“Cerai…? …No way!”

Hari Minggu Biasa XXVII (6-7 Oktober 2018)

Kej. 2:18-24; Mzm. 1281-2,3,4-5,6; Ibr. 2:9-11; Mrk. 10:2-16 (Mrk. 10:2-12)

Diterbitkan oleh Tim Kerja Kitab Suci – DPP. Santo Yoseph Purwokerto 

 “Karena itu, apa yang telah dipersatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Mrk 10:9)

Bapak-Ibu dan Saudara/i terkasih

PerkawinanAkhir-akhir ini hal perceraian menjadi kelihatan jamak di negeri ini. Bayangkan, setiap kali melihat acara televisi banyak berita seputar artis tanah air yang menikah dan bercerai dengan begitu mudahnya. Seakan-akan itu menjadi hal yang biasa.  Di manca negara pun begitu, Artis A bercerai dengan Artis B, Janda C menikah dengan Duda D, namun ternyata ada negara di dunia ini (selain Vatikan) yang melarang/mengharamkan perceraian. Negara itu adalah negara tetangga kita Filipina.   Pertanyaannya adalah: “Apakah di negara tersebut kemudian kehidupan rumahtangga warganegaranya baik-baik semua dan tidak ada masalah? Ternyata tidak juga. Lantas mengapa negara tidak melegalkan saja? Rupanya negara tersebut, yang mayoritas penduduknya beragama Katolik, mempunyai aturan yang sudah ditetapkan sejak kekuasaan Katolik Roma di zaman kolonisasi Spanyol 500 tahun yang lalu. Dan itu masih dipertahankan sampai sekarang. Bahkan seandainya di negara Filipina terjadi perceraian pun, itu sudah melalui tahapan pengadilan yang rumit dan menghabiskan waktu dan materi yang tidak sedikit.

Bapak-Ibu dan Saudara/i terkasih

Bacaan Injil Markus hari ini menceritakan Yesus yang dicobai oleh orang Farisi dengan pertanyaan, “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan istrinya?” Dan Yesus menjawab, “Apa perintah Musa kepada kamu?” Kemudian jawab mereka bahwa Musa mengizinkan perceraian. Kemudian kata Yesus kepada mereka, “Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu”.

Yesus tahu maksud orang Farisi ingin membenturkan pandanganNya dengan pandangan Musa, tapi orang Farisi tidak menjawab Perintah Musa karena yang ditetapkan Musa itu sesungguhnya bukan perintah, tetapi sebuah kelonggaran yang disebabkan oleh kondisi rohani manusia yang sangat tidak memuaskan. Ketetapan tersebut merupakan usaha untuk mengatur dan mengendalikan perceraian bukan mendorong perceraian.

Sejak awal penciptaan, Allah sudah merencanakan bahwa laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya untuk bersatu dengan istrinya (bdk Kej 2:24; Mrk 10:7). Sebenarnya kalo mau disadari, bahwa perkawinan itu sendiri adalah idenya Tuhan.  Hal ini dapat kita lihat pada Kejadian 2:18 : “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia”, maka Tuhan menciptakan seorang wanita bagi pria.

Bapak-Ibu dan Saudara/i terkasih

Dalam kehidupan ini, ada cerita seorang suami yang menyesal dengan perkawinannya. Dia merasa salah pilih, dulu dipaksa orangtuanya, dan karena banyak konflik sehingga akhirnya merasa putus asa dengan hidup perkawinan mereka dan dengan mudahnya mengatakan “cerai”. Di Injil Markus 10:8-9, Yesus menegaskan kembali dengan mengatakan bahwa “sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Ini menjadi dasar bagi perkawinan katolik bahwa tidak ada perceraian bagi orang katolik dengan alasan apapun. Dasar ini juga yang juga menguatkan, saat saya dan istri berselisih paham. Hanya karena berbeda pendapat atau intonasi yang kurang pas saat berkata-kata akhirnya kami saling melukai (hati). Hal seperti di atas kalau terus menerus terjadi membuat luka semakin dalam hingga akhirnya merasa hidup perkawinan menjadi kering dan hambar. Saat perkawinan dirasakan kering, tidak adanya cinta, seakan anggur perkawinan terasa habis, apa yang harus dilakukan?  Datanglah kepada Yesus, bawa perkawinan dan keluarga kita kepada Yesus. Datang dengan kerendahan hati, akui kegagalan dan kebutuhan kita akan pertolongan Tuhan.

Ya Tuhan, biarlah anggur baru-Mu memenuhi hati kami dan kantong kehidupan kami Kau penuhi dengan cinta dan pengharapan akan Engkau sehingga hidup perkawinan kami menjadi perkawinan yang dilahirkan kembali. Amin.

Berkah Dalem

Hence
Dionisius Hence
Lingkungan Andreas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s