Gaudete et Exsultate 35-39

BAGIAN KEDUA
DUA SETERU YANG TAK KENTARA DARI KEKUDUSAN
  1. Di sini saya ingin menyebutkan dua bentuk kekudusan palsu yang dapat menyesatkan kita : gnostisisme dan pelagianisme. Mereka adalah dua bidaah dari masa-masa awal kekristenan, tetapi mereka terus mengganggu kita. Di masa kita juga, banyak umat kristiani, mungkin tanpa disadari, dapat tergoda oleh gagasan-gagasan yang menipu ini, yang mencerminkan imanentisme antroposentrik yang disamarkan sebagai kebenaran Katolik.[33] Marilah kita lihat dua bentuk perlindungan doktrinal atau disipliner yang menimbulkan “elitisme yang narsis dan otoriter, yang dengannya orang tidak mewartakan Kabar Baik, tetapi justru memisahkan dan menggolong-golongkan orang lain. Ia cenderung tidak membuka pintu rahmat. Sebaliknya, ia menghabiskan tenaganya untuk mengawasi dan menilai orang lain. Kedua kecenderungan itu tidak menaruh perhatian yang sungguh terhadap Yesus Kristus atau sesama”.[34]

GNOSTISISME MASA KINI

  1. Gnostisisme mengandaikan “iman yang murni subyektif yang hanya tertarik pada pengalaman tertentu atau serangkaian gagasan dan potongan informasi yang dimaksudkan untuk menghibur dan mencerahkan, tetapi yang pada akhirnya membuat seseorang terpenjara dalam pikiran dan perasaannya sendiri”.[35]

Kecerdasan tanpa Allah dan tanpa tubuh

  1. Syukur kepada Allah, sepanjang sejarah Gereja selalu jelas bahwa kesempurnaan seseorang diukur bukan oleh informasi atau pengetahuan yang mereka miliki, tetapi oleh kedalaman amal kasih mereka. Kaum “Gnostik” tidak memahami hal ini, karena mereka menilai orang lain berdasarkan kemampuan mereka untuk memahami rumitnya ajaran tertentu. Mereka memikirkan kecerdasan terpisah dari tubuh, dan dengan demikian menjadi tidak mampu menjamah tubuh Kristus yang sedang menderita dalam diri orang lain, terkunci karena mereka berada dalam sebuah ensiklopedi keniskalaan. Pada akhirnya, dengan tanpa menyadari misteri tersebut, mereka lebih memilih “Allah tanpa Kristus, Kristus tanpa Gereja, Gereja tanpa umatnya”.[36]
  1. Tentu saja hal ini adalah keangkuhan yang dangkal : ada banyak gerakan di permukaan, tetapi pikiran tidak terlalu terjamah atau terpengaruh. Tetapi, gnostisisme menunjukkan daya tarik yang menipu bagi sebagian orang, karena pendekatan gnostik bersifat ketat dan murni menurut dugaan orang, serta dapat tampak memiliki keselarasan atau tatanan tertentu yang mencakup segalanya.
  2. Di sini kita harus berhati-hati. Saya tidak mengacu pada rasionalisme yang bertentangan dengan iman kristiani. Rasionalisme dapat hadir di dalam Gereja, baik di antara umat awam di paroki-paroki maupun para guru filsafat dan teologi di pusat-pusat pembinaan. Kaum Gnostik berpikir bahwa penjelasan mereka dapat membuat keseluruhan iman dan Injil dapat dipahami dengan sempurna. Mereka mengesampingkan teori mereka sendiri dan memaksa orang lain untuk tunduk pada cara berpikir mereka. Penggunaan akal sehat dan sederhana untuk merenungkan ajaran teologis dan moral dari Injil adalah satu hal. Hal lainnya mengurangi ajaran Yesus menjadi nalar yang dingin dan kasar yang berusaha menguasai segalanya.[37]

[33]  Bdk. KONGREGASI UNTUK AJARAN IMAN, Surat Placuit Deo tentang Aspek-aspek Tertentu Keselamatan Kristiani (22 Februari 2018), 4, dalam L’Osservatore Romano, 2 Maret 2018, hlm. 4-5: “Baik individualisme neo-Pelagian maupun penganut neo-Gnostik tidak menghiraukan tubuh menodai pengakuan iman kepada Kristus, satu-satunya, Juruselamat dunia”. Dokumen ini memberikan dasar-dasar ajaran untuk memahami keselamatan kristiani sehubungan dengan kecenderungan neo-gnostik dan neo-pelagian masa kini.

[34] Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013), 94: AAS 105 (2013), 1060.

[35] Idem : AAS 105 (2013), 1059.

[36] Homili Misa di Casa Santa Marta, 11 November 2016: L’Osservatore Romano, 12 November 2016, hlm. 8.

[37] Sebagaimana diajarkan oleh Santo Bonaventura, “kita harus menangguhkan seluruh pelaksanaan pikiran dan kita harus mengubah puncak kasih sayang kita, mengarahkannya kepada Allah saja… Karena alam tidak dapat menggapai apa pun dan usaha pribadi sangat sedikit, perlunya memberi sedikit kepentingan terhadap pemeriksaan dan banyak kepentingan terhadap penyesalan, sedikit bicara dan banyak sukacita batin, sedikit kata-kata atau tulisan tetapi seluruhnya untuk karunia Allah, yaitu Roh Kudus, sedikit atau tidak ada kepentingan yang seharusnya diberikan kepada ciptaan, tetapi seluruhnya kepada Sang Pencipta, Bapa dan Putra dan Roh Kudus” : BONAVENTURA, Itinerarium Mentis di Deum, VII, 4-5.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s