Gaudete et Exsultate 14-18

UNTUKMU JUGA

  1. Pasutri ME dlm pertemuan 3 juli
    Pasutri ME yang bersukacita

    Menjadi kudus tidak perlu menjadi uskup, imam atau religius. Kita sering tergoda untuk berpikir bahwa kekudusan itu hanya bagi mereka yang dapat mengundurkan diri dari urusan sehari-hari dengan menghabiskan banyak waktu dalam doa. Bukan itu masalahnya. Kita semua dipanggil untuk menjadi kudus dengan menjalani hidup kita dengan cinta dan dengan memberikan kesaksian dalam segala hal yang kita lakukan, di mana pun kita berada. Apakah kamu dipanggil untuk menjalankan hidup bakti? Jadilah kudus dengan menghayati keterlibatanmu dengan sukacita. Apakah kamu sudah menikah? Jadilah suci dengan mengasihi dan merawat pasanganmu, seperti yang Kristus lakukan bagi Gereja. Apakah kamu bekerja untuk mencari nafkah? Jadilah kudus dengan bekerja secara jujur dan terampil dalam melayani saudara-saudarimu. Apakah kamu orang tua, kakek atau nenek? Jadilah kudus dengan sabar mengajar anak-anak kecil bagaimana mengikuti Yesus. Apakah kamu berada dalam posisi yang memiliki wewenang? Jadilah kudus dengan bekerja untuk kesejahteraan bersama dan jangan mencari keuntungan pribadi. [14]

  1. Biarkan karunia baptisanmu menghasilkan buah di jalan kekudusan. Biarkan semuanya terbuka untuk Tuhan; berpaling kepada-Nya dalam setiap situasi. Jangan cemas, karena kuasa Roh Kudus memampukan kamu untuk melakukan ini, dan kekudusan, pada akhirnya, adalah buah Roh Kudus dalam hidupmu (Bdk. Gal 5: 22-23). Ketika kamu merasakan godaan untuk memikirkan kelemahanmu sendiri, angkatlah matamu kepada Kristus yang disalibkan dan katakan: “Tuhan, saya adalah orang berdosa yang miskin, tetapi Engkau dapat mengerjakan mukjizat dengan menjadikan saya sedikit lebih baik”. Dalam Gereja, yang kudus namun terdiri dari orang-orang berdosa, kamu akan menemukan semua yang kamu perlukan untuk tumbuh menuju kekudusan. Tuhan telah memberikan kepada Gereja karunia-karunia Kitab Suci, sakramen-sakramen, tempat-tempat kudus, komunitas yang hidup, kesaksian orang-orang kudus dan keindahan yang beraneka ragam yang berasal dari kasih Allah, “seperti pengantin laki-laki yang mengenakan perhiasan kepala dan seperti pengantin perempuan yang memakai perhiasannya.” (Yes 61:10).
  1. Tuhan memanggilmu kepada kekudusan ini, kekudusan yang akan tumbuh melalui isyarat-isyarat kecil. Berikut ini sebuah contoh: seorang perempuan pergi berbelanja, dia bertemu dengan seorang tetangga dan mereka mulai berbicara dan mulai pulalah pergunjingan. Namun dia mengatakan dalam hatinya: “Tidak, aku tidak akan berbicara buruk tentang siapa pun”. Ini adalah langkah maju dalam kekudusan. Kemudian, di rumah, salah satu anaknya ingin berbicara dengannya tentang harapan dan impiannya, dan meskipun dia lelah, dia duduk dan mendengarkan dengan sabar dan cinta. Itu adalah pengorbanan lain yang membawa kekudusan. Kemudian dia mengalami kecemasan, tetapi mengingat kasih Perawan Maria, dia mengambil rosario dan berdoa dengan iman. Ini merupakan jalan kekudusan yang lain lagi. Kemudian masih ada lagi, dia pergi ke jalan, menemui orang miskin dan berhenti untuk mengucapkan kata ramah kepadanya. Ini satu langkah lagi.
  1. Kadang-kadang, hidup ini menghadapkan kita pada tantangan yang besar. Melalui semuanya itu Tuhan memanggil kita kembali ke pertobatan yang dapat membuat kasih karunia-Nya menjadi lebih nyata dalam kehidupan kita, “supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya” (Bdk. Ibr 12:10). Di lain waktu, kita hanya perlu menemukan cara yang lebih sempurna untuk melakukan apa yang sudah kita lakukan: “Ada inspirasi yang cenderung semata-mata untuk menyempurnakan dengan cara luar biasa hal-hal biasa yang kita lakukan dalam hidup”. [15] Ketika Kardinal François-Xavier Nguyên van Thuân dipenjara, ia menolak membuang-buang waktu menunggu hari ia dibebaskan. Sebaliknya, ia memilih “untuk menghayati saat sekarang ini, mengisinya sampai penuh dengan cinta”. Dia memutuskan: “Saya akan memanfaatkan kesempatan yang ada setiap hari; Saya akan melakukan tindakan biasa dengan cara yang luar biasa ”. [16]
  1. Dengan cara ini, dipimpin oleh kasih karunia Allah, dengan tindakan kecil kita membentuk kekudusan yang Allah kehendaki bagi kita, bukan sebagai laki-laki dan perempuan yang sudah kecukupan untuk diri kita sendiri melainkan “sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah” (Bdk 1 Ptr 4 : 10). Para uskup Selandia Baru dengan tepat mengajarkan kepada kita bahwa kita mampu mengasihi dengan kasih Tuhan yang tak bersyarat, karena Tuhan yang telah bangkit membagikan kehidupan-Nya yang penuh kekuatan dengan kehidupan kita yang rapuh: “Cintanya tidak mengenal batas dan sekali diberikan tidak pernah ditarik kembali. Cinta-Nya tidak bersyarat dan tetap setia. Mencintai dengan cara ini tidaklah mudah karena kita sering sangat lemah. Tetapi hanya untuk mencoba mencintai sebagaimana Kristus mengasihi kita menunjukkan bahwa Kristus berbagi kehidupan-Nya sendiri sesudah bangkit dengan kita. Dengan cara ini, hidup kita menunjukkan bahwa kekuatan-Nya bekerja – bahkan di tengah-tengah kelemahan manusia ”. [17]

[14] bdk. Katekese, Audiensi Umum 19 November 2014 : Insegnamenti II/2 (2014), 555.

[15] FRANSISKUS DARI SALES, Risalah tentang Kasih Allah, VIII, 11.

[16] Lima Roti dan Dua Ikan, Pauline Books and Media, 2003, hlm. 9, 13.

[17] KONFERENSI WALIGEREJA SELANDIA BARU, Kasih yang Menyembuhkan, 1 Januari 1988.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s