Hari Minggu Biasa XXV (22-23 September 2018)

Keb. 2:12,17-20; Mzm. 54:3-4,5,6,8; Yak. 3:16-4:3; Mrk. 9:30-37.

Diterbitkan oleh Tim Kerja Kitab Suci – DPP. Santo Yoseph Purwokerto 

“Jika seorang ingin menjadi yang terdahulu,  hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semua” .  (Mrk 9: 35)

Menjadi pengikut Yesus perlu belajar mengenal-Nya dari dekat. Salah satu cara paling mudah  mengenal Yesus dari dekat adalah membaca Injil. Dengan membaca Injil, orang akan mengenal pribadi-Nya, bersahabat dengan-Nya, dan menjadi anak-anak-Nya. Dari Injil orang akan memahami ajaran-ajaran Yesus, mengerti akan perintah-perintah-Nya. Dari Injil orang diajak belajar menjadi saksi Kristus; menyebarkan kabar sukacita ke seluruh dunia.

Selamat berpesta – Bulan Kitab Suci Nasional.

Bacaan Injil hari ini berbicara tentang Yesus meluangkan waktu  khusus untuk mengajar murid-murid-Nya. Di dalam perjalanan menuju Kapernaum, Yesus memberitahukan murid-murid-Nya tentang penderitaan dan kebangkitan-Nya yang akan Ia alami. Maksud Yesus menyampaikan hal ini, supaya para murid tahu pada suatu saat Gurunya akan mengalami hal yang tidak menyenangkan dan akan meninggalkan mereka, dan mereka harus melanjutkan tugas-tugas Gurunya.  Tetapi para murid tidak mengerti apa yang disampaikan oleh Yesus, dan mereka juga tidak mau bertanya kepada-Nya (ay 30-32). Para murid tidak mau ambil pusing dengan hal yang disampaikan oleh Yesus. Mereka justru sibuk mencari kepentingan diri sendiri. Mereka mempersoalkan “siapa yang paling besar diantara mereka” (ay 34). Kejadian ini tentu membuat Yesus amat sedih, tetapi Ia  tidak mau menegur mereka di tengah jalan.

Maka sesampainya di Kapernaum, Yesus mengumpulkan para murid dan bertanya kepada mereka, “apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” Mendengar pertanyaan Gurunya, para murid hanya diam saja, tidak ada yang memberi jawaban. Karena mereka menyadari kesalahannya. Mereka tertunduk malu akan perbuatannya. Yesus melihat para murid tidak ada yang menjawab pertanyaan-Nya, Ia pun menggunakan kesempatan ini untuk mengajar mereka. Yesus berkata, “Jika seorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” (ay 35). Yesus mengajar murid-Nya agar menjadi orang yang rendah hati; janganlah menjadi orang nomor satu di antara orang lain, tetapi lepaskan ketenaran, dan jadilah  seorang pelayan bagi semua orang.

Mrk 9 30-37Lalu Yesus mengambil seorang anak dan menempatkannya di hadapan mereka, Yesus memeluk anak itu dan berkata kepada mereka semua, “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan  Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.” (ay 36-37) Yesus menekankan ajaran-Nya, seorang pelayan harus memperhatikan orang kecil; yang terlantar, yang miskin, yang sakit, yang membutuhkan pertolongan – mereka harus dirangkul – seperti Yesus merangkul anak kecil di hadapan mereka. Lebih lanjut Yesus menegaskan, seorang yang menyambut saudaranya yang “kecil” dalam nama Tuhan, ia sama dengan menyambut Yesus, dan seorang yang menyambut Yesus, ia menyambut Tuhan Allah. Jadi, ketika seorang mau membuka hatinya untuk Tuhan dan melayani orang kecil, sama saja ia melayani Tuhan sendiri.

Sahabat Yesus yang terkasih.

Ajaran Yesus dua ribu tahun lalu untuk para murid-Nya adalah ajaran untuk kita yang hidup di abad ini, supaya kita semua dapat melanjutkan tugas-tugas Tuhan di dunia ini. Tadi kita telah membaca, menjadi seorang murid harus rendah hati, mau melepaskan kepentingan diri sendiri, tidak mencari pangkat dan ketenaran; mau menjadi pelayan untuk orang-orang kecil tanpa pamrih.  Tentu tugas ini tidak mudah dilakukan, apabila kita masih dikuasai sifat iri hati dan mementingkan diri sendiri. (bdk Yak 3: 16) Oleh sebab itu, Santo Yakobus mengajak kita mencari kebijaksanaan yang dari atas; supaya pikiran dan hati kita dimurnikan; supaya kita dapat menghasilkan buah-buah cinta kasih di dalam kehidupan kita sehari-hari. (bdk Yak 3: 17-18)

Mari kita resapi ajaran Tuhan Yesus, dengan mempersembahkan diri kita untuk dipakai oleh Tuhan; menjadi murid-murid Yesus yang diutus ke tengah keluarga, lingkungan, paroki dan masyarakat sekitar kita. Semoga melalui kita semua, cahaya kasih Kristus dapat terpancar ke seluruh dunia.

Tuhan memberkati.

DY. Chandra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s