Kursus Spiritualitas Hati Online

Bagian 37 Perkawinan Dan Hidup Keluarga: Karunia Dan Kesempatan Untuk Bertumbuh Dalam Cinta

Pada awal seruan apostoliknya tentang “Sukacita Kasih” Paus Fransiskus menyatakan bahwa “keluarga bukanlah sebuah masalah; keluarga pertama dan terutama adalah sebuah kesempatan” (AL 7), yakni sebuah kesempatan untuk bertumbuh dalam kasih. Katanya: “Perkawinan adalah karunia dari Tuhan” (AL 61), dan baik suami dan isteri “dipanggil untuk menanggapi karunia Allah dengan komitmen, kreativitas, ketekunan dan perjuangan sehari-hari” (AL 74).

Sri Paus mengingatkan kita bahwa “tidaklah membantu untuk bermimpi akan kasih yang sempurna yang tidak perlu didorong pertumbuhannya” (AL 135) dan “jauh lebih sehat untuk menerima secara realistis keterbatasan, kekurangan dan ketidaksempurnaan kita, serta menjawab panggilan untuk bertumbuh bersama, mematangkan kasih dan menguatkan kesatuan, apa pun yang mungkin terjadi.” Jangan lupa, beliau menasihatkan “bahwa yang terbaik belum tercapai, bahwa anggur menjadi tua seiring berlalunya waktu” (AL 135).

“Bertumbuh dalam kasih” adalah tema yang terus menerus muncul dalam surat Sri Paus. “Setiap perkawinan adalah ‘sejarah keselamatan’, dan mengandaikan berawal dari kerapuhan yang, berkat karunia Allah dan tanggapan kreatif dan murah hati, bertumbuh dari waktu ke waktu menjadi kenyataan yang semakin kuat dan berharga. Mendorong pertumbuhan berarti membantu seseorang untuk membentuk identitasnya sendiri” (AL 211).

HUT Perkawinan-1-horz

HUT Perkawinan dirayakan tiap minggu I di Paroki St. Yoseph Purwokerto (foto: mikaelyoyok)

Demikian juga, “tidak terceraikannya perkawinan – ‘apa yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia’ [Matius 19:6] – tidak boleh dipandang sebagai kuk bagi umat manusia, tetapi sebagai karunia yang diberikan kepada orang-orang yang bersatu dalam perkawinan” (AL 62). Mengapa karunia? Karena janji untuk menjunjung tinggi “idealisme untuk menjadi tua bersama, saling menjaga dan mendukung satu sama lain” (AL 39) akan juga mengatasi kecenderungan “tetap tinggal pada tahap-tahap awal kehidupan afeksi dan seksual” (AL 41). Janji ini, yang disampaikan kepada satu sama lain dalam upacara perkawinan, mendorong suami dan isteri “untuk membuat kasih mereka bertumbuh dan mendalam” (AL 88). Sri Paus menyatakan “kasih yang gagal bertumbuh itu berisiko. Pertumbuhan hanya terjadi jika kita menanggapi rahmat Allah melalui tindakan kasih terus-menerus, melalui tindakan kebaikan yang semakin sering, semakin intens, semakin murah hati, semakin lembut dan semakin gembira” (AL 134).

Saat Untuk Refleksi

“Sukacita juga diperbarui dalam penderitaan.
Seperti dikatakan Santo Agustinus,
‘semakin besar bahaya dalam pertempuran,
semakin besar sukacita kemenangan.’

Setelah menderita dan berjuang bersama,
pasangan suami-isteri mampu mengalami
bahwa pergumulan itu sungguh berharga,
sebab mereka mendapatkan beberapa kebaikan,
belajar sesuatu sebagai pasangan,
atau mereka dapat semakin menghargai apa yang mereka miliki.

Hanya sedikit sukacita manusiawi sedalam dan sehebat
seperti ketika dua orang, yang saling mengasihi,
telah mencapai sesuatu sebagai hasil jerih payah yang besar
dan diupayakan bersama-sama.”

(Paus Fransiskus, Amoris Laetitia, n.130).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.