Aku Sangat Sayang…

Hari Minggu Biasa XXXI (3-4 Nopember 2018)

Ul. 6:2-6; Mzm. 18:2-3a,3bc-4,47,51ab; Ibr. 7:23-28; Mrk. 12:28b-34.

Diterbitkan oleh Tim Kerja Kitab Suci – DPP. Santo Yoseph Purwokerto 

“Aku sangat sayang dengan anak dan istriku….choky dan snowy

Aku tidak sanggup meninggalkan mereka di dunia ini….”

Kasih-1Beberapa hari yang lalu media informasi baik cetak maupun on-line memberitakan tewasnya satu keluarga di Palembang yang diduga kuat sebagai kasus bunuh diri. Setelah meninggalkan tulisan perpisahan di secarik kertas (lihat kutipan di atas) kemudian sang bapak membunuh istri, kedua anaknya dan dua anjing kesayangannya, choky dan snowy. Lalu bapak tersebut bunuh diri. Jika berita ini memang benar demikian adanya, tentu kita bertanya-tanya ungkapan sayang seperti apa yang dilakukan bapak ini? Kok sampai tega menghabisi nyawa orang-orang yang dikasihinya.

Tidak perlu melihat jauh-jauh di sana, di lingkungan sekitar kita (bahkan mungkin oleh kita sendiri sebagai orang-tua), bisa dijumpai anak-anak usia SD atau SMP  yang sudah berseliweran di jalan besar naik sepeda motor. Di saat kesadaran dan logika anak-anak yang belum bisa bekerja secara baik (masih di bawah 17 tahun), orang tua sudah membiarkan mereka menggunakan sepeda motor. Bukankah ini sangat membahayakan? Inikah ungkapan kasih orang-tua kepada anak-anaknya?

Injil Tuhan hari ini (Mrk 12:28-34) berbicara tentang kasih. Hukum utama yang akan menghantarkan kita ke Kerajaan Allah (ay.34). Dan di dalam (ayat 30-31) dikatakan Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” Sabda Tuhan ini mengajak kita untuk mengasihi dengan benar. Kasih yang tidak membunuh atau membuat celaka orang lain. Kasih yang tulus, mau berkorban, yang akan membawa kita dalam suka-cita. Jikalau kita benar-benar dengan segenap hati mengasihi Allah, maka itu akan mewujud secara nyata dalam kehidupan kita dengan sesama. Demikian juga sebaliknya jika kita mengasihi Allah hanya dalam kata-kata, tidak dengan segenap hati dan akal budi kita, maka perbuatan-perbuatan kita tidak akan berbeda dengan bapak atau orang tua tadi yang tega mencelakakan anak-anaknya.

Bunda Teresa dari Kalkuta bisa menjadi teladan bagi kita, bagaimana mengasihi Tuhan dan sesamanya. Dalam buku hariannya ia menulis…. Sebuah pilihan bebas, Tuhanku, cintaku untuk-Mu, aku ingin tetap bertahan dan melakukan segala keinginan-Mu merupakan kehormatan bagiku…. Dan sampai akhir hidupnya, Bunda Teresa telah menolong ribuan bahkan jutaan orang. Dengan tulus dan penuh kasih merawat para penderita kusta, tunawisma, orang cacat, orang buta, orang kelaparan dan orang-orang yang dianggap menjadi beban bagi masyarakat. Santa Teresa dari Kalkuta yang telah menerima kanonisasi dari Paus Fransiskus pada tanggal 4 September 2016 telah mengasihi Tuhan dengan melayani mereka yang “termiskin dari yang miskin.”

Sudahkah kasih kita kepada Tuhan mewujud nyata di dalam keluarga kita? Di lingkungan tempat tinggal kita? Dan terlebih kepada mereka yang sakit, lemah, miskin, tersingkir yang ada di sekitar kehidupan kita? 

Berkah Dalem

Beny Santoso
Beny Santoso
Ling St. Yohanes Paulus Kalibagor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s