Gaudete et Exsultate 122-128

SUKACITA DAN RASA HUMOR

122. Jauh dari malu-malu, murung, berbicara pedas atau melankolis, atau memasang wajah muram, para kudus bersukacita dan penuh humor yang baik. Meskipun sangat realistis, mereka memancarkan roh yang positif dan penuh harapan. Kehidupan kristiani adalah “sukacita oleh Roh Kudus” (Rm 14:17), karena “hasil yang diperlukan dari cinta kasih adalah sukacita; karena setiap pencinta bergembira karena dipersatukan dengan yang dicintai … akibat cinta kasih adalah sukacita”.[99] Setelah menerima karunia sabda Allah yang indah, kita merangkulnya “dalam penindasan yang berat, dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus” (1 Tes. 1:6). Jika kita memperkenankan Tuhan menarik kita keluar dari cangkang kita dan mengubah hidup kita, maka kita dapat melakukan apa yang dikatakan Santo Paulus kepada kita : “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Flp 4:4).

123. Para nabi memberitakan masa Yesus, yang di dalamnya sekarang kita hayati, sebagai wahyu sukacita. “Berserulah dan bersoraksorailah!” (Yes 12:6). “Hai Sion, pembawa kabar baik, naiklah ke atas gunung yang tinggi! Hai Yerusalem, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu kuat-kuat!” (Yes 40:9). “Bergembiralah dengan sorak-sorai, hai gunung-gunung! Sebab TUHAN menghibur umat-Nya dan menyayangi orang-orang-Nya yang tertindas” (Yes 49:13). “Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersoraksorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya” (Za 9:9). Kita juga tidak boleh melupakan seruan Nehemia : “Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!” (8:11).

124. Maria, mengenali hal baru yang dibawa Yesus, mengidungkan : “Hatiku bergembira” (Luk 1:47), dan Yesus sendiri “bersukacita dalam Roh Kudus” (Luk 10:21). Ketika Ia lewat, “semua orang bersukacita” (Luk 13:17). Setelah kebangkitan-Nya, ke mana pun para murid pergi, ada “banyak sukacita” (Kis 8:8). Yesus meyakinkan kita : “Kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita … Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu” (Yoh 16:20.22). “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacitaKu ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh” (Yoh. 15:11).

125. Masa-masa sulit bisa datang, ketika salib membentangkan bayangannya, namun tidak ada yang dapat menghancurkan sukacita adikodrati yang “sanggup menyesuaikan diri dan berlangsung terus, sekurang-kurangnya bagaikan kerlap-kerlip cahaya yang berasal dari kepastian pribadi bahwa diri kita dikasihi tanpa kesudahan di atas segalanya”.[100] Sukacita itu membawa perlindungan yang mendalam, harapan yang menenangkan dan penggenapan rohani yang tidak dapat dipahami atau dihargai dunia.

126. Sukacita kristiani biasanya disertai dengan rasa humor. Kita melihat hal ini dengan jelas, misalnya, dalam diri Santo Thomas More, Santo Vinsensius a Paulo dan Santo Filipus Neri. Humor yang menyakitkan bukanlah tanda kekudusan. “Buanglah kesedihan dari hatimu” (Pkh. 11:10). Kita menerima begitu banyak dari Tuhan “segala sesuatu untuk dinikmati” (1 Tim 6:17), kesedihan itu bisa menjadi tanda tidak bersyukur. Kita bisa terperangkap dalam diri kita sehingga kita tidak dapat mengenali karunia-karunia Allah.[101]

127. Dengan kasih seorang bapa, Allah memberitahu kita : “Anakku, apabila ada milik hendaklah baik memelihara dirimu … jangan melewatkan bagian kebahagiaan yang diinginkan” (Sir 14:11.14). Ia ingin kita menjadi positif, bersyukur, dan tidak berbelit-belit : “Pada hari mujur bergembiralah … Allah telah menjadikan manusia yang jujur, tetapi mereka mencari banyak dalih” (Pkh. 7:14.29). Apapun masalahnya, kita seharusnya tetap tangguh dan meneladan Santo Paulus : “Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan” (Flp 4:11). Santo Fransiskus dari Asisi hidup dengan hal ini; ia bisa diliputi rasa syukur di hadapan sepotong roti keras, atau dengan sukacita memuji Allah hanya karena angin sepoi-sepoi yang membelai wajahnya.

128. Ini bukan sukacita yang digenggam oleh budaya individualistis dan konsumeris saat ini. Konsumerisme hanya membuat hati kembung. Konsumerisme bisa menawarkan kesenangan yang sesekali dan seketika, tetapi bukan sukacita. Di sini saya sedang berbicara tentang sukacita yang dihayati dalam persekutuan, yang membagikan dan dibagikan, karena “adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima” (Kis. 20:35) dan “Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Kor 9:7) . Kasih persaudaraan meningkatkan kemampuan kita untuk bersukacita, karena kasih itu membuat kita mampu bersukacita dalam kebaikan orang lain : “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita” (Rm 12:15). “Kami bersukacita, apabila kami lemah dan kamu kuat” (2 Kor 13:9). Di sisi lain, ketika kita “berfokus terutama pada kebutuhan kita sendiri, kita mengutuk diri kita sendiri kepada keberadaan tanpa sukacita”.[102]


[99] THOMAS AQUINAS, Summa Theologiae, I-II, q. 70, a. 3.
[100] Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013), 6: AAS 105 (2013), 1221.
[101] Saya menganjurkan untuk mendoakan doa yang diberikan oleh Santo Thomas More : “Ya Tuhan, anugerahkanlah kepadaku pencernaan yang baik, dan juga sesuatu untuk dicerna. Anugerahkanlah kepadaku tubuh yang sehat, dan humor yang baik yang
diperlukan untuk menjaganya. Anugerahkanlah kepadaku jiwa yang sederhana yang tahu untuk menghargai semua hal yang baik dan yang tidak mudah takut saat melihat
kejahatan, tetapi menemukan cara untuk mengembalikan keadaan ke tempat semula.
Anugerahkanlah kepadaku jiwa yang tidak mengenal kebosanan, gerutuan, keluh kesah
dan ratapan, atau tekanan yang berlebihan, oleh karena hal itu yang mengganggu sesuatu yang disebut ‘aku’. Anugerahkanlah kepadaku, ya Tuhan, rasa humor yang baik.
Perkenankanlah kepadaku rahmat untuk dapat bersenda gurau dan menemukan dalam
hidup sedikit sukacita, serta dapat berbagi dengan orang lain”.
[102]Seruan Apostolik Pasca-Sinode Amoris Laetitia (19 Maret 2016), 110: AAS 108
(2016), 354.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s