HIDUP DARI ROTI HIDUP

Hari Minggu Biasa XVIII (4-5 Agustus 2018)

Kel. 16:2-4;12-15;Mzm. 78:3.4bc.23-24.25.54; Ef. 4:17.20-24; Yoh. 6:24-35

Diterbitkan oleh Tim Kerja Kitab Suci – DPP. Santo Yoseph Purwokerto 

“Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi” (Yoh 6:35)

Bapak/Ibu dan Saudara/i terkasih

Komuni PertamaPerhatikan foto disamping. Foto tersebut mengabadikan sebuah peristiwa yang saya yakin Bapak/Ibu/Saudara/i terkasih sudah tahu. Ya… benar itu adalah penerimaan komuni pertama bagi anak-anak kita. Peristiwa tersebut di gereja kita (Santo Yoseph Purwokerto Timur) setiap tahun akan kita saksikan pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Bagi anak-anak kita yang menerima komuni suci untuk pertama kalinya peristiwa tersebut akan menjadi sebuah peristiwa yang mengesankan. Anak-anak kita dan kita yang sudah dibaptis dan menerima komuni pertama selanjutnya setiap mengikuti perayaan ekaristi menerima komuni. Bahkan di antara kita ada yang menerima komuni suci setiap hari.

Bapak/Ibu dan Saudara/i terkasih

Penerimaan komuni setiap perayaan ekaristi adalah jawaban kerinduan kita akan sabda Tuhan : “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi” (Yoh 6:35). Sabda Tuhan ini adalah undangan Tuhan kepada kita untuk menerima roti hidup dan percaya kepada-Nya. Kita menyakini bahwa menerima komuni berarti menerima Tubuh dan Darah Tuhan yaitu Tubuh dan Darah Yesus. Maka menerima komuni sama dengan menerima Yesus sendiri yaitu Sang Roti Hidup.

Dalam Injil Yohanes yang kita dengar hari ini, Yesus menyamakan diriNya dengan roti supaya orang banyak yang datang kepadaNya memahami diriNya dan percaya kepadaNya.  Roti adalah makanan yang sehari-hari yang mereka makan, yang akan dicerna dan meresap di dalam tubuh yang selanjutnya menjadi sumber daya/kekuatan untuk hidup. Untuk seluruh aktivitas tubuh. Seperti halnya makanan, Yesus juga menginginkan supaya mereka percaya padaNya sebagai sumber hidup, sumber keselamatan.  Supaya ajaran-ajaran kasihNya yang datang dari Bapa merasuk dalam sendi-sendi kehidupan, yang menjiwai seluruh kehidupan, yang memberi daya/kekuatan kehidupan, sehingga mencapai puncaknya yaitu kehidupan dan keselamatan kekal.

Bapak/Ibu dan Saudara/i terkasih

Seperti halnya HP yang sudah lowbat, akan segera kita isi lagi.  Demikian halnya dengan menerima komuni, kita diisi, diingatkan dan disegarkan kembali, bahwa Yesus hadir dalam tubuh kita, Yesus telah bersama-sama kita, Yesus telah menyatu dengan tubuh kita.  Dengan demikian sudah seharusnya ucapan dan perilaku kita menyatakan akan kasih-Nya.

Pertanyaan refleksinya adalah “apakah setiap kali kita menerima komuni menjadi sebuah peristiwa yang mengesankan, berarti dan memberi arti dalam hidup kita?”. “Ataukah menerima komuni setiap perayaan ekaristi menjadi sebuah ritual rutin belaka?”.

Bapak/Ibu dan Saudara/i terkasih

Yesus menyatakan diri sebagai roti hidup. Maka dari itu marilah kita hidup dari roti hidup. Hidup dari roti hidup berarti menggantungkan hidup hanya kepada Yesus. Percaya bahwa Yesuslah Tuhan sumber kehidupan jasmani dan kehidupan rohani. Dialah jawaban setiap pergumulan dan persoalan hidup. Menjadikan Dia yang pertama dan paling utama dalam hidup.

Semoga dengan menerima Tubuh dan Darah Yesus melalui komuni suci, kita dimampukan untuk hidup dari Sang Roti Hidup.

Berkah Dalem.

Yulius SP.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s