JALAN SALIB BERSAMA BUNDA MARIA

“Apakah Jalan Salib adalah jalan hidup setiap orang?

Bukankah setiap kehidupan memiliki penderitaan, luka-luka, penolakan, kematian, penguburan…. dan kebangkitan?

Bersama Maria mengenang sengsara Kristus

Purwokerto, Kamis, 31 Mei 2018. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.45 ketika berbagai persiapan menjelang dimulainya Jalan Salib dilakukan di halaman belakang Gereja. Ya, tempat di luar gedung kami pilih untuk mendapatkan suasana lain yang lebih terasa dekat dengan alam. Cuaca yang masih terasa hangat dan udara yang semilir menambah suasana yang benar-benar mendukung.

Tepat pukul 18.00 Ibadat Jalan Salib pun dimulai. Petugas yang memimpin dari Prodiakon.  Ada 15 perhentian dan setiap perhentian ditandai dengan gambar yang mengisahkan berbagai macam keadaan atau “perhentian” dalam Sengsara dan Wafat Yesus. Gambar diikatkan pada tiang yang dibawa oleh 1 (satu) orang misdinar, dan 1 (satu) orang misdinar lagi memegang lilin. Demikianlah setiap titik perhentian ini ada dua petugas yang dipilih dari wakil lingkungan-lingkungan, bertugas membacakan kisah dan ungkapan Bunda Maria yang ikut merasakan penderitaan Yesus.

Sekilas tentang Devosi Jalan Salib

Untuk mengenang kisah sengsara Tuhan Yesus, Gereja menetapkan penyelenggaraan ibadat Jalan Salib, sebagai salah satu devosi. Tata cara ibadat untuk mengenang kisah sengsara Tuhan Yesus Kristus sebagaimana yang kita ketahui dan jalankan sampai dengan saat ini, sudah ada sejak abad ke14. Fransiskus dari Asisi telah memopulerkan Jalan Sengsara Yesus yang masing-masing dilambangkan dengan buaian dan salib. Devosi ini kemudian merebak ke setiap Gereja dengan membuat pemberhentian-pemberhentian atau stasi kecil di dalam Gereja. Kemudian Paus Clement XII (1730-1740) menetapkan 14 pemberhentian atau stasi pada Jalan Salib. Dan ke 14 pemberhentian inilah yang sampai kini diterapkan oleh Umat Katholik. (Relasi; 9 Maret  2013)

Dalam perjalanan waktu, renungan jalan salib terus berkembang. Salah satunya adalah Jalan Salib Maria. Dalam renungan jalan salib Maria, renungan berbeda dengan yang lain. Dalam hal ini permenungan diaktualkan dari sudut pandang seorang ibu, Bunda Maria: bagaimana perasaan, sikap dan ungkapan batin Maria, Sang Bunda dalam mendampingi putra yang dicintainya berjalan dalam penderitaan dan hinaan, sampai dengan wafat di kayu salib; bagaimana seorang ibu bersimpati dan berempati saat Sang Putera sedang mengalami kesakitan, kehinaan yang paling dalam dan dipermalukan luar biasa. Renungan jalan salib ini kemudian diberi nama Jalan Salib Maria.

Tim Liturgi Paroki Santo Yoseph Purwokerto, dalam hal ini sebagai penyelenggara, menangkap waktu penutupan bulan Maria dalam bulan Mei ini sebagai saat yang tepat untuk lebih mengenalkan Devosi Jalan Salib Bersama Bunda Maria ini kepada seluruh umat beriman. Maka pada Kamis, 31 Mei 2018 ini diadakanlah : “Jalan Salib Bersama Bunda Maria”.

Mengapa ada 15 perhentian?

Dalam Jalan Salib Bersama Bunda Maria, ada 15 perhentian. Mengapa? Karena melihat dan meneladani kesetiaan Bunda Maria, yang menemani Yesus tidak hanya sampai Yesus dimakamkan tetapi sampai Yesus bangkit. Di perhentian ke 15 Bunda Maria bersyukur karena pengorbanan Yesus Sang Putera untuk kita semua. Bunda Maria merasa hampa selama dua hari tanpa Yesus, tetapi kemudian kehampaan itu terisi kembali di luar jangkauan iman. Ia telah bangkit!

Perhentian demi perhentian dilalui dengan penuh hikmat. Hampir setiap umat terlihat sangat antusias dan setiap membaca ungkapan Maria terasa haru dan ‘trenyuh’. Dan iring-iringan pun akhirnya menuju ke perhentian terakhir di depan pintu utama Gereja, setelah itu dilanjutkan dengan Misa Penutupan Bulan Maria di dalam Gereja.

Kesan-kesan Umat

Ibu Elli dari Lingkungan Stefanus memberi kesannya, bahwa ini adalah Jalan Salib terindah pertama yang pernah beliau ikuti di Paroki Santo Yoseph. Berbeda karena susunan perhentian dalam Jalan Salib Maria berbeda dari biasanya, membuat perjalanan Salib itu lebih berkesan dan umat terasa ikut hanyut dalam peristiwa Jalan Salib tersebut.

Terima kasih disampaikan Mas Junaedi (Lingkungan Ignatius) kepada Paroki Santo Yoseph yang telah menyelenggarakan Jalan Salib bersama Maria. “Hal baru buat saya, untuk lebih memaknai penderitaan seorang Ibu saat menemani anaknya melalui kisah sengsara.”

Pak Yohanes Purwanto dari Lingkungan Santo Fransiskus Xaverius, terkesan pada umat yang hadir. “Luar biasa, di luar dugaan, yang semula saya khawatir yang hadir tidak banyak, ternyata luar biasa. Hampir semua bangku terisi.” Suasana selama Jalan Salib pun terasa khusuk dan umat bisa ikut merasakan penderitaan Maria.

Sedangkan Bu Rita dari Lingkungan Santo Yakobus terkesan karena dirinya ikut terbawa suasana dan bisa merasakan penderitaan Bunda Maria yang sedang mengikuti Puteranya yang sedang didera. Betapa sedihnya, tetapi Sang Bunda hanya mampu mengikutinya dan berdoa.

Demikianlah perjalanan Salib bersama Maria yang telah dilaksanakan di hari terakhir bulan Mei ini, sekaligus sebagai Penutupan Bulan Maria. Semoga devosi ini membawa kesan yang baik dan menjadi semangat baru bagi umat beriman di Paroki Santo Yoseph.

Tuhan Memberkati.

Penulis,

Asih Prabayanti
Baptista Varani Asih Prabayanti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s