Gaudete et Exsultate 1-5

Pengantar :

Gaudete et Exsultate – Bersukacita dan Bergembiralah adalah Seruan Apostolik yang ketiga dari Paus Fransiskus yang diterbitkan pada tanggal 19 Maret 2018. Dua seruan yang mendahului adalah Evangelii Gaudium – Sukacita Injil (24 November 2013) dan Amoris Laetitia – Sukacita Kasih (19 Maret 2016). Seruan ketiga ini segera menyebar di antara umat, kecuali karena isinya yang mengena, kiranya juga karena bahasanya sederhana.

Teks-teks di bawah ini merupakan terjemahan dari Naskah “Apostolic Exhortation Gaudete et Exsultate of The Holy Father Francis on The Call to Holiness in Today’s World” yang dimuat di :

http://w2.vatican.va/content/francesco/en/apost_exhortations/documents/papa-francesco_esortazione-ap_20180319_gaudete-et-exsultate.html

Terjemahan dimuat di http://komunitas-universal.blogspot.com dan http://katekesekatolik.blogspot.com/2018/05/seruan-apostolik-bapa-suci-paus.html

Rejoice and Be Glad Pope Francis

SERUAN APOSTOLIK

GAUDETE ET EXSULTATE

(Bersukacita dan Bergembiralah)

DARI BAPA SUCI FRANSISKUS

 

MENGENAI PANGGILAN UNTUK MENJADI KUDUS DALAM DUNIA SEKARANG INI
  1. “Bersukacita dan bergembiralah” (Matius 5:12), Yesus mengatakan kepada mereka yang dianiaya atau dihina demi Dia. Tuhan meminta segalanya dari kita, dan sebagai imbalannya dia menawarkan kepada kita kehidupan sejati, kebahagiaan yang untuk itu kita diciptakan. Dia menghendaki kita menjadi orang kudus dan kita tidak puas dengan keberadaan yang hambar dan biasa-biasa saja. Panggilan untuk kekudusan terdapat dalam berbagai cara dari halaman-halaman pertama Alkitab. Kita mengetahuinya ketika diungkapkan dalam kata-kata Tuhan kepada Abraham: “Hiduplah di hadapanKu dengan tidak bercela.” (Bdk Kej 17:1).
  1. Tulisan berikut ini tidak dimaksudkan untuk menjadi sebuah risalah tentang kekudusan, yang mengandung definisi dan rincian yang memang membantu untuk memahami perkara yang penting ini, atau sebuah diskusi tentang berbagai cara untuk menjadi kudus. Tujuan saya sederhana saja, yaitu menerangkan kembali panggilan menjadi suci  dengan cara praktis untuk jaman kita ini, dengan semua risiko, tantangan, dan peluangnya. Karena Tuhan telah memilih kita masing-masing “supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya dalam kasih” (Bdk Ef 1: 4).
BAB SATU
PANGGILAN MENUJU KEKUDUSAN
ORANG-ORANG KUDUS YANG MEMBERI SEMANGAT DAN MENJADI SAHABAT KITA
  1. Surat kepada orang-orang Ibrani menyajikan sejumlah kesaksian yang mendorong kita untuk “berlomba  dengan tekun dalam perlombaan  yang diwajibkan bagi kita” (Bdk 12: 1). Itu berbicara tentang Abraham, Sarah, Musa, Gideon dan yang lainnya (Bdk . 11: 1-12: 3). Di atas segalanya, itu mengundang kita untuk menyadari bahwa “bagaikan awan, banyak saksi” (12: 1) mendorong kita untuk terus maju menuju tujuan. Saksi-saksi ini mungkin termasuk ibu kita sendiri, nenek atau orang yang kita cintai lainnya (Bdk 2 Tim 1: 5). Hidup mereka mungkin tidak selalu sempurna, bahkan mungkin di tengah kesalahan dan kegagalan mereka, mereka terus bergerak maju dan terbukti menyenangkan bagi Tuhan.
  1. Orang-orang kudus yang sekarang ada di hadirat Allah melestarikan ikatan kasih dan persatuan mereka dengan kita. Kitab Wahyu membenarkan hal ini ketika berbicara tentang perantaraan para martir: “…aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki. Dan mereka berseru dengan suara nyaring, katanya, ‘Berapa lama lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi? (Bdk Why 6:9-10). Kami masing-masing dapat mengatakan: “Dikelilingi, dipimpin dan dibimbing oleh teman-teman Tuhan … Saya tidak harus membawa sendiri apa, sebenarnya, saya tidak pernah dapat membawa sendirian. Semua orang kudus Tuhan ada di sana untuk melindungi saya, untuk mendukung saya dan untuk menggendong saya.” [1]
  1. Proses beatifikasi dan kanonisasi menghargai tanda-tanda kebajikan heroik, pengorbanan hidup seseorang dalam kemartiran, dan kasus-kasus tertentu di mana kehidupan selalu dikorbankan bagi orang lain, bahkan sampai mati. Itu menunjukkan sebuah contoh mengikuti jejak Kristus, yang layak dikagumi oleh orang beriman. [2] Kita dapat berpikir, misalnya, Beata Maria Gabriella Sagheddu, yang mengorbankan hidupnya demi persatuan umat Kristiani.

[bersambung]


[1] BENEDIKTUS XVI, Homili Inagurasi Resmi Pelayanan Takhta Santo Petrus (24 April 2005) : AAS 97 (2005), 708.

[2] Hal ini selalu mengandaikan nama baik kekudusan dan pengamalan, setidaknya pada taraf biasa, kebajikan kristiani : bdk. Motu Proprio Maiorem Hac Dilectionem (11 Juli 2017),art. 2c : L’Osservatore Romano, 12 Juli 2017, hlm. 8.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s