Gaudete et Exsultate 25-31

AKTIVITAS YANG MENGUDUSKAN

  1. Sama seperti kamu tidak dapat memahami Kristus sebagai yang terpisah dari kerajaan yang Dia bawa ketika Dia datang, demikian juga perutusan pribadimu tidak dapat dipisahkan dari pembangunan kerajaan itu: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya” (Bdk. Mat 6:33). Menyatukan dirimu dengan Kristus dan kehendak-Nya akan melibatkan komitmen untuk membangun bersama-Nya kerajaan kasih, keadilan, dan perdamaian semesta. Kristus sendiri ingin mengalami ini bersama denganmu, dalam semua upaya dan pengorbanan yang ditimbulkannya, tetapi juga dalam semua sukacita dan pengayaan yang dibawa-Nya. Kamu tidak dapat bertumbuh dalam kekudusan tanpa melibatkan dirimu sendiri, jiwa dan raga, untuk memberikan yang terbaik demi usaha ini.
  1. Tidaklah sehat untuk mencintai keheningan sebagai pelarian dari interaksi dengan orang lain, menginginkan kedamaian dan ketenangan untuk menghindari kegiatan, mencari doa sementara pelayanan diremehkan. Segala sesuatu dapat diterima dan diintegrasikan ke dalam kehidupan kita di dunia ini, dan menjadi bagian dari jalan kita menuju kekudusan. Kita dipanggil untuk menjadi kontemplatif bahkan di tengah-tengah kegiatan serta bertumbuh dalam kekudusan dengan bertanggung jawab dan dengan murah hati melaksanakan perutusan yang tepat.
  1. Mungkinkah Roh Kudus mendesak kita untuk melakukan perutusan dan kemudian meminta kita untuk meninggalkannya, atau tidak lagi sepenuhnya terlibat di dalamnya, demi menjaga kedamaian batin kita? Memang ada kalanya kita tergoda untuk menggeser keterlibatan atau komitmen pastoral di dunia ke tempat kedua, seolah-olah ini adalah “gangguan” di sepanjang jalan menuju pertumbuhan dalam kekudusan dan kedamaian batin. Kita dapat melupakan bahwa “hidup tidak memiliki perutusan, tetapi adalah sebuah perutusan”. [27]
  1. Tak perlu dikatakan, apa pun yang dilakukan karena kecemasan, kesombongan atau kebutuhan untuk membuat orang lain terkesan tidak akan mengarah pada kekudusan. Kita ditantang untuk menunjukkan keterlibatan kita sedemikian rupa sehingga semua yang kita lakukan memiliki makna injili dan diri kita makin menyerupai Yesus Kristus. Kita sering berbicara, misalnya, tentang spiritualitas katekis, spiritualitas romo-romo projo, spiritualitas kerja. Untuk alasan yang sama, di Evangelii Gaudium saya menyimpulkan dengan berbicara mengenai spiritualitas misi, dalam Laudato Si’ mengenai spiritualitas ekologis, dan dalam Amoris Laetitia mengenai spiritualitas kehidupan keluarga.
  1. Ini tidak berarti mengabaikan kebutuhan akan saat-saat tenang, kesendirian dan keheningan di hadapan Tuhan. Justru sebaliknya. Kehadiran gawai yang terus-menerus baru, kegirangan dalam perjalanan, dan barang-barang konsumsi tanpa henti terkadang tidak menyisakan ruang bagi suara Tuhan untuk didengar. Kita diliputi oleh kata-kata, oleh kesenangan yang dangkal dan dengan hiruk-pikuk yang meningkat, diisi bukan oleh sukacita melainkan oleh ketidakpuasan dari mereka yang hidupnya telah kehilangan makna. berdoa.jpgBagaimana kita bisa gagal menyadari perlunya menghentikan perlombaan yang mengganggu ini dan memulihkan ruang pribadi yang diperlukan untuk melakukan dialog yang tulus dengan Tuhan? Menemukan ruang itu mungkin terbukti menyakitkan tetapi selalu berbuah. Cepat atau lambat, kita harus menghadapi diri kita yang sebenarnya dan membiarkan Tuhan masuk. Hal ini mungkin tidak terjadi kecuali “kita melihat diri kita menatap ke dalam jurang pencobaan yang mengerikan, atau memiliki sensasi yang memusingkan berdiri di atas jurang keputusasaan, atau menemukan diri kita sepenuhnya sendirian dan terlantar”. [28] Dalam situasi seperti itu, kita menemukan motivasi terdalam untuk sepenuhnya menjalankan komitmen kita pada karya kita.
  1. Kekalutan yang sama yang terdapat di mana-mana di dunia saat ini juga membuat kita cenderung untuk memutlakkan waktu luang kita, sehingga kita dapat menyerahkan diri sepenuhnya kepada perangkat yang memberi kita hiburan atau kesenangan sekejab. [29] Sebagai hasilnya, kita mulai membenci perutusan kita, komitmen kita menjadi kendur dan semangat pelayanan yang murah hati dan siap sedia mulai loyo. Ini berlawanan dengan pengalaman rohani kita. Dapatkah semangat spiritual apa pun menjadi sehat ketika ia berada di samping kemalasan dalam evangelisasi atau dalam melayani orang lain?
  2. Kita membutuhkan roh kekudusan yang mampu mengisi baik kesendirian kita maupun pelayanan kita, kehidupan pribadi kita maupun upaya penginjilan kita, sehingga setiap saat dapat menjadi ungkapan kasih yang rela berkorban di mata Tuhan. Dengan demikian, setiap saat kehidupan kita dapat menjadi langkah di sepanjang jalan menuju pertumbuhan dalam kekudusan.

[27] XAVIER ZUBIRI, Naturaleza, historia, Dios, Madrid, 1933, 427.

[28] CARLO M. MARTINI, Le confessioni di Pietro, Cinisello Balsamo, 2017, 69.

[29] Kita perlu membedakan antara hiburan dangkal semacam ini dan budaya rekreasi yang sehat,yang membuka kita kepada orang lain dan kepada kenyataan itu sendiri dalam semangat keterbukaan dan permenungan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s