah saya berrumah tangga. Semangatnya hilang bagai ditelan bumi……. Semangat itu hidup kembali satu tahun yang lalu. Bulan Agustus 2018, setelah saya menjalani operasi pembuangan empedu, karena menurut diagnosis dan anamnesis dokter bahwa empedu saya sudah terdapat batu sebesar + 1,5 cm. Apakah Tuhan Yesus memberi cobaan/tantangan ? Awalnya saya belum yakin. Karena kehidupan rohani saya bukan hanya “senin kamis”, tapi hampa. Nol besar. Akhirnya dari hari ke hari, dalam setiap permenungan, saya menyadari bahwa Tuhan itu amat sangat murah hati. Dan itu membuat saya tertantang untuk mencoba membagi kemurahan-hati-NYA dalam kehidupan sehari-hari. Ternyata itu tidaklah mudah. Karena apa? Karena yang utama diperlukan adalah sikap iman, sikap diri : suatu sikap pengosongan diri dan membiarkan Roh-NYA yang bekerja.

Bapak/ibu, sdr/i  terkasih

Tantangan terberat bagi kita semua adalah bagaimana kita memulai sikap iman yang mumpuni. Artinya maukah kita memikirkan dan mengenal rencana Allah? Seperti bacaan pertama hari ini. Dan juga bagaimana kita memperlakukan orang lain, seperti pada bacaan kedua? Dan bentuk hidup yang bagaimanakah harus kita ambil dalam menyikapi panggilan Tuhan? Dalam Injil Lukas hari ini Yesus memanggil kita untuk turut serta memanggul salib-NYA (ayat 27). Sudah siapkah kita keluar dari diri kita? Mengosongkan diri dan mengisinya dengan Roh Kudus? Marilah bersama-sama berdoa mohon rahmat dan berkat Tuhan setiap saat, agar kita dimampukan. Amin

Berkah Dalem

Yerry Wenur

Lingkungan St Paulus

Kategori:RENUNGAN, Renungan Minggu

Tagged as: ,

1 reply »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.