Gaudete et Exsultate 129-139

KEBERANIAN DAN KEGAIRAHAN

129. Kekudusan juga merupakan parrhesía : kekudusan merupakan keberanian, sebuah dorongan untuk menginjili dan meninggalkan tanda di dunia ini. Guna memungkinkan kita melakukan hal ini, Yesus sendiri datang dan mengatakan kepada kita sekali lagi, dengan tenang namun tegas : “Jangan takut” (Mrk 6:50). “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 28:20). Kata-kata ini memungkinkan kita untuk berangkat dan melayani dengan keberanian yang sama seperti Roh Kudus membangkitkan para Rasul, mendorong mereka untuk memberitakan Yesus Kristus. Keberanian, antusiasme, kebebasan untuk berbicara, semangat kerasulan, semua ini termasuk dalam kata parrhesía. Kitab Suci juga menggunakan kata ini untuk menggambarkan kebebasan dari suatu kehidupan yang terbuka bagi Allah dan bagi orang lain (bdk. Kis 4:29,9:28,28:31; 2 Kor 3:12; Ef 3:12; Ibr 3:6,10:19).

130. Beato Paulus VI, dengan merujuk pada hambatan untuk penginjilan, berbicara tentang kurangnya semangat (parrhesía) yakni “karena segenap semangat yang lebih sungguh-sungguh berasal dari dalam diri sendiri”.[103] Betapa sering kita tergoda untuk tetap dekat dengan pantai! Tetapi Tuhan memanggil kita untuk bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jala kita (bdk. Luk 5:4). Ia meminta kita menghabiskan hidup kita dalam pelayanan-Nya. Berpegang erat padaNya, kita terinspirasi meletakkan seluruh karisma kita untuk melayani orang lain. Semoga kita senantiasa merasa terdorong oleh kasih-Nya (2 Kor 5:14) dan mengatakan bersama Santo Paulus: “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1 Kor 9:16).

131. Pandanglah Yesus. Belas kasih-Nya yang mendalam menjangkau orang lain. Belas kasih-Nya tidak membuat-Nya ragu, segan atau jaga diri, seperti yang sering terjadi dengan kita. Justru sebaliknya. Belas kasihan-Nya membuat-Nya giat pergi keluar untuk berkhotbah dan mengutus orang lain pada perutusan penyembuhan dan pembebasan. Marilah kita mengakui kelemahan kita, tetapi perkenankanlah Yesus untuk memegangnya dan mengutus kita juga. Kita lemah, tetapi kita memiliki harta yang dapat melapangkan kita dan membuat orang-orang yang menerimanya semakin baik dan semakin bahagia. Keberanian dan keteguhan kerasulan adalah bagian penting dari perutusan.

132. Parrhesía adalah meterai Roh; parrhesía membuktikan keaslian dari pewartaan kita. Parrhesía adalah jaminan yang penuh sukacita yang menuntun kita menuju kemuliaan dalam Injil yang kita beritakan. Parrhesía merupakan kepercayaan yang tak tergoyahkan dalam kesaksian yang setia yang memberi kita kepastian bahwa tidak ada yang dapat “memisahkan kita dari kasih Allah” (Rm 8:39).

133. Kita membutuhkan dorongan Roh, agar kita tidak dilumpuhkan oleh rasa takut dan kehati-hatian yang berlebihan, jangan sampai kita terbiasa tetap di dalam batas aman. Marilah kita ingat bahwa ruang tertutup tumbuh bulukan dan tidak sehat. Ketika para Rasul tergoda untuk membiarkan diri mereka dilumpuhkan oleh bahaya dan ancaman, mereka bergabung dalam doa untuk memohon parrhesía : “Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu” (Kis 4:29). Sebagai hasilnya, “ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani” (Kis. 4:31).

134. Seperti nabi Yunus, kita terus-menerus tergoda untuk melarikan diri ke tempat yang aman. Tempat yang aman dapat memiliki banyak nama : individualisme, spiritualisme, hidup di dunia kecil, kecanduan, berpendirian keras, penolakan gagasan dan pendekatan baru, dogmatisme, nostalgia, pesimisme, bersembunyi di balik aturan dan peraturan. Kita bisa menolak meninggalkan cara yang akrab dan mudah dalam melakukan sesuatu. Namun tantangan yang tercakup bisa seperti badai, ikan besar, cacing yang mengeringkan tanaman kundur (labu manis), atau angin dan matahari yang membakar kepala Yunus. Bagi kita, seperti baginya, tantangan-tantangan tersebut dapat bertindak untuk membawa kita kembali kepada Allah yang lembut, yang mengundang kita untuk memulai perjalanan baru.

135. Allah adalah kebaruan yang abadi. Ia mendorong kita terus menerus untuk memulai sesuatu yang baru, melampaui apa yang sudah dikenal, hingga pinggiran dan tempat jauh. Ia membawa kita ke tempat manusia paling terluka, di mana laki-laki dan perempuan, di bawah rupa kerukunan yang dangkal, terus mencari jawaban untuk pertanyaan tentang makna kehidupan. Allah tidak takut! Ia tidak kenal takut! Ia selalu lebih besar dari rencana dan rancangan kita. Tidak takut pada pinggiran, Ia sendiri menjadi pinggiran (bdk. Flp 2:6-8; Yoh 1:14). Jadi jika kita berani pergi ke pinggiran, kita akan menemukanNya di sana; memang, Ia sudah ada di sana. Yesus sudah ada di sana, di dalam hati saudara-saudari kita, dalam daging mereka yang terluka, dalam masalah mereka dan dalam kesedihan mereka yang mendalam. Ia sudah ada di sana.

Yesus mengetuk pintu hati kita.png136. Cukup benar, kita perlu membuka pintu hati kita kepada Yesus, yang berdiri dan mengetuk (bdk. Why 3:20). Terkadang saya bertanya-tanya, apakah mungkin Yesus sudah ada di dalam diri kita dan mengetuk pintu agar kita membiarkan-Nya lolos dari pemusatan diri kita yang pengap. Dalam Injil, kita melihat bagaimana Yesus “berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah” (Luk 8:1). Setelah kebangkitan, ketika para murid pergi ke segala penjuru, Tuhan menyertai mereka (bdk. Mrk 16:20). Inilah yang terjadi sebagai hasil dari perjumpaan sejati.

137. Kepuasan diri bersifat menggoda; kepuasan diri mengatakan kepada kita bahwa tidak ada gunanya mencoba mengubah segala sesuatu, bahwa tidak ada yang bisa kita lakukan, karena inilah hal-hal yang selalu terjadi dan kita selalu berhasil bertahan hidup. Dengan kekuatan kebiasaan kita tidak lagi menghadapi kejahatan dengan gagah berani. Kita “membiarkan segala sesuatu terjadi”, atau seperti yang telah diputuskan oleh orang lain. Namun marilah kita membiarkan Tuhan membangkitkan diri kita dari mati suri, membebaskan kita dari kelambaman kita. Marilah kita pikirkan kembali cara biasa kita dalam melakukan sesuatu; marilah kita membuka mata dan telinga kita, serta terutama hati kita, agar tidak berpuas diri dengan segala sesuatu sebagaimana adanya, tetapi terusik oleh hidup dan ampuhnya sabda Tuhan yang bangkit.

138. Kita diilhami untuk bertindak dengan teladan dari seluruh imam, kaum religius, dan awam yang mengabdikan diri pada pemberitaan dan melayani orang lain dengan kesetiaan yang tinggi, sering dengan resiko hidup mereka dan tentu saja dengan mengorbankan kenyamanan mereka. Kesaksian mereka mengingatkan kita bahwa, melebihi para birokrat dan fungsionaris, Gereja membutuhkan misionaris yang bersemangat, antusias untuk berbagi kehidupan sejati. Para kudus mengejutkan kita, mereka membingungkan kita, karena dengan hidup mereka, mereka mendesak kita untuk meninggalkan sikap biasa-biasa saja yang kusam dan membosankan.

139. Marilah kita memohonkan rahmat kepada Tuhan agar tidak ragu ketika Roh memanggil kita untuk melangkah maju. Marilah kita memohonkan keberanian kerasulan untuk berbagi Injil kepada orang lain dan berhenti berusaha untuk menjadikan kehidupan kristiani kita sebagai museum kenangan. Dalam setiap situasi, semoga Roh Kudus membuat kita merenungkan sejarah dalam terang Yesus yang bangkit. Dengan cara ini, Gereja tidak akan tinggal diam, tetapi terus-menerus menyambut kejutan-kejutan Tuhan.


[103]Seruan Apostolik Evangelii Nuntiandi (8 Desember 1975), 80: AAS 68 (1976), 73. Patut dicatat bahwa dalam teks ini Beato Paulus VI mengaitkan dengan erat sukacita dan parrhesía. Seraya meratapi “kurangnya sukacita dan harapan” sebagai penghalang untuk penginjilan, beliau memuji “sukacita penginjilan yang menggembirakan dan menghibur”, terkait dengan “antusiasme batin yang tidak dapat dipadamkan oleh siapapun atau apapun”. Hal ini memastikan bahwa dunia tidak menerima Injil “dari para penginjil yang murung [dan] berkecil hati”. Selama Tahun Suci 1975, Paus Paulus VI mengabdikan kepada sukacita seruan apostoliknya Gaudete in Domino (9 Mei 1975): AAS 67 (1975), 289-322.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s