RENUNGAN

Ketulusan Untuk Melayani

HARI MINGGU BIASA IV  (3 Pebruari 2019)

Yer. 1:4-5,17-19; Mzm. 71:1-2,3-4a,5-6ab,15ab,17; 1Kor. 12:31-13:13 (1Kor. 13:4-13); Luk. 4:21-30.

DITERBITKAN OLEH TIM KERJA KITAB SUCI – DPP. SANTO YOSEP PURWOKERTO

Lalu Ia memulai mengajar mereka, katanya : “Pada hari ini genaplah Nas ini waktu kamu mendengarnya” (Lukas 4:21)

Bapak/Ibu dan Saudara/i terkasih.

Dalam kehidupan di masyarakat sering kita jumpai betapa orang lebih menghargai seseorang karena ketokohannya, karena pengaruhnya, karena pangkatnya, karena jabatannya, karena kekayaannya bahkan karena kedermawanannya. Sering kita lebih banyak mendengar dan percaya karena melihat seseorang dari segi lahiriahnya. Rasanya kita mudah terbius dan percaya karena melihat status sosial seseorang. Kita kadang tidak mau atau kurang mau mendengar dan menerima sumbang saran dari orang lain, yang terlihat sederhana walau ucapannya mengandung banyak kebenaran. Keadaan serupa juga sering kita jumpai dalam hal pelayanan kita. Dalam pelayanan kadang kitapun kurang perhatian jika menghadapi warga yang biasa-biasa saja. Di sisi lain kita dengan cepatnya merespon jika yang memerlukan adalah warga yang terpandang dengan status sosial yang tinggi.

Bapak/Ibu dan Saudara/i terkasih.

Yesus di Bait AllahApa yang terjadi dalam masyarakat kita dan juga pelayanan kita di atas rupanya sudah terjadi di jaman Tuhan Yesus dulu. Di mana orang menilai orang lain hanya dari luarnya saja atau lahiriahnya saja. Dalam Injil yang kita dengar hari ini Yesus menyatakan bahwa Ia menggenapi nas yang Ia bacakan dari Kitab Nabi Yesaya. Nas tersebut berbunyi : “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” (Luk 4:18-19).

Tetapi apa yang terjadi? Apakah penegasan Yesus bahwa Ia telah menggenapi nas tersebut disambut dengan suka cita oleh orang-orang Nazaret? Orang-orang yang dengan penuh keheranan mendengarkan kata-kata bijak, dan kata-kata indah yang Tuhan Yesus sampaikan kepada mereka? Ternyata tidak. Justru mereka begitu kecewa dan marah. Mereka kecewa dan marah karena mereka mengenal Yesus hanya dari lahiriah saja. Yesus di mata mereka adalah orang biasa, anak seorang tukang kayu yang kehidupannya pun sangat sederhana. Di mata mereka tidaklah mungkin anak seorang tukang kayu menggenapi nas tersebut.  Maka ucapan Yesus bahwa “nas itu digenapi pada saat mereka mendengarnya….”, berubah menjadi cacian dan makian bahkan Yesus pantas untuk diusir dari tanah kelahiranNya.

Bapak/Ibu dan Saudara/i terkasih.

Kita sudah mengimani Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat hidup kita. Maka rasanya tidak mungkin kita akan mengusir Tuhan Yesus dari kehidupan kita. Namun kenyataan dalam hidup kita kadang kita melupakan dan mencampakkan Tuhan Yesus melalui perkataan kita, perbuatan dan tingkah laku kita yang menyimpang dari ajaran kasihNya. Marilah Injil hari ini kita jadikan refleksi bagi diri kita masing-masing untuk meluruskan jalan kita. Untuk tidak lagi melupakan dan mencampakkan Tuhan Yesus dari kehidupan kita. Untuk memurnikan pelayanan-pelayanan kita, sehingga pelayanan kita penuh dengan ketulusan. Pelayanan kepada sesama umat tanpa membedakan status sosialnya, tapi pelayanan yang hanya dilandasi atas ketulusan kasih. Amin!

Berkah Dalem

Hironimus Soedjarwo

Lingk st Andreas.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.