Sukacita Krisma

74 krismawan-wati Sanyos
Sebanyak 74 krismawa/wati bersama Rm Tarcisius Puryatno dan para Romo Sanyos (120818/foto lily karlina)

Seperti kita ketahui, pada hari Minggu, 12 Agustus 2018 pukul 18.00 telah berlangsung Perayaan Ekaristi penerimaan Sakramen Krisma bagi 74 saudara/i kita di paroki St. Yoseph Purwokerto. Persiapan telah dilakukan selama 3 bulan dengan pembekalan materi sebanyak 15 kali pertemuan (wajib diikuti penuh). Setiap materi ada pendampingnya (@ 2 orang). Selain itu para peserta wajib mengikuti rekoleksi, penerimaan sakramen tobat dan gladi resik.

Puji Tuhan, perayaan ekaristi penerimaan krisma dan acara syukuran sesudahnya dapat berlangsung dengan baik dan penuh makna. Acara ramah tamah dikemas dengan sangat apik, penuh kekeluargaan dengan model duduk per meja dan dilayani oleh para pendamping krisma serta DPP yang berpakaian adat. Sajian makanan yang enak dari Ibu-ibu WKRI, sharing pengalaman, penampilan para krismawan-krismawati dan pendamping, serta lagu-lagu dari tim pujian membuat sukacita malam itu semakin penuh.

Sebagai salah satu pendamping calon krisma, perkenankan saya untuk berbagi pengalaman saya seputar persiapan dan penerimaan krisma tahun ini.

Ketika tim kerja katekese meminta saya untuk mencari pendamping krisma sekitar 15 orang, jujur saya bingung mesti mencari ke mana. Dengan berdoa mohon tuntunan Roh Kudus, saya teringat teman-teman seangkatan KEP yang memiliki motto ”Siap diutus”. Pasti mereka akan suka cita terlibat. Kemudian saya mengajak beberapa teman-teman prodiakon yang mempunyai komitmen untuk tugas perutusan dan pewartaan juga. Terakhir saya mengajak para guru yang sudah berpengalaman mengajar. Pikir saya, mereka tinggal diberi materi pasti proses pendampingan akan jalan.

Dalam waktu singkat sudah terkumpul para calon pendamping, bahkan melebihi target. Tapi dalam perjalanan training of trainers (TOT) pendamping krisma, jumlahnya menyusut karena tidak merasa mampu. Selama TOT saya merasa menerima pengajaran krisma lagi setelah 31 tahun yang lalu.

Saya memilih materi “Gereja yang melayani” yang tidak sulit materinya namun butuh kerendahan hati dan kesabaran untuk melayani. Dari awal kegiatan saya mengikuti pendampingan kecuali ketika saya keluar kota atau ada kegiatan lain, saya tidak dapat mendampingi. Dari sana saya banyak belajar dari para senior untuk menyampaikan materi dan penguasaan kelas yang pesertanya beragam dan baru pertama kali saya lakukan.

Pertama kali menyampaikan materi saya membawakannya dengan suasana yang santai tapi serius. Saya coba adakan diskusi kelompok dengan wakil dari peserta yang belum pernah bicara dan membacakan Kitab Suci secara bergiliran agar mereka fokus dan tidak berbicara sendiri. Puncaknya dengan menonton film inspiratif yang ternyata mengharu biru peserta. Banyak dari mereka yang menangis. Kami kemudian berdoa bersama dengan ujud khusus bagi salah satu peserta yang akan mengadakan hajatan. Pendampingan diakhiri dengan menyanyi lagu “Hidup Ini Adalah Kesempatan”.

Saat kritis pendampingan adalah ketika memberikan materi tambahan di luar jadwal regular. Ini dilakukan sebagai solusi untuk peserta yang tidak bisa hadir dalam pertemuan reguler. Mengingat ketentuan peserta atau calon penerima krisma wajib mengikuti 15 pertemuan, maka perlu dicari waktu khusus untuk membantu peserta memenuhi ketentuan tersebut.

Kondisi yang bikin jantung deg-degan adalah ketika masih banyak peserta yang absensinya bolong di beberapa pertemuan. Saya sendiri sampai adakan 3 kali pertemuan pengganti (susulan) untuk memberikan materi yang sama. Saya juga selalu memberikan semangat bagi para peserta yang belum hadir di beberapa pertemuan untuk taat dan hadir dalam pertemuan pengganti.

Memberikan kesempatan pertemuan pengganti yang ke 4 menjadi pengalaman yang paling berkesan. Tinggal 1 peserta yang belum mengikuti materi saya. Ternyata peserta tersebut juga belum mengikuti pertemuan pengganti dengan 2 pendamping lain (materi lain). Tetapi 2 pendamping itu tidak dapat memberikan waktu lagi untuk pertemuan pengganti. Akhirnya saya borong ke 3 materi yang belum diikuti oleh satu peserta tersebut. Saya sampaikan hal itu kepadanya dan dia meminta materi dikirim lewat email. Lalu peserta itu saya minta datang ke kantor saya pada jam kerja mengingat waktu lain sudah tidak memungkinkan.

Ternyata saya terkejut dengan pertanyaan dan sharingnya yang begitu mendalam dan bila didengarkan dengan sungguh akan membuat air mata menetes. Di akhir pertemuan itu, saya merefleksikan pengalaman saya sendiri. Ternyata Tuhan sudah membentuk saya sejak masih dalam kandungan, lalu berlanjut ketika kanak-kanak dan baptis dewasa, dengan perpisahan orang tua dan memiliki anak-anak istimewa. Itu cara Tuhan memakai saya untuk memberikan peneguhan dan penguatan iman bagi peserta ini agar kuat menjalani kehidupan. Peserta terakhir ini mempunyai pengalaman yang tidak jauh dari kehidupan masa lalu saya.

Detik-detik penerimaan krisma hampir tiba. Tubuh saya sudah ingin istirahat sejenak. Setelah ikut gladi bersih dan penyampaian hal teknis kepada para calon penerima krisma, ternyata hasil pengecekan akhir di aula menunjukkan ada beberapa nomor meja yang harus disesuaikan. Perlu diketahui, acara ramah tamah sesudah misa rencananya akan diadakan dengan model duduk per meja (@10 orang krismawan/wati dan keluarga). Ada pula nama krisma yang salah dan susulan nama krisma. Saya tidak jadi istirahat karena harus membantu membereskan hal itu.

Sampai di rumah tetap belum dapat istirahat karena ada peserta yang sangat antusias ingin menerima krisma dengan persiapan dan “kejutan” buat romo dan pendamping. Ada persyaratan yang masih harus dipenuhinya. Badan lelah dan letih sudah tidak terasa lagi melihat semangat peserta yang luar biasa itu dalam mempersiapkan penerimaan krisma tahun ini. Semoga iman mereka tetap menyala dan menjadi saluran berkat buat sesama.

foto session seusai acara
Sebagian krismawan/wati dan pendamping sesuai acara syukuran di aula paroki St. Yoseph (120818/foto lily karlina)

Saya mengalami pelajaran berharga sebagai pendamping yang ternyata sungguh-sungguh seperti mengikuti pelajaran krisma kembali. Rasa syukur dan sukacita memenuhi hati karena saya mengalami Tuhan telah berkenan memilih saya untuk menjadi pekerjaNya.

Foto selengkapnya ada di Album Krisma Sanyos FB Lily Karlina

dan Album Krismawan/wati Sanyos 2018 di FB Lily Karlina

Penulis:

bu Loren
Laurensia Moerdaninggar

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s