Gaudete et Exsultate 19-24

PERUTUSANMU DALAM KRISTUS

  1. Orang KristIani tidak dapat memikirkan perutusannya di bumi ini tanpa melihatnya sebagai jalan kekudusan, karena “inilah kehendak Allah, pengudusanmu” (Bdk 1 Tes. 4: 3). Setiap orang kudus adalah perutusan, yang direncanakan oleh Bapa untuk mencerminkan dan mewujudkan segi tertentu dari Injil pada saat tertentu pula.
  1. Yesus yang menyamar.jpgPerutusan memiliki makna selengkap-lengkapnya dan hanya dapat dipahami melalui Dia. Pada intinya, kekudusan di dalam kesatuan dengan Kristus berarti mengalami misteri kehidupan-Nya. Itu terdiri dari penyatuan diri kita dengan kematian dan kebangkitan Tuhan dengan cara yang unik dan bersifat pribadi, terus-menerus mati dan bangkit kembali dengan Dia. Tetapi hal itu juga dapat membuat kehidupan kita sendiri dalam berbagai aspek membawa hasil seperti kehidupan Yesus di dunia: kehidupan-Nya yang tersembunyi, kehidupan-Nya dalam komunitas, kedekatan-Nya dengan orang buangan, kemiskinan-Nya, dan cara-cara lain yang menunjukkan kasih-Nya yang rela berkorban. Permenungan misteri-misteri ini, seperti yang ditunjukkan oleh Santo Ignatius dari Loyola, menuntun kita untuk menjelmakannya dalam pilihan dan sikap kita. [18] Karena “segala sesuatu dalam kehidupan Yesus adalah tanda dari misterinya”, [19] “Seluruh hidup Kristus adalah pewahyuan Bapa”, [20] “Seluruh hidup Kristus adalah misteri penebusan”, [21] “Seluruh hidup Kristus adalah misteri pengumpulan baru di bawah satu kepala”. [22] “Kristus memungkinkan kita untuk menghidupi di dalam diri-Nya segala sesuatu yang pernah Dia hidupi di dalam diri kita”. [23]
  1. Rencana Bapa adalah Kristus, dan diri kita sendiri di dalam Dia. Pada akhirnya, Kristuslah yang mencintai di dalam kita, karena “kekudusan tidak lain adalah kasih yang dihayati sampai penuh”. [24] Sebagai hasilnya, “ukuran kekudusan kita berasal dari penjelmaan yang Kristus capai di dalam kita, sejauh bahwa, melalui kuasa Roh Kudus, kita menjadikan Dia contoh dalam menjalankan seluruh hidup kita.” [25] Setiap orang kudus adalah sebuah pesan yang diambil oleh Roh Kudus dari kekayaan Yesus Kristus dan diberikan kepada umat-Nya.
  1. Untuk mengenali kata yang Tuhan ingin sampaikan kepada kita melalui salah satu orang kudusnya, kita tidak perlu terperangkap dalam hal-hal detil, karena di sana kita mungkin juga menjumpai kesalahan dan kegagalan. Tidak semua yang dikatakan oleh orang kudus sepenuhnya sesuai dengan Injil; tidak semua yang dia lakukan itu asli atau sempurna. Apa yang perlu kita renungkan adalah totalitas hidup mereka, seluruh perjalanan pertumbuhan dalam kekudusan, pancaran dari Yesus Kristus yang muncul ketika kita memahami keseluruhan makna mereka sebagai pribadi. [26]
  1. Ini adalah panggilan yang kuat untuk kita semua. Kamu juga perlu melihat keseluruhan hidupmu sebagai sebuah perutusan. Cobalah melakukannya dengan mendengarkan Tuhan dalam doa dan mengenali tanda-tanda yang Dia berikan kepadamu. Selalu tanyakan kepada Roh apa yang Yesus harapkan darimu setiap saat dalam hidupmu dan dalam setiap keputusan yang harus kamu ambil, sehingga dapat melihat tempatnya dalam perutusan yang kamu terima. Ijinkan Roh untuk menempa di dalam dirimu misteri pribadi yang dapat memancarkan Yesus Kristus di dunia saat ini.
  1. Semoga kamu menyadari apa arti kata itu, pesan Yesus bahwa Allah ingin berbicara kepada dunia melalui hidupmu. Biarkan dirimu berubah. Biarkan dirimu diperbarui oleh Roh, sehingga pembaruan itu bisa terjadi, jangan sampai kamu gagal dalam perutusanmu yang berharga itu. Tuhan akan membawanya ke pemenuhan meskipun kamu bersalah dan salah langkah, asalkan kamu tidak meninggalkan jalan cinta tetapi tetap terbuka pada rahmat adikodratinya, yang memurnikan dan menerangi.

[18] Latihan Rohani, 102-312.

[19] Katekismus Gereja Katolik, 515.

[20] Katekismus Gereja Katolik, 516.

[21] Katekismus Gereja Katolik, 517.

[22] Katekismus Gereja Katolik, 518.

[23] Katekismus Gereja Katolik, 521.

[24] BENEDIKTUS XVI, Katekese, Audiensi Umum 13 April 2011: Insegnamenti VII (2011), 451.

[25] BENEDIKTUS XVI, Katekese, Audiensi Umum 13 April 2011: Insegnamenti VII (2011), 450.

[26] Bdk. HANS URS VON BALTHASAR, “Teologi dan Kekudusan”, dalam Communio 14/4

(1987), 341-350.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s