Sekedar sharing pengalaman pertama mengunjungi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) bersama Romo Ag. Dwiyantoro dan Panitia Natal Paroki Santo Yosep Purwokerto.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Selasa, 26 Desember 2018 pukul 08.00 WIB, kami berkumpul di Lapas Purwokerto untuk mengadakan acara Natal bersama warga binaan di sana. Sebelum menemui warga binaan, kami harus melalui serangkaian aturan, di antaranya pemeriksaan badan oleh petugas, tidak diperbolehkan membawa HP/kamera selain yang bertugas sebagai sie dokumentasi. Barang bawaan kami dititipkan di loker yang ada.

Tidak hanya kami yang diperiksa petugas, tetapi nasi kotak, snack dan bingkisan yang kami bawa pun diperiksa secara ketat satu demi satu. Lalu kami duduk menunggu ijin dari petugas untuk dapat memasuki gedung bagian dalam tempat acara Natal bersama akan dilakukan.

Setelah menunggu pemeriksaan makanan dll, kami diperkenankan masuk. Melewati gerbang pertama, perasaan sedih melihat betapa tingginya gerbang besi yang di atasnya penuh lilitan kawat duri. Saya juga melihat beberapa orang warga binaan yang sedang menyapu halaman dan ada yang memandang kami dengan tatapan kosong, bahkan ada yang menunduk malu.

Kami disambut beberapa warga binaan (yang bertindak sebagai panitia Natal di Lapas) yang menyalami kami dengan erat dan senyuman hangat mereka. Kami memasuki ruangan yang sudah dipersiapkan. Diawali dengan menyanyi bersama warga binaan, ibadat, pembagian komuni, sambutan-sambutan dari panitia Natal Paroki St. Yosep, kepala Lapas dan renungan dari Romo Toro.

Lalu seorang warga binaan maju ke depan dan sharing bahwa beliau dulunya adalah seorang pengamen di Jakarta dengan seorang istri dan 2 anak. Ketika beliau mulai menyanyikan sebuah lagu, air mata saya mulai menetes karena membayangkan betapa beliau ingin segera bebas dan rindu bertemu anak serta istrinya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kemudian koor warga binaan menyanyikan lagu Natal dengan penuh sukacita. Ada ekspresi wajah yang penuh sukacita, tersenyum, bahkan tanpa ekspresi malu karena harus tampil menyanyi di depan kami.

Kemudian acara dilanjutkan dengan pembagian doorprize dan pembagian nasi kotak, snack dan bingkisan natal. Saat mereka makan, saya sempat bertanya kepada beberapa warga binaan di sana, sudah berapa lama mereka di sana dan tindakan apa yang mereka lakukan sehingga harus tinggal di Lapas tersebut. Ada yang karena narkoba, mencuri mobil bahkan membunuh. Dan ada yang bertanya kepada saya : Ibu ga takut duduk dekat kami?

Saya juga sempat terkejut dan miris mendengar pengakuan seorang anak muda yang sudah 5 tahun di penjara, usianya baru 21 tahun, dan vonis hukuman 9 tahun. Saya tanya karena apa, katanya usia 16 disuruh mengedarkan ganja oleh orang tuanya. Dia sangat sukacita karena mendapat remisi (masa pengurangan hukuman 1,5 bulan). Tapi saya masih ga bisa membayangkan, waktu yang harus dilalui hampir 4 tahun lagi di tempat seperti itu (lapas).

Saya hanya berpesan kepadanya supaya selalu berpikir positif, rajin berdoa. Kalau sudah bebas nanti, jadilah orang yang lebih baik, jangan mengulangi perbuatannya yang dulu, dan agar percaya kalau Tuhan punya rencana yang indah baginya setelah bebas nanti.

Karena keterbatasan waktu, kami pun harus pamit pulang kepada mereka, sambil menyalami satu per satu warga binaan di sana. Wajah mereka berbeda saat kami berpamitan pulang. Semua wajah warga binaan terlihat penuh sukacita dan kedamaian.

Bu Santi Wijaya bersama keluargaHal yang dapat saya petik dari kegiatan di Lapas adalah rasa syukur pada Tuhan, karena masih diberi nafas kehidupan, kebebasan bertemu dengan anak-anak, suami, keluarga, teman dan semua sesama tanpa dibatasi oleh jeruji besi pemisah seperti mereka di lapas tadi.

Bersyukur karena di setiap persoalan hidup saya dalam berkeluarga, kesulitan yang saya alami, sakit yang saya alami, saya jauh lebih beruntung daripada mereka para warga binaan di Lapas.

Semoga saya dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin, untuk dapat mensyukuri setiap detik kehidupan yang masih Tuhan berikan, dengan kerendahan hati dan penuh CINTA AGAPE (cinta yang tidak mengharapkan balasan), melayani keluarga dan sesama dengan sukacita dan dikuatkan dalam iman kepada Tuhan. Amin. Berkah Dalem.🙏

Penulis:

Santi Wijaya
Santi Wijaya

 

 

 

 

 

Sumber foto: FB Santi Wijaya dan Dokumentasi Panitia Natal St. Yosep 2018 oleh Thio

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s