Kursus Spiritualitas Hati Online

Bagian 35 “Pengalaman dan Tantangan Keluarga-Keluarga” (subbagian 1)

Subbagian 1: Beberapa Tantangan dari Dalam

Dalam Bab kedua ‘Amoris Laetitia’ Paus Fransiskus melihat “kenyataan keluarga saat ini dalam segala kompleksitasnya, dengan terang dan gelapnya…” (AL, 32). Bab ini dibuka dengan kalimat: “Kesejahteraan keluarga menentukan masa depan dunia dan Gereja” (AL, 31). Pertama-tama Sri Paus mengakui kenyataan “adanya keluarga-keluarga dengan ruang kebebasan yang lebih luas melalui pembagian tugas, tanggung jawab dan kewajiban yang adil”, sebagaimana juga “meningkatnya komunikasi yang lebih pribadi antara pasangan suami-isteri” (AL, 32). Dalam nada yang sama beliau menyatakan bahwa “martabat setara antara laki-laki dan perempuan membuat kita bersukacita melihat bentuk-bentul lama diskriminasi menghilang, dan dalam keluarga berkembang cara hidup timbal balik” (AL, 54). Sri Paus menegaskan bahwa perkembangan-perkembangan ini “membantu memanusiakan keseluruhan hidup keluarga” (AL, 32).

Namun, Sri Paus juga mengingatkan kita untuk waspada terhadap “berkembangnya bahaya individualisme yang mengubah kodrat ikatan perkawinan dan … menyebabkan intoleransi dan permusuhan dalam keluarga” (AL, 33). Sesungguhnya cinta adalah poros ikatan perkawinan, dan Sri Paus mengingatkan untuk melawan “konsep kasih yang murni emosional dan romantis” (AL, 40). Ia menasihatkan “afektivitas narsis, tidak stabil dan berubah-ubah tidak membantu orang berkembang menuju kedewasaan” (AL, 41). Hal itu bahkan dapat menjadi alasan mengapa dengan mudah orang-orang berpindah “dari satu relasi ke relasi lainnya” (AL, 39).

Sebagai obat melawan “budaya kesementaraan” (AL, 39) Sri Paus ingin mempromosikan sikap cinta sejati, yang melibatkan praktek “pemberian diri” (AL, 39). Beliau mengutip Konsili Vatikan II yang “mendefinisikan perkawinan sebagai suatu komunitas kehidupan dan cinta.” Ketika menempatkan cinta pada poros keluarga Konsili menyatakan bahwa “cinta sejati antara suami dan istri melibatkan saling serah diri, yang mencakup dan menyatukan dimensi seksual dan afeksi, sesuai dengan rencana Allah (AL, 67; Konstitusi Pastoral ‘Gaudium et Spes’, 48-49).

Dalam bab kedua ini Sri Paus melukiskan secara lebih rinci tantangan-tantangan yang para pasangan harus hadapi dalam kehidupan keluarga. Di bagian berikut, kita akan melihat bagaimana Sri Paus juga mengomentari struktur-struktur sosial yang di banyak tempat di dunia dapat membahayakan hidup keluarga.

Saat Untuk Refleksi

“Saya bersyukur kepada Tuhan

bahwa banyak keluarga,

 yang jauh dari menganggap diri mereka sempurna.

Hidup dalam kasih,

memenuhi panggilan mereka

dan terus melangkah maju,

walaupun mereka jatuh berkali-kali

sepanjang jalan mereka.

……

Tidak ada stereotip keluarga yang ideal,

tetapi muncul mosaik menantang

yang tersusun dari banyak realitas yang berbeda-beda,

penuh dengan sukacita, tragedi dan mimpi.

(Paus Fransiskus, Amoris Laetitia, no. 57).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.