JADIKAN KITA BERKAT FIRMAN KEBENARAN

Hari Minggu Biasa XXII (1-2 September 2018)

Ul 4:1-2,6-8; Mzm. 15:2-3a,3cd-4ab,5; Yak. 1:17-18,21b-22,27; Mrk. 7:1-8,14-15, 21-23

Diterbitkan oleh Tim Kerja Kitab Suci – DPP. Santo Yoseph Purwokerto 

Bapak/Ibu dan Saudara/i terkasih

Membaca Injil hari ini saya teringat akan fokus reksa pastoral keuskupan kita pada tahun 2008/2009 yang mengangkat tema “Formalisme Agama”. Tema ini kemudian kita perdalam di lingkungan-lingkungan. Umat diajak untuk melaksanakan perintah agama bukan hanya sebagai kegiatan rutinitas biasa, tetapi benar-benar dapat dihayati dengan baik dan diamalkan dalam kehidupannya. Umat datang ke gereja mengikuti perayaan ekaristi, karena memang benar-benar merindukan akan sabda Tuhan, akan Tubuh dan DarahNya yang kemudian menjadi dasar dalam kehidupan kesehariannya, bukan hanya yang penting ke gereja.

Firman Kebenaran-2Lalu kaitannya dengan Bulan Kitab Suci Nasional 2018, pada pertemuan kedua kita akan menemukan nuansa yang sama dengan bacaan Injil hari ini. Tema pertemuan kedua BKSN 2018 adalah “Mewartakan Kabar Gembira di Tengah Kemajemukan Budaya”. Tema ini dapat kita pahami dengan satu kata yang sudah tidak asing lagi bagi kita yaitu INKULTURASI. Gereja hadir di tengah umat dengan masuk dalam budaya setempat dan meresapinya dengan nilai-nilai Injil. Pendekatan budaya ini sangat dipahami oleh Romo Van Lith yang kala itu menyebarkan Kabar Gembira Injil masuk melalui budaya setempat. Budaya setempat yang sesuai dengan ajaran gereja diangkat sehingga gereja diterima oleh masyarakat setempat dengan baik. Akhirnya terjadilah baptisan pertama, kedua dan seterusnya di Sendang Sono yang sekarang menjadi salah satu tempat ziarah terkenal di Jawa.

Bapak/Ibu dan Saudara/i terkasih

Apa yang dilakukan oleh Romo Van Lith dalam menyebarkan Kasih Allah kepada masyarakat di daerah Muntilan dan sekitarnya berbeda dengan orang-orang Farisi dan Ahli-ahli Taurat bangsa Yahudi dalam bacaan Injil hari ini. Orang-orang Farisi dan Ahli-ahli Taurat bangsa Yahudi berpegang teguh pada adat istiadat. Maka mereka pun menyatakan bahwa apa yang dilakukan beberapa murid yang tidak sesuai dengan adat istiadat yang dibuat oleh nenek moyang bangsa Yahudi adalah najis. Seperti membasuh tangan sebelum makan, setelah dari pasar membersihkan badan terlebih dahulu sebelum makan, dll.  Jika hal-hal ini dilanggar maka orang tersebut najis.

Tetapi Yesus menjawab mereka dan menyatakan mereka sebagai orang yang munafik. “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku” (ay 6).   Di ayat ke 7 dan 8 Yesus menjelaskan dengan gamblang mengapa mereka disebut munafik. “Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia” (ay 7-8).

Orang Farisi dan para ahli Taurat melakukan kesalahan karena terlalu menekankan aturan formal adat istiadat dan menempatkan tradisi manusia di atas penyataan ilahi. Di sini Yesus tidak mengecam semua tradisi, tetapi hanya tradisi yang bertentangan dengan Firman Allah. Tradisi atau peraturan harus dilandaskan pada kebenaran yang sesuai dengan yang terdapat dalam Alkitab (bdk. 2Tes 2:15). Gereja-gereja harus melawan kecenderungan untuk mengagungkan tradisi rohani mereka, hikmat manusiawi, atau kebiasaan umum di atas Alkitab. Alkitab merupakan satu-satunya kaidah iman dan kelakuan yang sempurna; Alkitab sekali-kali tidak boleh ditiadakan oleh gagasan manusia (Sumber : Alkitab Sabda)

Apa yang dapat kita tangkap dari sabda Tuhan hari ini?  Tuhan Yesus menghendaki kita untuk berpegang teguh pada ajaranNya. Setia pada perintah-perintahNya. Berani menentang aturan-aturan yang dibuat oleh manusia yang bertentangan dengan perintah Allah. Hendaknya kita jangan seperti orang-orang Farisi dan Ahli-ahli Taurat yang hanya omdo (omong doang). Orang Jawa mengatakan lamis (hanya dibibir saja). Orang seperti ini memuliakan Allah dengan bibir, sedangkan hati mereka jauh daripada Dia; dari luar mereka tampaknya benar, tetapi hatinya sama sekali tidak mengasihi Allah. Mereka jatuh pada sikap formalisme karena terlalu menekankan aturan formal lahiriah tradisi.

Bapak/Ibu dan Saudara/i terkasih

Jika sampai hari ini kita masih seperti orang-orang Farisi dan Ahli Taurat, masih omdo, masih lamis maka saatnya kita berbalik.  Saatnya kita jadikan diri kita sebagai berkat firman kebenaran. Dengan melaksanakan ajaran-ajaranNya, perintah-perintahNya. Melandasi setiap pikiran, perasaan dan ucapan kita serta perbuatan kita dengan kasih-Nya, sehingga setiap kali kita membuat tanda salib di dahi, bibir dan dada (Saat bacaan Injil dalam perayaan ekaristi dimana saat Imam mengucapkan “inilah Injil Yesus Kristus, menurut …..”. Kita menjawab dengan “dimuliakanlah Tuhan” sambil membuat tanda salib tiga kali yaitu di dahi, bibir dan dada) tidak hanya formalitas saja. Tetapi benar-benar kita resapkan dalam pikiran, hati dan ucapan. Apa yang ada dalam pikiran kita, apa yang ada didalam hati kita sama dengan apa yang kita ucapkan. Yaitu Kasih Karunia Allah. Jika demikian maka kehadiran kita dapat menjadi saluran berkat bagi orang-orang disekitar kita, bagi keluarga dan masyarakat. Berkat karena firman kebenaranNya.

Berkah Dalem

Yulius SP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s