AKTUALIA

Lawatan Roh Kudus Barui Iman

Minggu, 9 Juni 2019 adalah hari raya Pentakosta, saat turunnya Roh Kudus kepada para murid. Perayaan Ekaristi dilaksanakan di semua gereja Katolik seluruh dunia. Secara liturgis, Hari Raya Pentakosta menjadi puncak masa Paskah, setelah itu masuk masa biasa.

Pujian dan Doa PentakostaDi gereja Paroki Santo Yosep Purwokerto, yang membedakan Misa Pentakosta kali ini dengan Misa Pentakosta tahun sebelumnya adalah semangat dan keterbukaan hati umat terhadap kehadiran dan karya Roh Kudus. Tahun ini umat begitu semangat mengikuti misa khususnya misa Minggu sore (pkl. 18.00) yang dilanjutkan dengan Doa dan Pujian Pentakosta.

Sebelum misa dimulai, terlebih dahulu dibacakan oleh petugas mengenai makna Pentakosta yaitu hari yang ke 50 setelah kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus. Kematian Yesus di kayu Salib, serta kebangkitan-Nya bukanlah akhir dari tujuan kedatangan-Nya ke dunia. Karya Allah belum paripurna.

Yesus harus mati di kayu Salib untuk membayar dosa manusia yang membawa kematian, namun Dia bangkit kembali setelah 3 hari. Dia tetap hidup dan siap melanjutkan karya Bapa-Nya dengan memberikan Roh-Nya yang sudah dijanjikan bagi semua orang yang percaya dalam nama-Nya. Roh Kudus melanjutkan karya penyelamatan dengan menjadikan orang-orang percaya dan diangkat sebagai anak-anak Allah. Umat pilihan-Nya membutuhkan kehadiran Roh Kudus untuk menguduskan mereka. Tanpa Roh-Nya mereka tidak akan dapat melakukan apa yang Allah kehendaki, seperti yang diwartakan oleh Yesus dan dinyatakan dalam Kitab Suci. Itu sebagian dari yang dijelaskan tentang makna Pentakosta menjelang misa.

Dalam homilnya, Romo Valentinus Sumanto Pr yang memimpin misa Pentakosta Minggu Sore juga menjelaskan siapa itu Roh Kudus. Juga diuraikan peran Roh Kudus dalam hidup umat beriman.

Untuk menghayati makna kehadiran Roh Kudus dalam Pentakosta, sesudah misa diadakan pujian dan doa, mohon agar kehadiran Roh Kudus terus akan membaharui, menyegarkan, menyemangati dan menghidupkan kembali hidup rohani umat. Dengan dasar mau membuka hati selebar mungkin untuk menyambut kehadiran-Nya, umat diajak untuk membiarkan Roh Kudus meresap lembut memasuki hati dengan Belas Kasih dan Cinta-nya. Dia sungguh-sungguh nyata, dan kehadiran-Nya dapat dialami dan dirasakan di dalam hati umat.

Puji Tuhan, sebagian besar umat yang hadir dalam misa tetap melanjutkan mengikuti acara pujian dan doa. Terlebih lagi, dari 265 umat yang mengikuti doa dan pujian Pentakosta, banyak yang tersentuh oleh urapan Roh Kudus yang sungguh hadir, menyapa dan menyentuh hati mereka. Sungguh luar biasa Tuhan kita.

Kesaksian umat

Berikut ini beberapa kesaksian dari teman-teman yang disapa dan tersentuh oleh Roh Kudus:

Doa dan Pujian Pentakosta-2

Kesaksian umat dalam acara Doa dan Pujian Pentakost di Paroki St. Yosep Purwokerto (090619)

Gregory Halim:

Tadi istri saya bercerita, saat lagu Alleluia dia merasakan sebuah sukacita yang amat luar biasa.  Dia melihat seorang lelaki dengan jubah putih dan muka-Nya sangat berkilau sekali dan istri saya tidak bisa melihat wajah-Nya karena cahaya diwajah-Nya sangat cemerlang sekali. Kaki-Nya sangat bersih dan putih. Tidak ada kata yang bisa digunakan untuk menjabarkan putihnya, langit biru yang begitu indah terbelah dan turun beberapa orang bidadari seperti bayi menggunakan sayap, semua memandang ke wajah lelaki itu, dan lelaki itu tersenyum bahagia melihat kita memuliakan Dia. Sangat luar biasa. Dia lah Yesus. Ini perjumpaan kedua dari pasangan saya dengan Yesus.

Yulin:

Karena sudah beberapa kali tugas di pujian Pentakosta, jadi saya pikir ini pun akan sama. Tetapi semalam saya merasakan sesuatu yang berbeda. Semalam saya sempat sharing di grup kami (grup teman-teman yang biasa kumpul/maen). Bahwa saat lagu halleluya dinyanyikan, saya merasakan hadirat-Nya yang begitu lembut, sejuk, damai..dan sempat saya tidak bisa bersuara karena terharu merasakan kehadiran dan sentuhan, serta jamahan-Nya.

Luar biasa..!! Puji Tuhan, semalam kita semua bersama-sama dapat mengalami Pentakosta baru.. Smua diberkati dan mengalami sukacita, damai sejahtera..

Di grup kami, temanku yang ikut hadir adalah umat GBI, dia pun ikut merasakan dan mengalami damai dan sukacita di hati.. Puji Tuhan.

Yustina Upie:

Sejak saat gladi bersih di gereja, saya yang menjadi panitia pun sudah merasakan hadirat-Nya, apalagi pas mulai pujian awal….. Kami berkumpul Tuhan di hadapan tahta-Mu….. Seluruh tubuh saya merinding banget, dan proses selanjutnya membuat saya makin merasa ada kesejukan, damai, dan  semangat baru. Meskipun dari awal gladi bersih saya merasa pusing luar biasa, pas misa dan awal acara pun saya merasa pusing sekali, tapi saya tetap yakin bahwa saya pasti akan disembuhkan. Dan luar biasa sekali saya tidak tahu mulai kapan pusingnya hilang,  selesai acara sampai rumah baru sadar kalau pusing yang luar biasa itu disembuhkan Tuhan,  hadirat Tuhan yang saya rasakan memulihkan..!!  Puji Tuhan..!!

Nilamsari:

Saya biasa kalau acara seperti itu dan nyanyi, acara PD sering keluar air mata. Bahkan cuma nyanyi biasa bisa keluar air mata. Nah karna sy jd panitia, dan dipesan ndak boleh terlalu terhanyut…ehh ternyata saya juga tidak nangis…

Trus, saat selesai acara pas makan dihampiri teman KEP, org katedral, dan ternyata istri  bapak yang kesaksian yang belum dibaptis. Saya di peluk-peluk, dia senang banget ketemu saya, saya bingung, lhoo sy tidak akrab dan selama KEP juga tidak pernah komunikasi, kok dia seperti itu sikapmu ke saya. Eehh…istri bapak tadi, minta proposal untuk rekrut karyawan, padahal saya tidak pernah cerita latar belakang saya sebelumnya kepadanya, saat itu juga saya bilang Tuhan…”Skenario-Mu keren!”

Sampai rumah kami sekeluarga berbagi cerita, anak saya yang kedua bilang menangis terus, dia ingat saat mau tes belum bayar SPP. Trus pas maju didoakan dia resting, kakinya katanya lemas.

Anak saya yang pertama juga mengalami damai suka cita yang dalam.

Kami sekeluarga tadi malam duduk bersama, bercerita, ngobrol sampai jam 12. Kami suka cita semua… Kami semua dipenuhi Roh Kudus…

Sri Hartini:

Selama lagu alleluya air mata saya tiada henti keluar terus, tetapi berhenti karena ada yang resting di kursi dan saya sadar tidak boleh terhanyut karena sebagai panitia. Ada perasaan sejuk, damai dan sukacita dan di saat mulai di doakan, saya membantu sebagai ‘catcher’. Ada seorang ibu yang sakit stroke saya ajak maju minta didoakan. Dia bilang katanya kakinya tidak kuat berdiri, saya bilang, “pasti kuat bu dengan bantuan Roh Kudus dan hati kita akan semakin mantap.” Puji Tuhan selang beberapa menit ibu tadi akhirnya mau maju minta didoakan. Saya gandeng dan walaupun pakai tongkat dia bisa jalan pelan-pelan. Kemudian dia mengalami resting, Roh kudus bekerja luar biasa banyak yang dijamah dan dipulihkan. Semoga acara Pentakosta semakin mantap. Umat banyak yang rindu akan Roh Kudus. Amin.

Chatarina Titin:

Acara Pentakosta kemarin buat saya adalah pengalaman ke 3 yang luar biasa…. Saya mau berbagi pengalaman iman, kalau Tuhan berkehendak dan kita buka hati maka tidak bisa ditawar-tawar.

Kemarin minggu acaraku penuh. Dari pagi sudah kumpul keluarga besar sampai pukul 17:15, tapi dengan niat untuk ikut misa Pentakosta kuat sekali, walaupun banyak saudara, tawaran hati untuk mengikuti misa tetap kuat. Walaupun akhirnya anak dan suami tidak ikut karena mereka kecapaian seharian bersama keluarga besar termasuk saya, tapi hati kecil saya tetap antusias mengikuti misa. Akhirnya saya datang sendirian ke gereja dan singkat cerita dari awal doa saya mohon karunia Roh untuk mendampingi diri saya dalam KEP hingga selesai sampai setelah selesai belajarnya Tuhan pakai saya. Hingga akhirnya saat yang aku tunggu datang setelah misa pujian dan doa, pak Hardjianto membuka, saya sudah mulai tutup mata dan mengikuti serta menyimak apa yang pak Hardjianto sampaikan.

Dengan berlutut dan berdoa lalu masuk di dalam pujian, saya mulai buka hati dan fokus pada Yesus. Saya pasrah dan memohon kehadiran Roh Kudus. Saya sungguh menikmati pujian itu…. Hingga Saat pujian Alleluya. Di situlah saya mengalami puncaknya perasaan yang luar biasa yang tidak bisa saya ungkapkan, tapi saya rasakan damai suka cita yang tak terkira hingga hanya air mata banjir bandang tidak bisa aku bendung tetapi pujian alleluya tetap dapat dengan jelas dan lantang saya ucapkan…… Inikah Roh Kudus, Karunia Roh yang menghampiri dan menyambangi saya???…. Saya sungguh sangat sukacita dan plong karena mendapat pengampunan… Harapan, sukacita dan kepasrahan ada di dalam hati saya saat itu tanpa aku sadari dari awal sampai saat mau maju kedepan untuk didoakan. Aku terpejam dan berdiri tanpa rasa capek dan benar-benar fokus pada Yesus….. dan saya percaya Tuhan dengar doa ku untuk KEP ku. Tuhan dampingi dan beri waktu-Nya buatku atas kekuatiranku…. Saat aku berjalan ke depan untuk didoakan, saat itu saya didoakan ibu Melin dan saya tidak memilih siapa yang nanti akan tumpang tangan buatku hanya aku sukacita karena-Mu….. Thanks GOD,  terimakasih pak Hardjianto, PDKK dan tim pujian yang membantu mendukung suasana pujian jadi hidup.

Demikian pengalaman singkatku tapi buah-buah Roh Kudus nyata mampir di hatiku. Dan aku siap mengikuti, melayani apa mau Roh yang sudah Tuhan turunkan atasku. Terpujilah Tuhan.

Veronika Mambu – Pemalang:

Pengalaman yang penuh rahmat kualami semalam. Berada di saat pujian dimulai, seluruh ruangan bergemuruh lagunya terasa indah dan suasananya kudus. Semua memuji Tuhan. Di saat pak Hardjianto membuka dengan doa dan mengatakan Roh Kudus hadir di sini, saya mencoba menyatu dengan lagu dan merasakan kehadiran-Nya. Rasa terharu menyelimutiku. Kurasakan angin yang halus dan lembut menghampiriku, menyelimuti dan kubiarkan diriku menyatu menikmatinya dengan terus memuji.. Alleluia… alleluia.. alleluia…

Kedua tanganku entah kenapa bergerak tidak teratur tapi kubiarkan.. kulemaskan saja sambil terus bernyanyi… Di saat duduk tanganku tidak mau berhenti.. kutekan di atas paha tapi tetap bergerak.. kutumpang kedua tangan berusaha supaya berhenti tapi kok tidak mau berhenti. Kusadari Tuhan hadir dan kubiarkan diriku menikmati bersama Tuhan tanpa ku meminta, rasanya damai sekali.

Dan di saat maju mohon pencurahan Roh Kudus… Saya bersama seorang ibu tapi saya lupa namanya. Beliau pernah menjadi anak fasku di waberkat. Rasanya pingin memeluk kangen tapi suasana tidak mengizinkan.

Kami hanya saling tatap dan tersenyum. Kedua tangan kami saling berpengangan erat dan saya pasrah didoakan. Dan doanya kudengar seperti kuharapkan. Tapi tiba-tiba kurasa tersentak seperti jiwaku diambil dan kurasakan tubuhku terhempas.  Kusadari saya sudah resting di lantai.

Pengalaman mengalami kehadiran Tuhan. Oh sungguh bahagia. Sangat dicintai Tuhan. Sampai di kursi, Tuhan mendatangiku bercahaya putih kemilau. Terpana sehingga tiada kata yang terucap. Sesudahnya hanya syukur dan terimakasih untuk anugerah yang luar biasa boleh kualami.

Inton – Pemalang:

Pengalaman yang sangat luar biasa yang saya rasakan semalam ketika lagu penyembahan dinyanyikan membuat hati bergetar…

Dedi Turnip – Pemalang:

Semalam ketika saya mengangkat pujian Haleluya bersama-sama dengan seluruh umat yang hadir, saya merasakan damai sukacita yang begitu luar biasa, sehingga hati saya terdorong untuk maju ke depan dan minta didoakan oleh Pak Hardjianto. Saat Pak Hardjianto menggenggam tangan saya, saya merasakan ada aliran yang begitu hebat masuk ke dalam tubuh saya dan saya merasakan damai sukacita yang begitu luar biasa, sehingga saya membagikan rasa sukacita ini kepada teman-teman dalam perjalanan pulang ke Pemalang. Yesus luar biasaaa… Kehadiran-Nya benar-benar nyata di dalam hidup saya.

Natalia Anie:

Minggu 9 juni 2019 aku mengikuti acara pencurahan Roh Kudus sesudah misa Pentakosta. Ini bukan yang pertama bagiku. Sebelumnya sudah pernah beberapa kali mengikuti acara sejenis, jadi kali ini aku tidak berniat untuk maju dan didoakan secara khusus, karena pernah saat didoakan merasa lemas dan terjatuh. Memang itu tandanya Roh Kudus hadir melawatku. Tapi kali ini aku pikir malu kalau nanti terjatuh lagi..jadi rencananya aku ikut tapi akan duduk di tempat dan berdoa sendiri saja. Acara dimulai dengan menyanyikan lagu pujian dan penyembahan. Aku masih merasa biasa saja. Tapi ada satu lagu terakhir sebelum pujian Haleluya yang menyentuh hati dan membuatku haru. Sesudah masuk ke pujian Haleluya, aku makin merasa larut. Kubuka tanganku , kupejamkan mata dan kulantunkan pujian bersama seluruh umat yang hadir. Tiba-tiba aku merasa seperti dikebut. Ada angin keras menerpa wajahku. Dalam pikiranku bertanya apa itu? Kipas angin? Tidak mungkin! Orang lewat? Mana mungkin sekeras ini anginnya..

Aku merasa kakiku lemas dan mundur menyentuh bangku. Kuputuskan duduk saja sambil tetap melantunkan pujian Haleluya. Kemudian mulutku mulai berkata-kata sendiri. Air mataku mengalir , dadaku merasa sakit dan nafasku memburu. Aku makin kencang berbahasa Roh. Sesaat kemudian aku jatuh tersungkur dan kepalaku terantuk bangku atau lantai, aku tak tahu lagi. Tapi aku tak mampu bangun dan membuka mata. Rasanya lemas tak bertenaga. Aku merasa ada yang menolong dan membopongku. Aku sadar tapi tak berdaya. Dalam keadaan berbaring, aku mendengar suara seseorang yang tidak asing berbahasa Roh di telingaku. Aku masih tidak bisa bergerak, tangan dan kakiku kaku kesemutan, bibirku bergetar seperti menggigil.

Dalam benakku saat itu Ya Tuhan biarpun badanku tidak bisa apa-apa tapi paling tidak aku masih bisa memujiMu..Haleluya.. memuji ~Haleluya~ YHWH~ Allahku.

Cukup lama juga aku masih tidak bisa bangun. Sampai akhirnya dibopong dan dipindahkan lagi.

Pengalaman mendapat lawatan Roh Kudus kali ini adalah yang terhebat bagiku. Sampai malam aku tak bisa tidur karena masih memikirkannya karena begitu mengesan dan tidak habis pikir. Padahal ini adalah bukan hal yang bisa dinalar tapi diimani. Kalau Roh Kudus datang dan mau menyapaku, bagaimana aku bisa menghindar? Tanpa menunggu acara maju ke depan, aku sudah tersungkur duluan. Kapan, dimana dan pada siapa Dia mau datang, tak bisa diatur.

Ini bukan yang pertama tapi Dia tahu disaat aku goyah dan merasa hampa, Dia datang untuk memberi peneguhan. Untuk mengingatkan kembali bahwa Dia senantiasa ada mendampingi aku, di dalam aku. Aku tidak seharusnya takut dan khawatir dengan hidupku. Aku merasa lebih damai dan tenang sekarang. Mgkn keadaan fisikku masih sama saat ini, tapi aku percaya Roh Kudus bekerja dan melakukan perubahan. Jadi sampai akhir nanti, ya Tuhanku, ya Allahku, aku akan tetap memujiMu “Haleluya!”

Ida Susana:

Saya dulu pernah sesekali ikut dalam kegiatan PD di Santo Yosep, tapi sekarang sudah tidak lagi, karena kegiatan banyak, sehingga waktunya berbenturan. Pentakosta tahun yang lalu juga saya ikuti, tapi tidak mengalami apa-apa karena takut dengan bahasa roh, takut resting , intinya saya tabu dalam hal ini. Karena belajar dalam pertemuan KEP untuk bisa pasrah dan membuka hati dan minta hadirnya Roh Kudus, waktu itu saya mencoba berani untuk maju. Akhirnya saya merasakan suka cita tidak ada beban, ringan banget, saat menyanyikan Alleluya. Air mata keluar dan tidak bisa dihentikan, berserah seutuhnya. Setelah hari pentakosta usai, aku merasa sangat diberkati Tuhan. Kehadiran-Nya semakin aku sadari dan semakin nyata cinta-Nya, semoga aku dimampukan untuk selalu mensyukuri Kebesaran Cinta-Nya.

Fanny Agustina:

Sebelum saya pindah dan bermukim di Purwokerto, saya sering mengikuti PD kaum muda, PD keluarga, dan lainnya. Saya rindu sekali mengikuti acara itu, pas kemarin saat doa dan pujian dimulai, saya merasakan mendapatkan siraman air sejuk setelah dari tahun 2016 tidak pernah merasakan suasana Pentakosta. Hati saya damai, dikuatkan dan semangat mengikuti  Tuhan kembali tumbuh, sehingga apapun masalah dalam kehidupan yang saya alami terasa ringan, hanya ada sukacita dan perasaan menjadi lega, plong.

Magdalena Suspriyanti:

Saya belum pernah ikut Doa setelah Misa Pentakosta, baru pada tahun ini. Saya mengalami tangan saya bergerak-gerak terus tidak mau berhenti saat lagu Alleluia di nyanyikan berulang kali, badan saya sudah merinding semua, saya merasakan angin sepoi-sepoi sejuk sekali.  Sungguh rasanya hati ini damai sekali. Ada perasaan yang sama sekali belum pernah saya alami, tenang dan damai luar biasa. Kemudian saat di doakan ke depan saya resting (saya sadar tetapi badan terasa lemes banget tapi hatiku plong banget rasanya). Saya menjadi semakin yakin dan percaya bahwa Roh Kudus melawat diriku.

Sungguh amat berkesan pengalaman pertama ini, semoga saya semakin mengandalkan Roh Kudus saat menghadapi setiap persoalan dalam peziarahan hidup di dunia ini.

Enni:

Saya merasakan senang mengikuti Pentakosta ini, badan terasa ringan, hati menjadi lega, plong, dan bahagia..!!  Sebagian besar sakitku berkurang. Terima kasih Tuhan Yesus sudah melawat aku.

Dion – Singer:

Seperti biasanya ketika menyanyikan lagi haleluia..haleluia..dalam suasana doa, hati ini selalu bergetar. begitupun kemarin waktu doa dan pujian Pentakosta, saat lagu halleluia rasanya hati ini ingin menangis dan menjerit, lalu rasanya ingin sekali melepaskan mic dan ikut maju untuk minta di doakan, sejenak  terasa sesak  tidak bisa menyanyi karena menahan tangis. Tersadar ketika itu bahwa  hal itu tidak boleh terjadi karena saya adalah salah satu singer yang saat itu sedang bertugas membawa  jiwa-jiwa untuk ikut merasakan hadirat Tuhan. Saya kemudian menata hati dan kembali bertugas dengan penuh iman bahwa, saat itu Roh kudus sedang mengurapi setiap pribadi yng hadir tanpa satu pun yang terlewatkan termasuk saya.

NN:

Saat pujian Alleluia.. tanpa aku sadari aku bisa menyanyi dengan suara lantang sambil airmata terus mengalir tanpa bisa aku bendung sambil menengadah memandang patung Yesus di atas altar. Saking hanyutnya dengan pujian Alleluia tanpa aku sadari jari tangan mulai terasa seperti kesetrum listrik dan terus menjalar ke seluruh tubuh. Aku ngga kuat.. Akhirnya aku jatuh di kursi di saat pujian Alleluia masih berkumandang.

Seorang ibu dari lingkungan St. Yakobus:

Tuhan sepertinya hadir saat itu, tetapi yang saya rasakan malah lututku sakit banget, sepertinya ibu dijamah Tuhan untuk  memaafkan suamiku dan benar sesampai di rumah saya minta maaf seperti maaf lahir dan batin, kemudian hati saya merasa lega dan bahagia banget, saya merasakan Roh Kudus diam dan tinggal dalam hatiku. Amin.

Pesan:

Acara semacam ini semoga sebanyak orang yang mengikuti dan mengalami, kalau bisa waktu dan doa diperpanjang juga. Waktu puji pujian tambah.. Sukses dan terima kasih panitia yang siap melayani.

Bu Dewi – Pemalang:

Acara Pentakosta semalam begitu baik, sangat sakral dan tidak bertele-tele jadi sangat terasa kehadiran-Nya.. Pesanku, kita pertahankan di setiap acara PD seperti ini: singkat waktu tapi mengena pada hati orang yang hadir. Itu saja. Maaf dan terima-kasih. Tuhan memberkati.

Demikian beberapa kesaksian dan pesan dari umat berbagai kalangan, tidak hanya dari umat anggota Persekutuan Doa, tetapi juga dari umat lain. Dan tentu masih banyak lagi kesaksian pribadi umat yang merasakan lawatan Tuhan.

Untuk itu apabila ada acara-acara seperti ini, jangan dilewatkan bapak, ibu..! Mari kita ikuti. Tuhan turun dan hadir atas diri kita yang percaya. Roh Kudus melawat kita agar iman kita semakin dibarui dalam iman, dimampukan dan semakin berkenan di hadapan-Nya. Tuhan memberkati.

Purwokerto, 13 Juni 2019

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.