SIAPAKAH YESUS?

Hari Minggu Biasa XXIV (15-16 September 2018)

Yes. 50:5-9a; Mzm. 116:1-2,3-4,5-6,8-9; Yak. 2:14-18; Mrk. 8:27-35

Diterbitkan oleh Tim Kerja Kitab Suci – DPP. Santo Yoseph Purwokert

Bapak/Ibu dan Saudara/i terkasih.

Markus 8 27-38Mendengar dan membaca bacaan Injil Minggu ini, seperti halnya para murid saya pun diingatkan kembali oleh Yesus tentang siapakah Dia. Saya menjadi Katolik sejak sebelum saya tahu siapa Yesus, karena saya dibaptis saat saya masih bayi. Dalam perjalanan hidup saya di saat-saat saya berada di tengah-tengah keluarga maka orangtua saya mewariskan iman kepercayaannya kepada saya. Maka jika saat ini Yesus bertanya kepada saya seperti halnya Yesus bertanya kepada para murid, jawaban saya pun kurang lebih sama seperti jawaban Petrus : “Engkau adalah Mesias” atau dengan bahasa lain “Engkau adalah Sang Juru Selamat”, “Engkau adalah Emanuel”, ….. Walau Petrus tampil mewakili para murid dengan mantap menjawab : “Engkau adalah Mesias”, namun saat Yesus menyampaikan penderitaanNya Petrus tidak menerima. Petrus berpikir bahwa Mesias tidak akan menderita. Setelah saya refleksikan perjalanan hidup saya, ternyata saya pun sering seperti Petrus yang bertindak atas pikiran dan logika manusia.

Satu pengalaman iman yang saya sesali hingga saat ini terjadi pada anak saya yang pertama. Di saat teman-teman seusianya dan seangkatannya mengikuti persiapan penerimaan sakramen krisma, saya tidak mengikutsertakan anak saya. Saat itu pertimbangan saya hanya didasarkan atas logika berpikir saya bahwa anak saya dalam hal kognitif boleh dibilang kurang. Saya berpikir anak saya tidak mampu menerima pelajaran-pelajaran yang disampaikan oleh para pendamping. Saya berpikir lalu apa gunanya sakramen krisma kalau hanya sekedar mengikuti persiapan dan akhirnya menerima sakramen dari tangan Uskup tanpa dia sendiri memahami maknanya?  Setelah perjalanan waktu akhirnya saya pun disadarkan bahwa menunda penerimaan sakramen berarti menghalangi rahmat Tuhan. Dalam hal ini saya percaya bahwa Yesus adalah Sang Mesias, tetapi dalam membuat keputusan saya tidak melibatkan Dia sebagai Sang Mesias. Sikap saya yang hanya mengandalkan pikiran manusia ini adalah kesombongan saya. Akibatnya hingga saat ini anak saya belum menerima sakramen krisma.

Bapak/Ibu dan Saudara/i terkasih.

Refleksi saya atas Injil minggu ini selain pengalaman iman di atas, Tuhan Yesus memberi 2 teladan pada saya. Apa itu?

Pertama sikap rendah hati dan setia. Setelah mendengar jawaban Petrus : “Engkau adalah Mesias” Yesus lalu melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapapun tentang Dia (ay 30). Sikap ini saya tangkap sebagai teladan akan kerendahan hati Yesus. Di balik itu Yesus juga ingin tetap setia kepada kehendak Bapa, di mana sebagai Mesias, Yesus harus menderita dan wafat di kayu salib. Yesus juga tahu para murid dan orang banyak belum siap menerima kenyataan bahwa Mesias harus menderita sengsara dan wafat di salib. Mereka masih mempunyai gambaran sendiri tentang Yesus.

Kedua mencintai tanpa batas. Yesus yang mau memberitahukan kepada para murid tentang penderitaannya saya tangkap sebagai orangtua yang memberikan wejangan kepada anak-anaknya.  Jika kita tahu bahwa besok kita akan meninggal, pasti kita akan berpesan banyak hal kepada anak-anak kita. Kadang pesan yang disampaikan bukan hanya yang baik-baik saja, tetapi juga hal-hal yang tidak mengenakkan. Hal ini dibuat supaya anak-anak kita tahan banting, siap bila menghadapi penderitaan dan percaya akan diselamatkan. Yesus memberitahukan tentang penderitaan-Nya supaya iman para murid tidak goyah saat hal itu terjadi. Juga agar para murid tidak meninggalkan-Nya (walaupun saat penderitaan Tuhan Yesus tiba, Petrus pun menyangkal-Nya sampai tiga kali). Dengan iman yang tak tergoyahkan maka para murid akan selamat.

bersama Yesus panggul salibBerita tentang penderitaan Yesus tentu bukan berita yang menyenangkan bagi para murid. Maka dari itu Yesus menegaskan : “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya” (ay 38-39). Dalam hal ini Yesus sungguh sangat mencintai para murid-Nya yang berarti juga mencintai kita semua yang kini juga sebagai murid-murid-Nya. Cinta Yesus tak terbatas, hingga Dia menderita dan wafat di Kayu Salib.

Bapak/Ibu dan Saudara/i terkasih.

Kita sudah mengimani Yesus adalah Sang Mesias, Yesus adalah Juru Selamat kita, maka marilah kita mengimani dengan segala kerendahan hati kita, dengan penuh kesetiaan. Hendaknya kita selalu menyertakan Dia dalam setiap pergumulan hidup kita. Jangan sampai iblis merasuki kita sehingga kita menyelesaikan pergumulan hidup kita hanya dengan pikiran kita. Pergumulan hidup kita adalah bagian dari salib yang mesti kita angkat supaya kita menjadi selamat. Perjuangan kita melawan dosa dengan menyalibkan keinginan-keingingan yang berdosa tidak akan pernah berhenti.  Karena perjuangan ini terus kita lakukan sepanjang hidup kita.

Berkah Dalem

Yulius SP.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s