AKTUALIA

“Jesus Effect” Bagi Umat Sanyos: Damai, Sukacita dan Siap Diutus

Sabtu, 27 April 2019, berarak 55 wakil umat dengan mengenakan pakaian adat berbagai daerah memasuki gereja Paroki St. Yosep Purwokerto. Para petugas liturgi, prodiakon, frater dan 3 orang Imam berarak bersama mereka di awal perayaan ekaristi syukur atas HUT ke 55 Paroki ini. Uniknya ke 55 wakil umat itu bukan hanya berbusana adat untuk menggambarkan kebinekaan yang ada di paroki, namun juga membawa bibit pohon kelor di tangan masing-masing.

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Jesus Effect

RD. Yohanes Suratman, Vikaris Jenderal Keuskupan Purwokerto yang memimpin perayaan ekaristi mulai pukul 18.00 itu menafsirkan makna dari pohon kelor itu di awal homilinya. “Pohon kelor ini konon mempunyai khasiat ampuh untuk melumpuhkan setan-setan. Jadi sekian banyak pohon kelor ini nantinya akan ditanam di paroki St. Yosep, maka akan tumbuh dan berkembang. Saya yakin setan-setan pun akan tunduk di situ.” Tafsiran romo Ratman itu disambut gelak tawa umat yang hadir.

Homili Rm Yohanes Suratman

Homili RD. Yohanes Suratman, Vikjen Keuskupan Purwokerto dalam misa syukur HUT ke 55 paroki St. Yosep Purwokerto (270419/foto: yohanes purwanto)

“Juga di bulan April ini, kita sebagai warga negara baru saja merayakan pesta demokrasi. Bulan April menjadi bulan penuh makna bagi kita semua, baik sebagai orang katolik, sebagai warga paroki, maupun sebagai warga negara. Walaupun KPU belum mengumumkan secara resmi hasil Pilpres dan siapa yang akan menjadi Presiden kita untuk ke depan, tetapi di media massa sudah ada istilah ‘Jokowi Effect’, antara lain indeks harga saham gabungan menjadi naik dan rupiah pun menguat”, lanjut Rm Ratman menanggapi konteks aktual.

Homili Rm Yohanes Suratman-1

RD. Yohanes Suratman

Dengan bercanda Romo Ratman menambahkan, “Karena kita sedang misa, jadi saya tidak akan mengulas lebih lanjut Jokowi Effect itu, apalagi mendeklarasikan kemenangannya, nanti dikira edan.” Umat pun tertawa lagi. “Yang jelas saya akan mengulas mengenai Paskah, yang kita rayakan dan juga kaitannya dengan pesta paroki kita. Kita telah mendeklarasikan kemenangan Yesus atas dosa dan maut. Yesus dengan bangkit, Dia mengalahkan dosa dan maut dan memberi harapan baru untuk kita semua. Amin ?” Langsung disambut umat, “Amiiiiinnnn”. Rm Ratman menegaskan, “Yesus telah menang. Dan kita mendeklarasikan kemenanganNya. Ini deklarasi beneran, bukan edan-edanan.”

“Dan dari kemenanganNya ini, Yesus sungguh punya efek. Itulah “Jesus Effect” yang pengaruhnya sungguh luar biasa, mengubah sejarah kekristenan di sepanjang masa, sampai hari ini dan masa yang akan datang, sampai selama-lamanya. Gereja, komunitas kristiani diubah dan memiliki perjalanan yang sungguh luar biasa. Itu karena kemenangan Kristus atas dosa dan maut, dalam kebangkitanNya.” tandas Rm Ratman dengan suara meninggi.

“Kita akan lihat tema sabda Tuhan yang diwartakan kepada kita hari ini, efek Yesus dan kebangkitan-Nya dalam komunitas kristiani, juga bagi kita sekarang dan kaitannya dengan kehidupan menggereja di paroki St. Yosep. Kita melihat efek Yesus yang bangkit ini mengubah kehidupan murid-murid Yesus secara sungguh luar biasa. Murid-murid yang semula dihantui rasa takut, rasa bersalah, berubah menjadi gagah berani dan penuh sukacita mewartakan Yesus yang bangkit kepada siapa saja. Yang dulu, mereka berlindung pada tembok-tembok tertutup, sejak kebangkitan mereka berani membuka pintu dan mereka mendatangi orang-orang yang dulu mengancamnya. Bahkan ketika Petrus dan Yohanes dilarang untuk mewartakan nama Yesus, mereka tidak mau berhenti. Itu efek kebangkitan Yesus.” ulas romo Ratman.

Selanjutnya umat diajak untuk refleksi, “Sejauh mana Yesus yang bangkit, yang kita rayakan bersama, sungguh mengubah hidup kita? Apakah kita berani dan mengalami sukacita sehingga kesaksian kita untuk menjadi pewarta kabar gembira Yesus kepada sesama, sungguh menjadi hidup dan menjadi gairah baru dalam hidup kita terutama dalam membangun paroki ini juga nyata?”

Yesus yang bangkit mengubah para murid

Romo yang mendalami hukum gereja ini mengupas lebih dalam mengapa kebangkitan Yesus mengubah murid-murid yang tadinya takut menjadi begitu berani. Ada tiga hal yang dilakukan Yesus kepada para murid.

Yang pertama, Yesus menjumpai para murid dengan menyapa mereka: ‘Damai sejahtera bagi kamu’. Para murid tadinya dirundung rasa takut dan rasa bersalah karena kematian Yesus. Mereka merasa bersalah karena ada yang mengkhianati, ada yang menyangkal dan yang lain lari terbirit-birit meninggalkan Sang Guru yang menderita sengsara. Mereka dihantui rasa takut dan bersalah yang begitu mendalam. Dan mereka disembuhkan oleh Yesus yang bangkit sendiri. Karena itu Yesus datang menjumpai mereka dengan mengatakan ‘Damai sejahtera bagi kamu’. Yesus ingin mendamaikan para murid dengan diriNya, juga dengan diri mereka sendiri dan dengan sesamanya. Tanpa kedamaian seperti ini tidak mungkin para murid menjadi pewarta yang sungguh luar biasa. Rasa bersalah mereka juga diampuni oleh Tuhan. Sapaan itu menunjukkan bahwa Yesus tidak memperhitungkan dosa, pengkhianatan, penyangkalan mereka. Bagi Yesus, sekarang yang penting adalah damai bagi mereka. Para murid kemudian merasa punya harga diri dan memiliki semangat baru untuk menjadi pewartaNya. Bagaimana dengan kita saat ini?

 

Romo Ratman mengajak umat yang hadir untuk melihat pengalaman saat dipanggil untuk melayani di gereja. Kerap kali semangat seseorang tidak tumbuh dan tidak tergerak sedikit pun untuk melayani karena dihantui rasa takut, takut salah, takut tidak mampu, takut diketawain orang. Macam-macam ketakutan itu menghantui sehingga seseorang tidak punya gairah dan semangat baru untuk melayani. Apalagi kalau seseorang pernah terpuruk hidupnya. Kegagalan itu akan menghantui hidupnya. Maka tidak heran kalau orang jadi depresi, mengurung diri, dan sulit untuk ditumbuhkan. Muncullah berbagai upaya untuk penyembuhan, misalnya retret penyembuhan luka batin dan sebagainya.  Itu untuk memulihkan seseorang.

Bagi romo Ratman, “Mustahil orang bisa bersukacita dan mau melayani, menjadi saksi Kristus kalau hidupnya terus dihantui oleh rasa gagal, oleh banyak ketakutan. Dan pada hari ini, kita disadarkan bahwa Tuhan Yesus yang bangkit telah menyembuhkan kita dengan menganugerahkan damai. Dia telah menang atas kuasa dosa dan maut, maka kita semua sebagai murid-muridNya diampuni, dipulihkan, diberi harapan baru. Bahwa kegagalan yang kita alami bukan akhir segala-galanya, bahkan bisa menjadi jalan untuk kehidupan yang lebih baik lagi. Dan itu hanya mungkin, karena Yesus yang bangkit ada di tengah-tengah kita.”

Rm. Ratman mengajak, “Karena itu, ayuk kita semangat. Karena Yesus telah menganugerahkan damai kepada kita, dosa kita telah diampuni. Kita diberi anugerah hidup baru.”  Bagaimana hal itu bisa kita hayati dalam hidup sehari-hari? “Kita secara manusiawi menghadapi persoalan hidup sehari-hari. Juga saya sebagai seorang romo, kalau ditanya ‘apakah romo ngga pernah merasa bosen, capek, takut, dan sebagainya ?’ Saya akan menjawab, ‘Iya, pernah’. Tetapi, sekalipun saya lelah, bosan, saya akan berusaha menampilkan wajah gembira dalam pelayanan.”

Homili Rm Yohanes Suratman-2

“Begitu banyak kegiatan, tetapi saya akan mencoba melayani dengan gembira” kesaksian Romo Suratman (270419)

Romo yang gemar tenis ini menceritakan bahwa dia baru pulang sore hari dari melayani teman-teman yang mengikuti retret di Hening Griya Baturaden, lalu merayakan ekaristi di Paroki St. Yosep. Sesudah itu pergi ke Kutoarjo karena besok pagi merayakan misa penerimaan sakramen krisma. “Begitu banyak kegiatan, tetapi saya akan mencoba melayani dengan gembira,” sharing beliau. “Mengapa demikian, karena itulah panggilan kita semua. Yesus telah mengalahkan kuasa dosa. Jangan sampai kita dihalangi oleh perasaan-perasaan yang tidak semestinya menguasai diri kita. Yang harus menguasai diri kita adalah Tuhan yang bangkit mengalahkan kuasa dosa.” Dan umat pun menyerukan “Amiiinn”

Yang kedua, apa yang dilakukan Yesus kepada murid-muridNya yang dulu dihantui ketakutan bahkan ketika Yesus masih berkarya, mereka berebut posisi siapa nanti yang terbesar, sangat berambisi, berebut panggung, bersaing dan bertengkar satu sama lain ? Apa yang terjadi sesudah kebangkitan? Mereka sangat setia melayani bahkan sampai menjadi martir. Apa yang dilakukan Yesus? Setelah mengampuni para murid dengan memberi damai sejahtera, Yesus mengembusi mereka dengan Roh Kudus. “Terimalah Roh Kudus”. Dengan Roh Yesus, murid-murid tidak lagi hidup bagi dirinya sendiri, tetapi hidup bagi Tuhan dan sesama. Ambisi-ambisi bahkan sampai pertengkaran untuk berebut panggung dan posisi, itu semua ditinggalkan. Sekarang yang hidup di dalam diri mereka adalah Roh Yesus yang bangkit. Mereka tidak lagi dikuasai oleh ambisi-ambisi dan keinginan-keinginan mereka, tetapi Yesus yang menjiwai seluruh hidup mereka. Dan Yesus yang menjiwai adalah Yesus yang memberikan seluruh hidupnya untuk keselamatan sesama. Karena itu para rasul itu rela menjadi martir demi warta kabar gembira semakin menjadi nyata di tengah dunia ini.”

Kemudian Romo Ratman bertanya sebanyak tiga kali, “Apakah Bapak Ibu pernah menerima Roh Yesus atau belum?” Dijawab oleh umat, “Sudaaahhh”. “Kapan itu Anda terima?” tanya romo Ratman. Terdengar jawaban sebagian umat, “saat dibaptis”. Yang lain menjawab, “ketika menerima Krisma”. Ditegaskan oleh romo asal paroki Kutoarjo ini, “Roh yang sama yang hadir dalam diri para murid yang membuat setia melayani, sekarang ini juga hadir dalam diri kita. Karena itu kita mestinya setelah mengalami kebangkitan Yesus, efek bangkitnya Yesus ini juga ada dalam diri kita semua. Amin?” Umat menjawab, “Amin”

Syukur atas saksi Iman dan siap diutus

Penampakan-2Yang ketiga, undangan Yesus kepada Tomas yang dikenal sulit percaya. Ketika diberitahu oleh murid-murid yang lain bahwa Yesus bangkit dan telah menjumpai mereka, Tomas belum menjadi percaya. Dan kini Yesus hadir dan mengundang Tomas untuk memasukkan jarinya ke dalam bekas luka di lambungNya. Dia mengundang Tomas supaya menjadi percaya kepada Yesus. Apakah tanggapan Tomas setelah ajakan Tuhan untuk memasukkan jarinya ke luka Yesus? “Ya Tuhanku dan Allahku”, kata Tomas. Melalui Yesus yang bangkit ini, Tomas meyakini Tuhan Allah hadir di dalam hidupnya.

Romo Ratman mengingatkan, “Keyakinan itu diwariskan kepada kita melalui Kitab Suci, sakramen, dan kemartirannya. Tomas menjadi martir sampai di India. Dan kalau kita yang tidak pernah berjumpa secara langsung dengan Yesus, menjadi percaya karena kesaksian Tomas tadi, Yesus berkata kepada kita, “Berbahagialah kamu sekalipun tidak melihat, namun percaya”. Kata-kata Yesus itu ditujukan kepada kita semua yang belum pernah berjumpa secara langsung dengan Yesus namun percaya karena kesaksian Tomas dan rasul-rasul lain, maka kepercayaan ini akan membuat hidup kita menjadi bahagia.

Mengakhiri homilinya, Romo Vikjen mengingatkan umat akan jasa para pendahulu sehingga paroki St. Yosep ini berdiri. Disebut antara lain Romo Padmowidjoyo MSC, Romo Suwatan MSC, asli Tegal yang kemudian menjadi Uskup Manado (sekarang Uskup Emeritus), juga romo-romo yang lain dan Bapak Ibu perintis paroki ini. Mereka adalah saksi-saksi iman yang menghantar kita untuk makin menjadi beriman, berjumpa dengan Yesus dan yang menjadikan paroki kita berkembang sampai seperti ini.

“Dalam ekaristi sore ini, kita mau bersyukur atas saksi-saksi iman. Secara lebih khusus lagi kita bersyukur bahwa kita juga masing-masing punya saksi-saksi iman yang menghantar kita menjadi katolik seperti ini. Bisa orang tua kita, guru-guru, sekolah, romo-romo paroki kita, para katekis. Mereka adalah saksi-saksi iman yang menghantar kita berjumpa dengan Yesus, Sang Penyelamat kita. Karena itu setelah mengalami hadirnya Tuhan lewat Kitab Suci, sakramen dan saksi-saksi iman itu, sekarang kita diutus untuk menjadi Saksi Kristus juga. Maka Yesus mengatakan, “Sama seperti Bapa mengutus aku, demikian juga Aku mengutus kamu”. Kita sekarang ini dipanggil untuk menjadi utusan-utusan Tuhan agar kita bisa menjadi penuntun bagi generasi-generasi yang akan datang. Jika demikian paroki kita akan bertumbuh, berkembang dan semakin berdaya pikat. Itu karena hidup, pelayanan dan keteladanan kita bagi orang-orang di sekitar kita. Amin”

 

Ketika ditanya di akhir homili, “Apakah Anda siap menjadi saksi-saksi Kristus bagi generasi mendatang?” “Siaapp”, jawaban umat serentak. Meski homili itu berkisar 22 menit, namun umat merasa bersyukur dan diteguhkan. Perayaan Ekaristi berlangsung khidmat selama hampir 2 jam diiringi oleh koor yang terdiri dari Bapak-bapak, yakni Cor Unum Sonora.

Tumengaa in Pangeran

Berkat tumpeng dan bibit pohon kelor

Berkat tumpeng dan bibit pohon kelor dalam misa syukur HUT ke 55 Paroki Sanyos (270419/ foto: yoh.purwanto)

Sebelum doa penutup, Rm Ratman berkenan memberkati nasi tumpeng dan bibit pohon kelor. Suatu perpaduan yang sangat bermakna karena “tumpeng” selain berarti “yen metu kudu mempeng” (jika keluar harus semangat), juga bisa berarti “tumengaa ing Pangeran” (arahkanlah hidup kepada Tuhan) maka kuasa-kuasa setan akan dikalahkan (disimbolkan oleh pohon kelor).

Setelah doa penutup, Bpk. YA. Nunung Winarta memberikan sambutan selaku wakil DPP Harian. Disampaikannya cuplikan sejarah singkat berdirinya Paroki St. Yosep yang tepatnya diresmikan tanggal 14 April 1964. Ucapan terima kasih disampaikan kepada Romo Vikjen, para romo, frater, bruder, suster, seluruh petugas liturgi, Panitia HUT, pengurus lingkungan dan kategorial serta para donatur yang mendukung perayaan HUT ke 55 ini. Diharapkan umat Sanyos semakin siap diutus menjadi berkat, yakni dengan memperjuangkan bersama tema HUT: “Kita Bineka. Kita Pancasila. Kita Indonesia”. Pak Nunung lalu mengajak semua umat menyanyikan lagu “Pancasila Rumah Kita”.

 

Seusai perayaan ekaristi, umat menuju ke aula paroki untuk mengadakan syukuran sederhana. Romo Valentinus Sumanto dan Romo Kristiadji didaulat oleh MC, Prisca dan Lexa untuk memotong tumpeng. Rm Yohanes Suratman dan wakil DPP Harian, Bpk Alex Sudijanto ikut mendampingi. Potongan pertama dari tumpeng itu kemudian diserahkan kepada Romo Ratman dan potongan kedua diserahkan kepada Bpk Alex. Umat pun menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh wilayah-wilayah rohani. Pada kesempatan itu juga diumumkan dan diserahkan hadiah kepada para pemenang lomba disain logo paroki, yakni Andreas Sutikno, Uung Priagung dan Michella Jessy Johana.

 

Sembari menikmati hidangan, umat dihibur oleh persembahan lagu dari beberapa umat diiringi keyboard oleh Bpk. Handoko Pratiknyo. Acara perayaan syukur pun berakhir. Umat pulang ke rumah dengan penuh berkat dan sukacita.

Foto lainnya dapat dilihat di FB Lily Karlina : Album HUT 55 Paroki Sanyos

Sementara itu panitia HUT segera bergegas menuju ke halaman kantor kelurahan Purwokerto Wetan untuk persiapan akhir menjelang Jalan Sehat yang akan diadakan Minggu paginya. Nantikan tulisan selanjutnya…… *_* (xty)

 

 

1 reply »

  1. Sungguh meneguhkan homili Romo Ratman…
    Terima kasih atas tulisan yang sangat komplit tentang homili Romo Ratman…tak ada yang terlewat…

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.