Gaudete et Exsultate 110-115 (Bab Empat)

BAB EMPAT
TANDA-TANDA KEKUDUSAN DALAM DUNIA SAAT INI

110. Dalam kerangka kekudusan yang ditawarkan oleh Sabda Bahagia dan Matius 25:31-46, saya ingin menyebutkan beberapa tanda atau sikap rohani yang, menurut saya, perlu jika kita berusaha memahami cara hidup yang kepadanya Tuhan memanggil kita. Saya tidak akan berhenti untuk menjelaskan cara-cara pengudusan yang sudah kita ketahui : berbagai metode doa, sakramen-sakramen Ekaristi dan Tobat yang tak ternilai, pemberian persembahan pribadi, berbagai bentuk devosi, pengarahan rohani, dan banyak lainnya juga. Di sini saya hanya akan berbicara tentang beberapa aspek dari panggilan terhadap kekudusan yang saya harapkan akan terbukti sangat berarti.

111. Tanda-tanda yang ingin saya soroti bukanlah jumlah keseluruhan model kekudusan, tetapi lima ungkapan kasih yang besar bagi Allah dan sesama yang saya anggap sangat penting dalam terang bahaya dan keterbatasan tertentu yang ada dalam budaya saat ini. Kita melihat ada kecemasan, kadang-kadang kekerasan, yang mengalihkan perhatian dan melemahkan; negativitas dan kemuraman; kepuasan diri yang dikembangbiakkan oleh konsumerisme; individualisme; dan semua bentuk spiritualitas tiruan – tidak ada hubungannya dengan Allah – yang menguasai pasar rohani saat ini.

KETEKUNAN, KESABARAN DAN KELEMAHLEMBUTAN

112. Tanda pertama dari tanda-tanda besar ini memiliki landasan yang kuat di dalam Allah yang mengasihi dan menopang kita. Sumber kekuatan batin ini memungkinkan kita untuk bertekun di tengah naik turunnya kehidupan, tetapi juga menanggung permusuhan, pengkhianatan dan kegagalan dari lain pihak. “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Rm 8:31) : inilah sumber kedamaian yang ditemukan pada orang-orang kudus. Kekuatan batin seperti itu memungkinkan kita, di dunia kita yang serba cepat, hiruk pikuk dan agresif, untuk memberikan kesaksian melalui kesabaran dan keteguhan dalam melakukan kebaikan. Inilah tanda kesetiaan yang lahir dari kasih, karena orang-orang yang meletakkan iman mereka di dalam Allah (pístis) juga dapat setia kepada orang lain (pistós). Mereka tidak meninggalkan orang lain di saat-saat buruk; mereka menyertai mereka dalam kecemasan dan kesusahan mereka, meskipun hal itu mungkin tidak membawa kepuasan segera.

113. Santo Paulus memerintahkan jemaat Roma untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan (bdk. Rm 12:17), jangan membalas dendam (ayat 19), dan bukan dikalahkan oleh kejahatan, tetapi sebaliknya “mengalahkan kejahatan dengan kebaikan” (ayat 21). Sikap ini bukan tanda kelemahan tetapi tanda kekuatan sejati, karena Allah sendiri “panjang sabar dan besar kuasa” (Nah 1:3). Sabda Allah menasihati kita untuk “membuang segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah, demikian pula segala kejahatan” (Ef 4:31).

114. Kita perlu mengenali dan memerangi kecenderungan kita yang agresif dan egois, serta tidak membiarkan mereka berakar. “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu” (Ef 4:26). berdoaKetika kita merasa kewalahan, kita dapat selalu berpegang teguh pada jangkar doa, yang menempatkan kita kembali di tangan Allah dan sumber kedamaian kita. “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati …” (Flp 4:6-7).

115. Umat kristiani juga dapat terjebak dalam jaringan kekerasan lisan melalui internet dan berbagai forum komunikasi digital. Bahkan dalam media Katolik, batasan dapat dilampaui, fitnah dan umpatan bisa menjadi hal yang biasa, dan seluruh patokan etika dan penghormatan atas nama baik orang lain dapat ditinggalkan. Hasilnya adalah dikotomi yang berbahaya, karena berbagai hal dapat dikatakan di sana yang tidak dapat diterima dalam wacana publik, dan orang-orang berusaha untuk mengimbangi ketidakpuasan mereka dengan mencaci-maki orang lain. Sangat mengejutkan bahwa kadang-kadang, dengan mengklaim untuk menegakkan perintah-perintah lain, mereka sepenuhnya mengabaikan perintah kedelapan, yang melarang bersaksi dusta atau berbohong, dan dengan kejam memfitnah orang lain. Di sini kita melihat bagaimana lidah yang tidak dijaga, terbakar oleh api neraka, membuat semua hal berkobar (bdk. Yak 3:6).

bersambung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s