MARIA BERDUKACITA

Tujuh dukacita Maria15 September ditetapkan oleh Gereja sebagai Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Berdukacita. Gelar “Bunda Dukacita” diberikan kepada Maria dengan menitikberatkan pada sengsara dan dukacitanya yang luar biasa selama sengsara dan wafat Kristus.

Di antara banyak arti nama Maria, demikian Beato (sekarang Santo) Albertus Agung menegaskan, salah satunya berarti ‘laut pahit’. Jadi, pada Maria berlaku nubuat nabi Yeremia: “luas bagaikan laut reruntuhanmu”. Sama seperti laut seluruhnya pahit dan asin, demikian juga hidup Maria senantiasa dipenuhi kepahitan karena bayangan akan sengsara Sang Penebus yang senantiasa ada di benaknya.

Betapa dahsyat dukacita yang menjadikan Maria Ratu Para Martir, oleh karena sengasaranya melampaui sengsara semua martir, yakni dalam dua hal: terlama menurut ukuran waktu, dan terdahsyat menurut ukuran intensitas. 

Pertama, Maria menanggung derita sepanjang hidupnya. Hal ini dinyatakan dengan sangat jelas kepada Santa Brigitta dalam suatu penglihatan yang dialaminya ketika ia berada di Roma, dalam gereja Saint Mary Major, di mana Santa Perawan Maria bersama St. Simeon, dan seorang malaikat yang membawa sebilah pedang yang amat panjang, yang merah karena noda darah, menampakkan diri kepada St. Brigitta. Dengan cara demikian ditunjukkan kepadanya betapa panjang dan pahitnya dukacita yang menembus hati Bunda Maria sepanjang hidupnya. Maria berkata, “Jiwa-jiwa yang telah ditebus, dan anak-anakku yang terkasih, janganlah berbelas kasihan kepadaku hanya pada jam di mana aku menyaksikan Yesus-ku yang terkasih meregang nyawa di hadapan mataku; oleh sebab pedang dukacita yang dinubuatkan Simeon menembus jiwaku sepanjang hidupku: ketika aku menyusui Putraku, ketika aku menggendong-Nya dalam pelukanku, aku telah melihat kematian ngeri yang menanti-Nya. Bayangkan, betapa panjang dan pilunya sengsara yang harus kuderita.”

Kedua, para martir menanggung penderitaan mereka, yang merupakan akibat siksa api dan alat-alat sarana lainnya di tubuh mereka. Bunda Maria menanggung penderitaannya dalam jiwanya, seperti dinubuatkan oleh St. Simeon, “dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri”. St. Antonius mengatakan, “sementara para martir lain menderita dengan mengurbankan nyawa mereka sendiri, Santa Perawan menderita dengan mengurbankan nyawa Putranya, nyawa yang dikasihinya jauh melampaui nyawanya sendiri. Jadi, tidak saja Maria menderita dalam jiwanya semua yang diderita Putranya di Tubuh-Nya, tetapi lebih dari itu, menyaksikan derita dan sengsara Putranya mendatangkan dukacita yang lebih dahsyat di hatinya daripada jika ia sendiri yang harus menderita segala sengsara itu di tubuhnya.” Tidak seorang pun dapat meragukan bahwa Bunda Maria menderita dalam hatinya segala kekejian yang ia saksikan menimpa Putranya yang terkasih. Siapa pun dapat mengerti bahwa penderitaan anak-anak adalah juga penderitaan para ibu mereka yang menyaksikannya.

Menurut tradisi, dukacita Maria dalam menjalani tugasnya sebagai Bunda Kristus meliputi “tujuh dukacita”. Seperti yang dinubuatkan Nabi Simeon yang memaklumkannya kepada Maria, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri -, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.” (Lukas 2:34-35).

Tujuh Dukacita Bunda MariaTujuh Dukacita Bunda Maria meliputi Nubuat Simeon, Pengungsian Keluarga Kudus ke Mesir; Kanak-kanak Yesus Hilang dan Diketemukan di Bait Allah; Bunda Maria Berjumpa dengan Yesus dalam Perjalanan-Nya ke Kalvari; Bunda Maria berdiri di kaki Salib ketika Yesus Disalibkan; Bunda Maria Memangku Jenasah Yesus setelah Ia Diturunkan dari Salib; dan kemudian Yesus Dimakamkan. Secara keseluruhan, nubuat Simeon bahwa sebilah pedang akan menembus hati Bunda Maria digenapi dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Oleh sebab itu, Bunda Maria terkadang dilukiskan dengan hatinya terbuka dengan tujuh pedang menembusinya. Dan yang terpenting ialah bahwa setiap dukacita diterima Bunda Maria dengan gagah berani, dengan penuh kasih, dan dengan penuh kepercayaan, seperti digemakan dalam Fiat-nya, “jadilah padaku menurut perkataan Tuhan,” yang diucapkannya pertama kali dalam peristiwa Kabar Sukacita.

Peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita mulai populer pada abad keduabelas, meskipun dalam berbagai gelar yang berbeda. Beberapa tulisan didapati berasal dari abad kesebelas, teristimewa di kalangan para biarawan Benediktin. Pada abad keempatbelas dan kelimabelas, peringatan dan devosi ini telah tersebar luas di kalangan Gereja.

Yang menarik, pada tahun 1482, peringatan ini secara resmi dimasukkan dalam Misale Romanum dengan gelar “Santa Perawan Maria Bunda Berbelas Kasihan” (Our Lady of Compassion) dengan menekankan besarnya cinta kasih Bunda Maria yang diperlihatkannya dalam sengsara bersama Putranya. Kata ‘compassion’ berasal dari kata Latin `cum’ dan `patior’ yang artinya “menderita bersama”. Dukacita Bunda Maria melampaui dukacita siapa pun oleh sebab ia adalah Bunda Yesus, yang bukan hanya Putranya, melainkan juga Tuhan dan Juruselamatnya; Bunda Maria sungguh menderita bersama Putranya. Pada tahun 1727, Paus Benediktus XIII memasukkan Peringatan Santa Perawan Maria Bunda Berbelas Kasihan dalam Penanggalan Romawi, yang jatuh pada hari Jumat sebelum Hari Minggu Palma. Peringatan ini kemudian ditiadakan dengan revisi penanggalan yang diterbitkan dalam Misale Romawi tahun 1969.

Pada tahun 1668, peringatan guna menghormati Tujuh Dukacita Maria ditetapkan pada hari Minggu setelah tanggal 14 September, yaitu Pesta Salib Suci. Peringatan ini kemudian disisipkan dalam penanggalan Romawi pada tahun 1814, dan Paus Pius X menetapkan tanggal yang permanen, yaitu tanggal 15 September sebagai Peringatan Tujuh Duka Santa Perawan Maria (yang sekarang disederhanakan menjadi Peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita). Penekanan utamanya di sini adalah Bunda Maria yang berdiri dengan setia di kaki salib di mana Putranya meregang nyawa; seperti dicatat dalam Injil St. Yohanes, “Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: `Ibu, inilah, anakmu!’ Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: `Inilah ibumu!’” (Yohanes 19:26-27).

Konsili Vatikan Kedua dalam Konstitusi Dogmatis Tentang Gereja menulis, “…ia sesuai dengan rencana Allah berdiri di dekatnya. Di situlah ia menanggung penderitaan yang dahsyat bersama dengan Putranya yang tunggal. Dengan hati keibuannya ia menggabungkan diri dengan korban-Nya, yang penuh kasih menyetujui persembahan korban yang dilahirkannya.

St. Bernardus (wafat tahun 1153) menulis, “Sungguh, ya Bunda Maria, sebilah pedang telah menembus hatimu…. Ia wafat secara jasmani oleh karena kasih yang jauh lebih besar daripada yang dapat dipahami manusia. Bunda-Nya wafat secara rohani oleh karena kasih seperti yang tak dapat dibandingkan selain dengan kasih-Nya.” Dengan menekankan belas kasihan Bunda Maria, Bapa Suci kita, Paus Yohanes Paulus II, mengingatkan umat beriman, “Bunda Maria yang Tersuci senantiasa menjadi penghibur yang penuh kasih bagi mereka yang mengalami berbagai penderitaan, baik fisik maupun moral, yang menyengsarakan serta menyiksa umat manusia. Ia memahami segala sengsara dan derita kita, sebab ia sendiri juga menderita, dari Betlehem hingga Kalvari. ‘Dan jiwa mereka pula akan ditembusi sebilah pedang.’ Bunda Maria adalah Bunda Rohani kita, dan seorang ibunda senantiasa memahami anak-anaknya serta menghibur dalam penderitaan mereka. Dengan demikian, Bunda Maria mengemban suatu misi istimewa untuk mencintai kita, misi yang diterimanya dari Yesus yang tergantung di Salib, untuk mencintai kita selalu dan senantiasa, dan untuk menyelamatkan kita! Lebih dari segalanya, Bunda Maria menghibur kita dengan menunjuk pada Dia Yang Tersalib dan Firdaus!” (1980).

Oleh sebab itu, sementara kita menghormati Bunda Maria, Bunda Dukacita, kita juga menghormatinya sebagai murid yang setia dan teladan kaum beriman. Marilah kita berdoa seperti yang didaraskan dalam doa pembukaan Misa merayakan peringatan ini: “Bapa, sementara PutraMu ditinggikan di atas salib, Bunda-Nya Maria berdiri di bawah kaki salib-Nya, menanggung sengsara bersama-Nya. Semoga Gereja-Mu dipersatukan dengan Kristus dalam Sengsara dan Wafat-Nya, sehingga beroleh bagian dalam kebangkitan-Nya menuju hidup baru.” Dengan meneladani Bunda Maria, semoga kita pun dapat mempersatukan segala penderitaan kita dengan sengsara Kristus, serta menghadapinya dengan gagah berani, penuh kasih dan kepercayaan.

Sumber: http://www.yesaya.indocell.net, dan http://www.sibolga.kustodi.org.

Sumber gambar: www.ncregister.com; http://www.lubukhati.org.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s