Menjadi Besar Dari Yang Kecil

Hari Minggu Biasa XXIX (20-21 Oktober 2018)

Yes. 53:10-11; Mzm. 33:4-5,18-19,20,22; Ibr. 4:14-16; Mrk. 10:35-45

Diterbitkan oleh Tim Kerja Kitab Suci – DPP. Santo Yoseph Purwokerto 

” Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam kerajaan Allah” (ayat 23)

Bapak Ibu dan Saudari-saudari terkasih.

melayani

Dalam suatu perusahaan ada kalanya karyawan yang berbakat atau punya prestasi tertentu akan dipromosikan untuk menduduki jabatan sebagai tangan kanan direktur atau orang yang dipercaya. Menjadi orang kepercayaan pimpinan adalah suatu kebanggaan. Di balik kebanggaan tersebut banyak orang menjadi lupa bahwa sebagai pimpinan dari anak buahnya mesti mau melayani. Apalagi kalau sudah dituntut atasan dengan sederetan target-target point, deadline yang harus dipenuhi. Untuk dapat menjadi pemimpin yang melayani, yang ngayomi bawahannya memang tidak mudah. Diperlukan kerendahan hati dan kebesaran jiwa.

Bapak/Ibu dan Saudara-i terkasih

Bacaan Injil minggu ini menceritakan tentang Yakobus dan Yohanes yang ingin menjadi kepercayaan Yesus dengan meminta kepada Yesus untuk dapat duduk sebelah kanan dan kiri Yesus. Bukan hal salah untuk menjadi orang kepercayaan Yesus tapi Yesus tidak punya hak untuk memberikannya, itu akan diberikan kepada orang-orang yang baginya telah disediakan.

Bukan sekedar meminta duduk kanan dan kiri Yesus, tapi sebenarnya yang diinginkan menjadi orang kepercayaan, teman curhat, tanggung jawab, setia tidak akan meninggalkan bahkan siap pasang badan seperti para ajudan atau bodyguard bila Yesus mengalami ancaman. Yesus tahu isi hati setiap murid-Nya, yang ingin menjadi kepercayaan Yesus. Bukan hanya Yakobus dan Yohanes tapi kesepuluh murid-Nya, dengan menunjukkan atau memberikan tanda berupa marahnya murid-murid yang lain. Di sini jelas tergambar akan ambisi kemurnian dan saingan antar murid menjadi yang utama. Yesuspun menegaskan kepada para muridNya bahwa “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.” (ay 43-44)  

Yesus sendiri telah memberi teladan kepada para murid dan kita semua. Yesus datang dengan mengambil rupa sebagai anak manusia, untuk melayani dan memberikan nyawa sebagai tebusan dosa-dosa bagi banyak orang. Yesus, Anak Allah mau menjelma menjadi manusia, mengalami kemanusiaannya yang ikut merasakan sakit, penolakan, teraniaya. Yesus juga ikut tradisi adat istiadat Yahudi tempat tinggalnya, dielu-elukan sebagai raja, penuh kesabaran memberikan pengertian tentang Allah Bapa kepada para murid, melakukan mujizat, melayani bagi yang miskin dan tersingkir. Yesus pun menyerahkan nyawanya yang tidak berdosa untuk keselamatan umat kesayangan-Nya. Teladan yang diwariskan bagi umatnya untuk diteruskan, memperhatikan, rela berkorban, melayani bagi mereka yang  miskin, tersingkir, terasing serta teraniaya.

Bapak/Ibu dan Saudara-i terkasih

Saatnya sebagai murid, kita meneladani Sang Guru yang mau melayani sesama yang miskin, tersingkir, asing, teraniaya dengan kerendahan hati, kesabaran dan ketulusan, terbuka akan rahmat Allah. Menjadi murid Yesus yang melayani tidak harus membuat sesuatu yang besar, tetapi kita dapat memulai dari gereja paling kecil yaitu keluarga kita (Ecclesia Domestica – LG No. 11) dengan menjadi suami/ayah yang baik bagi istri dan anak-anak kita. Menjadi istri/ibu yang baik bagi suami dan anak-anak kita. Dan menjadi anak yang baik bagi orangtua kita.

Berkah Dalem

Laurensia Moerdaninggar

Lingkungan St. Paulus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s