DEVOSI “SEMBAHYANG TESBEH” DI KALIBAGOR

Yekti agung tresna Yesus Gusti

Karso paring tuladha mring kita

Mbabar pènget mangkéné

Andhap asor satuhu

Lan leladi marang sesami

Dhahar kembul bojana

Pra murid sadarum

Pratanda wujud manunggal

Tansah leladi tumindak jekti becik

Gawé begja pepadha.*)

(digubah oleh RB. Sunarto, 2007)

Belajar taat dan melayani

Kalibagor, 1 Juni 2018. Sekar dhandang gula ini menjadi panglimbang-limbang (renungan) dalam homili romo Kristiadji MSC pada acara misa penutupan bulan Maria di lingkungan Yohanes-Paulus Kalibagor. Kasih Yesus yang begitu besar, menjadi teladan hidup dalam melayani, melakukan kebaikan yang sejati dan membahagiakan sesama. Misa yang bertepatan dengan Pesta Santa Perawan Maria Mengunjungi Elisabet ini diadakan di rumah Bp Harso dan dihadiri oleh sekitar 50 umat.

Bunda Maria dan St. Elisabet adalah dua pribadi yang percaya akan Sabda Tuhan dan bersedia terlibat dalam rencana keselamatanNya, yakni sebagai Bunda Yesus dan bunda Yohanes Pembaptis. Sebagai Ibu, mereka tentu memberikan kasih, pendampingan dan teladan bagi anak-anak mereka. Dari merekalah, Yesus dan Yohanes Pembaptis belajar menjadi abdi Allah yang siap melayani Allah dan sesama.

Yang istimewa di bulan Maria

Ada yang berbeda pada misa kali ini, yang pertama misa mengunakan bahasa Jawa dan yang kedua seluruh umat yang datang berbaju batik dengan rapi. Tentu saja hal ini membawa penghayatan ke dalam misa atau Bojana Ekaristi “rasa tempoe doeloe”. Misa berbahasa Jawa ini menjadi puncak dari rangkaian doa rosario selama bulan Mei yang dikhususkan untuk menghormati Bunda Maria.

Sudah menjadi tradisi bagi kami umat lingkungan Yohanes-Paulus Kalibagor untuk mengisi bulan Maria di Mei dan bulan Rosario di Oktober setiap tahunnya dengan mendaraskan doa rosario selama satu bulan penuh. Tradisi ini sudah berjalan sekitar 13 tahun. Doa dimulai setiap harinya pada pk. 18.00 dengan tempat bergiliran dari rumah ke rumah seluruh umat di lingkungan kami.

Berawal dari kerinduan umat yang kebanyakan berasal dari daerah “wétan” dan untuk “nguri-nguri” budaya Jawa khususnya mengenalkannya kepada anak-anak, pada bulan Maria kali ini umat bersepakat untuk mendaraskan Doa Rosario dengan mengunakan bahasa jawa atau Sembahyang Tesbèh. Rangkaian acara dari pembukaan, nyanyian, doa-doa, bacaan Kitab Suci, renungan dan doa rosario semua dibawakan dengan menggunakan bahasa Jawa. Persiapan sudah dilakukan oleh pengurus lingkungan mulai dari menyiapkan teks doa, teks nyanyian, dan menyiapkan bacaan Kitab Suci yang akan dipakai untuk doa rosario  selama satu bulan.

Awal pembukaan bulan Maria dimulai dengan ibadat sabda yang dipimpin oleh salah seorang prodiakon dan kemudian dilanjutkan dengan sembahyang tesbèh. Ketika untuk pertama kalinya dilakukan dengan menggunakan bahasa Jawa, baik prodiakon maupun umat masih terasa kaku walaupun hanya sekedar membaca. Bahkan untuk doa Sembah Bekti ada yang salah pengucapannya misalkan “nunggil” menjadi “nungging” sehingga umat menahan senyum pada saat berdoa. Adapun ketika pembacaan peristiwa yang dilakukan secara bergantian juga masih ada yang terbata-bata dan salah dalam pengucapannya. Tetapi hal itu tidak menjadi suatu masalah yang besar bahkan dari ke hari umat semakin baik dan luwes dalam mendaraskannya. Umat lingkungan yang berasal dari luar Jawa pun akhirnya menjadi lebih fasih sembahyang tesbèh.

Ternyata tidak hanya masalah pengucapan saja yang menjadi bahan pembelajaran karena ada hal lain yaitu suasana doa rosario yang terasa lebih tenang dan “nyes” dalam penghayatan menyebabkan beberapa umat merasa mengantuk bahkan ada yang tertidur pulas dan mendengkur ketika sembahyang tesbèh sedang didaraskan.

Berbuah dalam kehidupan nyata

Sembahyang tesbèh yang dilakukan setiap hari dari tgl. 1 Mei s/d 31 Mei 2018 dan diikuti 30-40 umat setiap harinya sudah menampakkan buahnya. Sekarang rata-rata umat bukan hanya lancar tetapi sudah hafal doa Sembah Bekti, Kawula Pitados, Rama Kawula, Mugi Linuhurna, dan Pinujia Asma Dalem, juga adanya remaja yang berani tampil untuk memandu dan anak usia PIA berani membacakan peristiwa. Tentu saja ini sangat membantu dalam penghayatan umat memasuki misteri keselamatan Tuhan Yesus Kristus.

Buah sembahyang tesbèh dalam kehidupan sehari-hari juga dapat dirasakan. Umat lingkungan menjadi semakin akrab, saling mengenal, diteguhkan dalam iman dan makin bertumbuh dalam semangat saling melayani.

Itulah sedikit cerita tentang tradisi berdoa rosario di lingkungan Yohanes-Paulus, stasi St. Lukas Sokaraja. Harapannya kehidupan doa yang sudah baik ini juga disertai dengan tindakan konkrit umat untuk ikut terlibat di dalam kegiatan menggereja maupun bermasyarakat.

Dewi Maria, Ibuning Allah, kawula tiyang dosa sami nyuwun pangèstu dalem, samangké tuwin bénjing dumugining pejah. Amin. (Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami orang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin). Terimakasih Bunda Maria. Bunda selalu di hati kami. Per Mariam Ad Jesum.

Penulis:

Beny Santoso
Beny Santoso

 

 

 

 

 

*)Terjemahan:
Sungguh besar kasih Yesus
Sudi beri teladan untuk kita
Memberi peringatan seperti ini
Rendah hati yang sungguh
dan melayani sesama
Makan perjamuan, para murid semua
Tanda kesatuan
Selalu melayani, melakukan kebaikan yang sejati
Membahagiakan sesama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s